BUDIDAYA TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima)

BAB I

 PENDAHULUAN

 

 A.     Latar Belakang

Indonesia memiliki potensi laut yang sangat besar dalam usaha budidaya. Potensi ini di dukung oleh tersediannya bahan dasar yang cukup banyak, persyaratan lingkungan yang baik, serta kondisi musim yang menguntungkan untuk berbagai jenis komoditas laut yang akan dibudidayakan. Sala satu potensi laut dari non ikan yang dapat di budidayakan adalah tiram mutiara (Pinctada maxima) yang pada intinya akan menghasilkan mutiara. Allah SWT telah berfirman dalam (Surat An-Nahl : 14) artinya : Dan Dia Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur. Dan Allah berfirman pada surat (Fatir : 12) artinya : Dan tiada sama (antara) dua lautan, yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asing lagi pahit.

Di Indonesia kegiatan budidaya tiram mutiara sudah cukup lama berkembang. Bahkan sampai pada saat ini ada lebih 65 perusahan, baik dalam bentuk modal asing maupun dalam bentuk modal dalam negeri. Tuntutan utama dalam budidaya mutiara adalah tersedianya tiram mutiara ukuran operasi dalam jumlah yang cukup, tepat waktu, dan berkesenambungan. Namun, keuntungan penyediaan tiram tidak mungkin hanya mengandalkan hasil penyelaman di alam, apalagi hasil penyelaman di alam sangat fluktuatif, tergantung musim, dan ukurannya tidak seragam. Mutiara yang ukurannya di bawah standar harus dipelihara sampai besar sehingga diperlukan waktu dan tambahan biaya yang tidak sedikit.

Menghadapi situasi yang demikian sangat perlu diusahakan kegiatan yang mengarah pada kegiatan penyediaan benih melalui pembenihan buatan di hatchery. Sehingga dapat menjadi suatu unit budidaya tiram yang akan menghasilkan produksi mutiara yang jauh lebih besar. Akibat dari keterbatasan ini maka dalam usaha budidaya tiram mutiara, perlu melakukan kegiatan untuk mempelajari sifat dan kebiasan hidup tiram mutiara, baik dari persyaratan lingkungan pemeliharaan, metode atau cara pemeliharaan dan peralatan yang digunakan untuk memproduksi mutiara yang berkualitas. Mengingat lokasi budidaya di laut yang dipengaruhi oleh alam dan sekitarnya, sehingga membudidayakan tiram mutiara haruslah menyesuaikan dengan kondisi alam atau perairan sekitarnya sebagai tempat hidupnya dengan kehidupan biologis dan fisiologis dari tiram mutiara yang dipelihara, dengan tujuan agar tiram hidup dengan baik.

Salah satu kendala dalam mengembangkan usaha budidaya tiram mutiara untuk menghasilkan mutiara bulat di Indonesia adalah umunya teknologi budidaya masih di kuasai oleh tenaga kerja asing, terutama Jepang dan sangat sedikit atau terbatas tenaga ahli dari Indonesia. Perusahan Swasta maupun Nasional yang mengembangkan budidaya tiram mutiara masih mengandalkan tenaga ahli dari Jepang/asing.

Di daerah Maluku sampai saat ini terdapat perkembangan yang pesat dalam pembudidayaan tiram mutiara. Tiram ini merupakan salah satu produksi perikanan yang penting yang dapat dibudidayakan bukan semata-mata untuk pengambilan dagingnya sebagai bahan makanan direstoran, akan tetapi yang lebih diutamakan adalah pengambilan mutiara yang terdapat didalamnya. Bisa berasal dari mutiara alam (preparat yang tidak sengaja masuk kedalamnya), atau mutiara buatan (preparat yang sengaja dimasukkan/dioperasikan kedalam cangkang mutiara tersebut). Disamping itu kulitnyapun dapat dipasarkan ke luar negeri.

Sampai saat ini di daerah maluku terdapat 5 perusahaan yang bergerak dalam bidang budidaya tiram mutiara di laut :

1. PT. Maluku Pearl Development dengan lokasi kepulauan Aru

2. PT. Maney Southern Pearl dengan lokasi kepulauan Aru

3. CV. Duta Aru Indah dengan lokasi Pulau Obi, Bacan

4. CV . Chrisna Pearl dengan lokasi kepulauan Aru

5. CV. Dobo Pearl dengan lokasi kepulauan Aru.

Dilihat dari data tersebut di atas dapat digambarkan bahwa lokasi kepulauan Aru merupakan daerah yang cocok dan sesuai untuk kegiatan budidaya tiram mutiara di daerah Maluku Tenggara, sedangkan di daerah Maluku Utara terdapat di pulau Bacan dan Kecematan Kao, Halmahera. Untuk urutan 1 sampai 3 tujuan usahanya adalah pengambilan mutiaranya sedangkan urutan 4 dan 5 tujuan budidaya tiram ini adalah untuk pengambilan kulitnya saja sebagai komoditi ekspor.

CV. Duta Aru Indah Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara merupakan salah satu industri yang bergerak di bidang perikanan yang mempunyai unit usaha pebenihan tiram mutiara (Pinctada maxima). Unit pembenihan tiram mutiara memanfaatkan beberapa jenis phytoplankton sebagai pakan larva tiram mutiara. Mengingat jenis dan jumlah pakan alami yang tersedia di alam kurang mencukupi maka diperlukan teknik yang baik untuk mengkultur phytoplankton pada skala laboratorium (kultur murni) maupun semi masal. Tujuannya adalah untuk memenuhi pakan alami yang mencukupi baik kualitas maupun kwantitas bagi larva tiram mutiara sehingga mendukung keberhasilan usaha pembenihan. Oleh karena itu, penulis mengambil judul  “Teknik dan Manajemen Budidaya Tiram Mutiara (Pinctada maxima)” di “CV. Duta Aru Indah” Pulau Obi Halmahera Selatan Maluku Utara.

B. Tujuan

Tujuan dari pelaksanaan Magang industri ini adalah :

  1. Untuk memenuhi persyaratan akademik.
  2. Untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh selama kuliah tahun pertama.
  3. Dapat mengetahui aspek teknis budidaya tiram mutiara (Pinctada maxima) secara umum dan mengetahui teknik pemasangan inti mutiara bulat untuk menghasilkan mutiara bulat.
  4. Dapat mengetahui metode pembuatan sarana budidaya.
  5. Mampu mengidentifikasi dan menelaah fungsi-fungsi manajemen budidaya tiram mutiara (Pinctada maxima) di lokasi praktek.
  6. Mengetahui jenis dan teknik kultur pakan alami skala murni dan semi massal phytoplankton yang digunakan sebagai pakan larva tiram mutiara.
  7. Mampu mengidentifikasi kendala-kendala yang dihadapi dalam usaha budidaya tiram mutiara di lokasi praktek. Baik dalam manajemen lingkungan maupun dalam penanganan budidaya.

 

C. Sasaran.

Sasaran dalam pelaksanaan magang industri budidaya tiram mutiara ini antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Dapat mengetahui aspek teknis yang di terapkan dalam kultur murni dan semi masal phytoplankton untuk pakan larva tiram mutiara.
  2. Mengetahui teknik pembenihan tiram mutiara serta kendala yang dihadapi dalam usaha pemeliharaan dilokasi budidaya.
  3. Mengetahui proses atau teknik operasi pemeliharaan tiram mutiara (Pinctada maxima) dari penanganan pembesaran (tiram sebelum operasi), pelaksanaan operasi, pasca operasi pemasangan inti mutiara bulat dan pelaksanaan pemanenan.

 

 

 

 

 

 

BAB  II

 TINJAUAN PUSTAKA

 

 A.     Mengenal Tiram Mutiara (Pinctada maxima)

             Mengetahui tentang biologi reproduksi tiram mutiara sangat dibutuhkan untuk mengembangkan industri budidaya. Pengetahuan ini dapat digunakan untuk mengembangkan teknik pembenihan dan perbaikan teknik penempatan inti mutiara bulat. Selain itu, dapat mengenal jenis tiram mutiara yang berkualitas baik, memahami siklus serta reproduksi dari tiram mutiara (Pinctada maxima) tersebut.

       1. Klasifikasi

Tiram mutiara termasuk dalam phylum mollusca, phylum ini terdiri atas 6 klas yaitu: Monoplancohora, Amphineura, Gastropoda, Lamellibrachiata, atau Pellecypoda, seaphopoda, dan Cephalopoda (Mulyanto, 1987). Tiram merupakan hewan yang mempunyai cangkang yang sangat keras dan tidak simetris. Hewan ini tidak bertulang belakang dan bertubuh lunak (Philum mollusca).

Klasifikasi tiram mutiara menurut mulyanto (1987) dan Sutaman(1993) adalah sebagai berikut :

Kingdom          : Animalia

Sub kingdom    : Invertebrata

Philum              : Mollusca

Klas                 : Pellecypoda

Ordo                : Anysomyaria

Famili               : Pteridae

Genus               : Pinctada

Spesies : Pinctada maxima (Jameson 1901)

Menurut Dwiponggo (1976), jenis-jenis tiram mutiara yang terdapat di Indonesia adalah: Pintada maxima, Pinctada margaritefera, Pinctada fucata, Pinctada chimnitzii, dan Pteria penguin. Di beberapa daerah Pinctada fucata dikenal juga sebagai Pinctada martensii. Sebagai penghasil mutiara terpenting adalah tiga spesies, yaitu,  Pinctada maxima, Pinctada margaritifera dan Pinctada martensii. Sebagai jenis yang ukuran terbesar adalah Pinctada maxima. Untuk membedakan jenis tiram mutiara tersebut, perlu dilakukan pengamatan morfologi, seperti warna cangkang dan cangkang bagian dalam (Nacre), ukuran serta bentuk:

Tabel 1. Perbandingan dari tiga jenis Pinctada penghasil mutiara yang terpenting

SIFAT-SIFAT

P. Martensii P. Margaritifera P. Maxima

Ukuran

Dewasa Penuh 4 inchi 7 inchi 12 inchi
Rata-rata 3 inchi 6 inchi 8 inchi

Cangkang

Kecembungan Cembung Agak cembung Rata
Warna Luar Abu-abu kuning Coklat kehijauan Coklat kuning
Garis Cangkang k. 1.7 coklat ungu Baris titik-titik Pucat hanya suatu jejak

Nacre (interior)

Nacre Perak kehijauan Warna baja Putih perak
Pinggiran Jingga kuning Hijau metalik Kuning emas
Garis engsel Panjangnya Sedang Pendek Sedang
Berat 60-100 cangkang tiap kan 15 cangkang tiap kan 9-10 cangkang tiap kan

Sumber:  Forek Indonesia 2001-2004. Catatan : 1 kan = 8,267 pon

1 kg = 2,205 pon

        2. Morfologi

Kulit mutiara  (Pinctada  maxima)  ditutupi oleh sepasang kulit tiram (Shell, cangkan), yang tidak sama bentuknya, kulit sebelah kanan agak pipih, sedangkan kulit sebelah kiri  agak cembung. Specie ini mempunyai diameter dorsal-ventral dan anterior-posterior hampir sama  sehingga bentuknya agak bundar. Bagian dorsal bentuk datar dan panjang semacam engsel berwarna hitam. Yang berfungsi untuk membuka dan menutup cangkang. (Winarto, 2004).

Cangkang tersusun dari  zat kapur yang dikeluarkan oleh epithel luar. Sel epitel luar ini juga menghasilkan kristal  kalsium karbonat (Ca CO3) dalam bentuk kristal argonit yang lebih dikenal sebagai nacre dan kristal heksagonal kalsit  yang merupakan pembentuk lapisan seperti prisma pada cangkang.

 

        3. Anatomi.

            Tubuh tiram mutiara terbagi atas  tiga  bagian yaitu : Bagian kaki, mantel, dan organ dalam. Kaki merupakan salah satu bagian tubuh yang bersifat  elastis terdiri dari susunan jaringan otot yang dapat merenggang/memanjang sampai tiga kali dari keadaan normal. Kaki ini berfungsi sebagai alat bergerak hanya pada masa mudanya sebelum hidup menetap pada substrat (Mulyanto,1987) dan juga sebagai alat pembersih. Pada bagian kaki terdapat bysus, yaitu suatu bagian tubuh yang bentuknya seperti rambut atau serat, berwarna hitam dan berfungsi sebagai alat untuk menempel pada suatu substrat yang di sukai.

 

Gambar 1. Anatomi tiram mutiara (Pinctada maxima)

Keterangan gambar :

  1. Gonad                                                        5. Inti
  2. Hati                                                            6. Mantel
  3. Perut                                                          7. Otot adductor
  4. Kaki                                                           8. Otot refractor

B. Siklus Hidup dan Reproduksi

Tiram mutiara mempunyai jenis kalamin terpisah, kecuali pada beberapa kasus tertentu ditemukan sejumlah individu hermaprodit terjadi perubahan sel kelamin (sel reversal) biasanya terjadi pada sejumlah individu setelah memijah atau pada fase awal perkembangan gonad. Fenomena sex reversal pada tiram mutiara (Pinctada maxima) menunjukan bahwa jenis kelamin pada tiram teryata tidak tetap.

Bentuk gonad tebal menggembung pada kondisi matang penuh, gonat menutupi organ dalam (seperti perut, hati, dan lain-lain). Kecuali bagian kaki pada fase awal, gonad jantan dan betina secara eksternal sangat sulit dibedakan, keduanya berwarna krem kekuningan. Namun, setelah fase matang penuh, gonad tiram mutiara (Pinctada maxima) jantan berwarna putih krem, sedangkan betina berwarna kuning tua. Pada  tiram Pinctada fucata  warna gonad ini terjadi sebaliknya.

Menurut Winanto (2004) bahwa, Tingkat kematangan gonad tiram mutiara dikelompokkan menjadi 5 fase yaitu :

  • Fase I : Tahap tidak aktif/salin/istrahat (Inactife/spent/resting)

Kondisi gonad mengecil dan bening transparan dalam beberapa kasus, gonad berwarna oranye pucat. Rongga kosong, sel berwarna kekuningan (lemak). Pada fase ini sangat sulit untuk dibedakan.

  • fase II : Perkembangan/pematangan (Developing/maturing)

Warna transparan hanya terdapat pada bagian tertentu, material gametogenetik (sel kelamin) mulai ada dalam gonad sampai mencapai fase lanjut, gonad mulai menyebar di sepanjang bagian posterior disekitar otot refraktor dan lebih jelas lagi dibagian anterior-dorsal. Gamet mulai berkembang disepanjang dinding katong gonad. Sebagian besar oocyt (bakal telur) bentuknya belum beraturan dan inti belum ada. Ukuran rata-rata oocyt 60 μm x  47,5 μm.

  • Fase III : Matang (Mature)

Gonad tersebar merata hampir keseluruh jaringan organ, biasanya berwarna krem kekuningan. Oocyt berbentuk seperti buah pir dengan ukuran 68 x 50 μm dan inti berukuran  25 μm.

  • Fase IV : Matang penuh/memijah sebagian (Fully maturation/partially spawned)

Gonad menggembung, tersebar merata dan secara konsisten akan keluar dengan sendirinya atau jika ada sedikit-sedikit trigger (getaran). oosyt bebas dan terdapat diseluruh dinding kantong. Hampir semua oosyt berbentuk bulat dan berinti, ukuran oosyt rata-rata 51,7 μm.

  • Fase V : Salin (Spent)

Bagian permukaan gonad mulai menyusut dan mengerut dengan sedikit gonad (kelebihan gamet) tertinggal didalam lumen (saluran-saluran didalam organ reproduksi) pada kantong. Jika ada oosyt maka jumlahnya hanya sedikit dan bentuknya bulat, ukuran rata-rata oosyt 54,4 μm.

Hasil pengamatan terhadap fase kematangan gonad dan musim pemijahan Pinctada maxima di teluk Hurun, Lampung dari tahun 1996-2002 menunjukan bahwa kematangan gonad terjadi setiap bulan. Namun, fase kematangan gonad penuh (FKG IV) hanya terjadi pada bulan Maret, Mei, dan Agustus-November. Gonad masa istrahat terjadi pada bulan Desember. Fase I dan II terjadi hampir sepanjang tahun. Selama 7 tahun pengamatan, terutama pada bulan April dan Juni, perkembangan gonad tertinggi hanya sampai FKG II. Sementara FKG III terjadi pad bulan Januari-Maret dan Juni-Desember (Winanto, 2004).

Pada musim tertentu, induk tiram mutiara di alam yang telah dewasa akan bertelur. Kemudian, telur-telur tersebut akan di buahi oleh sel kelamin jantan (sperma). Pembuhan terjadi secara eksternal didalam air. Telur yang telah di buahi akan mengalami perubahan bentuk. Mula-mula terjadi penonjolan polar, lalu membentuk polar lobe II yang merupakan awal proses pembelahan sel, dan akhirnya menjadi multisel. Tahap berikutnya adalah fase trocofor. Dengan bantuan bulu-bulu getar, trocofor akan berkembang menjadi veliger (larva berbentuk D) yang ditandai dengan tumbuhnya organ mulut dan pencernaan. Pada tahap ini larva sudah mulai makan dan tubuhnya telah di tutupi cangkang tipis. Perkembangan selanjutnya adalah tumbuh vilum, pada fase ini biasanya larva sangat sensitif terhadap cahaya dan sering dipermukaan air. Selama fase planktonis, larva biasanya berenang dengan menggunakan bulu-bulu getar atau hanyut dalam arus air.

Dengan tumbuhnya vilum larva memasuki stadia umbo, kemudian secara bertahap cangkang juga ikut berkembang. Bentuk cangkangnya sama mantel sudah berfungsi secara permanen. Kemudian selanjutnya menjadi podifeliger yang di ikuti tumbuhnya kaki sebagai akhir stadium planktonis. Gerakan-gerakannya sederhana dari berenang sampai berputar-putar dilakukan dengan vilum dan kaki. Setelah kaki berfungsi dengan baik velum akan menghilang, lembar-lembar insang mulai tampak jelas. Perkembangan akhir larva yaitu perubahan fase plantigrade menjadi spat (bibit) dan akan menetap. Selanjutnya akan tumbuh berkembang menjadi tiram mutiara dewasa dan dapat beruba kelaminnya. Banyak ahli yang sependapat bahwa  Pinctada maxima terjadi perubahan kelamin yang bertepatan dengan musim pemijahan setelah telur atau sperma habis di seburkan keluar, (Mulyanto, 1987).

C. Teknik Produksi      

            Dalam kegiatan untuk memproduksi spat dapat dimulai jika semua sarana operasional telah tersedia, terutama pakan hidup dan induk. Hal ini yang perlu disiapkan lebih dahulu jauh hari sebelum pembangunan fisik dimulai. Kegiatan pembenihan ini diawali dengan kultur pakan hidup, dalam arti bahwa jumlah pakan yang dikulturkan harus cukup untuk pakan induk, larva, dan spat. Kegiatan selanjutnya adalah seleksi induk, pemijahan, pemeliharaan larva, pemeliharaan spat, dan pendederan.

        1. Seleksi induk

Dalam kegiatan seleksi induk tiram mutiara dapat dilakukan di atas rakit apung di laut atau di laboratorium. Induk-induk yang akan diseleksi dengan posisi berdiri atau bagian dorsal di bawah. Kemudian, biasanya induk akan membuka cangkang karena kekurangan oksigen. Proses pembukaan cangkang hendaknya jangan dipaksakan karena dapat menyebabkan cangkang pecah. Setelah cangkang terbuka sebagian , segera digunakan alat pembuka cangkang (shell opener) agar cangkang terbuka. Selanjutnya, pada cangkang segera dipasang baji dari kayu sebagai pangganjal agar cangkang tetap terbuka sebagian.

Untuk melihat posisi gonad, digunakan alat spatula. Dengan spatula, insang di sibakkan sehingga posisi gonad dapat terlihat dengan jelas dan secara visual tingkat kematangan dapat diketahui. Secara morfologi, tiram mutiara dewasa dan telah mencapai matang gonad penuh yaitu (fase IV) dapat diketahui, dengan kondisi gonad adalah seluruh permukaan organ bagian dalam tertutup oleh gonad, kecuali bagian kaki (Winanto et al., 2002).

Klasifikasi tiram mutiara yang memenuhi syarat untuk dijadikan induk berukuran antara 17-20 cm (DVM). Persyaratan yang paling penting adalah tingkat kematangan gonad. Induk yang berasal dari hatchery, khususnya induk jantan, ada kalanya berukuran 15 cm (DVM) sudah matang gonad penuh. Induk-induk yang sudah diseleksi atau sudah memenuhi syarat segera dibawa ke laboratorium untuk dipijahkan.

Pengelolaan induk di laboratorium dalam kondisi terkendali telah dilakukan oleh para ahli. Para ahli tersebut memelihara induk Pinctada maxima di laboratorium dilakukan di dalam bak fiberglass kapasitas 1 ton. Selama pemeliharaan digunakan sistem air mengalir dan diberi pakan tambahan  fitoplankton. Aplikasi pakan hidup diberikan dengan variasi komposisi Isocrysis galbana dan atau Pavlova luthri dengan Tetraselmis tetrathele atau Chaetoceros sp. dengan perbandingan 1:1. jumlah pakan yang diberikan antara 25.000- 30.000 sel/cc/hari.

 

        2. Pemijahan

Pemijahan tiram mutiara secara alami sering terjadi pada tiram yang telah dewasa. Dalam kondisi gonad matang penuh, tiram akan segera memijah jika terjadi perubahan lingkungan perairan walaupun sedikit. Kemungkinan lain adalah shock mekanik yang terjadi karena perlakuan kasar pada saat cangkang dibersihkan atau akibat perbedaan tekanan. Lalu dibawah ke tempat budidaya yang relatif dangkal sehingga memacu tiram untuk memijah.

Menurut Winanto (2004) rekayasa pemijahan perlu dilakukan jika secara alami tiram tidak mau memijah di dalam bak pemijahan. Ada dua metode yang digunakan dalam perlakuan pemijahan, yaitu metode manipulasi lingkungan dan metode rangsangan kimia.

  1. a.       Metode manipulasi Lingkungan

Metode pertama manipulasi lingkungan yang biasa di gunakan dan resiko kegagalannya relatif kecil adalah metode kejut suhu (thermal shock), fluktuasi suhu, dan ekspose. Metode kejut suhu dilakukan dengan cara, jika suhu air di tempat pemijahan mulanya sekitar 28­ºC di tinggikan menjadi 35ºC, ini di naikkan secara bertahap dengan bantuan alat pemanas (heater). Induk-induk akan memijah setelah 60-90 menit dari perlakuan. Biasanya yang lebih dulu memijah adalah induk jantan dan di susul oleh induk betina. Sperma yang keluar seperti asap berwarna putih.

Metode yang ke dua adalah fluktuasi suhu, jika suhu awal tempat pemijahan sekitar  28­ºC di tinggikan menjadi 33-45­ºC . jika induk belum memijah setelah 60-90 menit maka suhu di turunkan kembali ke suhu awal, perlakuan ini di lakukan terus-menerus sampai induk memijah.

Metode yang ketiga yaitu metode ekspose juga sering di lakukan dan ada kalanya di kombinasikan dengan metode kejut suhu. Induk di letakkan di tempat teduh, lalu di biarkan selama 30-45 menit, pada kondisi tertentu, misalnya induk belum mencapai fase matang gonad (fase III) maka perlu di lakukan ekspose lebih lama, bisa mencapai 1-2 jam. Setelah masa ekspose, induk di kembalikan lagi ke tempat bak pemijahan. Pada kasus ini bisa di kombinasi antara metode ekspose dengan metode kejut suhu atau fluktuasi suhu.

  1. b.       Rangsangan kimia

Dalam pemijahan dengan menggunakan bahan kimia juga sering di lakukan, tetapi hasil pembuahan (fertilisasi) biasannya kurang baik. Seperti halnya manipulasi lingkungan, dengan bahan kimia juga bertujuan untuk merubah lingkungan mikro tempat pemijahan. Secara ekstrim bahan kimia dapat dengan segera merubah lingkungan pH air menjadi asam atau basa, yamg bertujuan memberikan shock fisiologis pada induk sehingga terpaksa mengeluarkan sel-sel gonadnya (Winanto, 2004). Jenis bahan kimia yang umum di gunakan antara lain hydrogen peroksida (H2O2), natrium hidroksida (NaOH), ammonium hidroksida (NH4OH), amoniak (NH4), dan larutan tris (trace buffer).

 

Tabel 2. Perkembangan Pinctada maxima setelah telur di buahi.

Waktu setelah

Pembuahan

Temperature air (ºC)

Perkembangan

15 menit 28 Penonjolan polar body I
25 menit 28 Penonjolan polar body II
40 menit 9 Penonjolan polar lobe I, permulaan cleavage
45 menit 30 Stage 2 sel
1 jam 30 Stage 4 sel
1½ jam-3 jam 28-30 Stage 8 sel
2½ jam-3½ jam 27-30 Stage morula
3½ jam-4 jam 27-31 Blastula mulai megadakan rotasi

permulaan gastrula5½ jam28-30Perkembangan flagelata apical7½ jam28-30Kulit tiram hampir menutupi tubuh18½ jam-19 jam26-30 (D shape)

D. Kultur Phytoplankton

Pakan alami untuk tiram mutiara yaitu jenis-jenis flagelata berukuran ≤ 10 µ. Beberapa jenis mikroalga yang umum di berikan untuk larva tiram mutiara yaitu : Isocrysis galbana, Pavlova lutheri, Chaetocheros. Sp, Nannoclorophysis. Sp, dan Tetraselmis chuii.

Pemeliharaan pakan alami ini dilakukan secara bertahap, hal ini untuk menjaga kualitas, kuantitas serta kemurnian pakan alami tersebut. Yang dilakukan dengan menggunakan media agar, setelah terbentuk koloni baru dipindahkan  ke dalam tabung reaksi. Secara bertahap, koleksi, isolasi dan perbanyakan meliputi kultur murni, semi masal dan masal (Winanto, 2004). Air laut yang digunakan sebagai media pemeliharaan harus melewati saringan ukuran mikro dan saringan kapas, selanjutnya disterilisasi dengan Autoclav. Komposisi pupuk yang di gunakan adalah sebagai berikut :

Tabel 3. Komposisi pupuk untuk kultur plankton.

No Jenis pupuk Dosis (conway) Dosis (guillard)
1 EDTA 45 gram 10 gram
2 NaH2­­­PO42H2O 20 gram 10 gram
3 FeCI36H2O 1,5 gram 2,9 gram
4 H3BO3 33,6 gram 3,6 gram
5 MnCI2 0,36 gram
6 NaNO3 100 gram 3,6 gram
7 Na2SiO39H2O 100 gram
8 Trace Matel Solution 1 ml 5 gram/30 ml
9 Vitamin 1 ml 1 ml
10 Aquades sampar 1000 ml 1000 ml

Sumber : Ditjenkan, 2002

Makanan utama larva tiram mutiara adalah jenis alga Isocrysis galbana dan Monocrysis lutheri, sehingga pakan ini perlu disiapkan sebagai makanan awal dari larva dan harus dilakukan tiga hari sebelum larva menetas.

 

        1. Kultur murni

Kultur murni pada skala laboratorium dapat menggunakan pupuk atau media Guillard Conway. Pemeliharaan plankton pada skala laboratorium dilakukan secara bertahap. Hal ini untuk menjaga kemurnian dan kualitas stok.

Untuk kultur murni dapat digunakan cawan Petri dengan media agar. Setelah berbentuk koloni, diamati dengan mikroskop untuk mengetahui apakah terjadi kontaminsi dengan jenis lain atau tidak. Jika masih terkontaminasi maka harus dilakukan pemurnian ulang sehingga didapatkan koloni satu spesies atau jenis Phytoplankton yang diinginkan selanjutnya, dilakukan pemindahan untuk di ukur dalam tabung reaksi dengan menggunakan tabung reaksi Ose.

Inokulum di dalam tabung reaksi dapat diperbanyak secara bertahap sampai mencapai pertumbuhan puncak (blooming). Mulai dipelihara 100 cc, kemudian diperbanyak lagi ke 200 cc, 300 cc, 500 cc dan 1000 cc. Lama pemeliharaan tergantung pada jenis dan tingkat kepadatan inokulum. Jika tujuan kultur untuk stok dan mempertahankan kemurnian, dapat dilakukan kultur tanpa pengudaraan selama 2-3 bulan untuk menghindari kemungkinan terjadinya kontaminasi. Pada skala laboratorium jenis Isocrysis galbanai dan Pavlova lutheri  dapat dipelihara 5-10 hari dan Chaetoseros sp dapat dipelihara selama 5-12 hari.

Pemeliharaan berikut masih dalam skala laboratorium pada volume 3-5 liter dengan waktu pemeliharaan 5-7 hari untuk Isocrysis galbana 4-6 hari untuk Chaetoceros sedangkan untuk Pavlova lutheri sama dengan Isocrysis galbana. Kultur skala laboratorium ini dimaksudkan untuk menyediakan inokulum untuk pembenihan skala semi-masal atau skala 30-80 liter.

 

        2. Kultur semi masal

Pada prinsipnya kultur semi masal dan masal sama dengan kultur dalam skala laboratorium, hanya volumenya lebih besar. Untuk kultur semi masal dan masal, air laut yang digunakan cukup disaring dengan kantong saringan 60-80 mikron. Setelah media air laut disiapkan pupuk dimasukan kemudian diaduk secara merata atau diberi pengudaraan. Setelah itu, bibit dimasukan ke dalam media.

Untuk jenis Isocrysis galbana dan Pavlova luthery yang dipelihara dalam skala laboratorium dan semi masal akan capai kepadatan optimum setelah 4-6 hari. Kepadatan plankto yang baik diberikan sebagai pakan, biasanya pada fase pertumbuhan optimum, awal fase pertumbuhan tetap, atau setelah mencapai kepadatan optimum. Untuk mengetahui setiap fase pertumbuhan tersebut perlu dilakukan pengamatan setiap hari, caranya dengan pengambilan sample dan dapat dihitung kepadatannya dengan menggunakan haemocytometer.

Berikut ini adalah kepadatan optimum beberapa jenis plankton :

  1. a.  Isocrysis galbana                : 9-10 juta sel/cc

b. Pavlova lutheri                   : 11-2 juta sel/cc

  1. c.  Tetraselmis tetrathele         : 5-8 juta sel/cc

d. Chaetoceros sp.                  : 4-6 juta sel/cc

Bila kebutuhan pakan alami dalam jumlah besar maka dapat dilakukan kultur skala masal, misalnya dengan volume pemeliharaan 1-5 ton. Pada kultur skala masal, kepadatan maksimum akan dicapai setelah 5-7 hari.

Menurut Isnasetyo dan Kurniastuti (1995), pemanenan phytoplankton harus dilakukan setelah pada saat puncak populasi, sisa zat hara masih cukup besar sehingga dapat membahayakan organisme pemangsa karena pemberian phytoplankton pada bak pemeliharaan larva. Apabila pemanenan terlambat maka telah banyak terjadi kematian phytoplankton sehingga kualitasnya menurun.

Pemanenan phytoplankton dapat dilakukan 3 cara yaitu sebagai berkut :

  1. Penyaringan dengan plankton net.
  2. Pemanenan dengan memindahkan langsung bersama media kultur.
  3. Cara pengendapan menggunakan bahan kimia, seperti : Sodium hidroksida dan NaOH.

 

 

 

        3. Penyimpanan bibit murni

Guna untuk kesinambungan kultur phytoplankton maka perlu dilakukan pemeliharaan stok bibit murni. Martosudarno dan wulan (1990) berpendapat bahwa untuk menyimpan bibit phytoplankton lebih lama, dapat disimpan dalam kulkas (< 10­­º C) dengan syarat diperiksa setiap minggu atau bulan untuk menjaga mutu phytoplankton tersebut. Kultur tidak perlu diberi aerasi karena hanya menjadi sumber kontaminasi.

Kultur phytoplankton dapat di pelihara dengan beberapa cara sebagai berikut

  1. Disimpan dalam media agar pada cawan Petri.
  2. Disimpan pada media agar miring pada tabung reaksi.
  3. Disimpan dalam media cair pada tabung reaksi.
  4. Disimpan dalam media cair pada Erlenmeyer.

Penyimpanan stok bibit murni dalam media agar dapat bertahan sampai 6 bulan. Penyimpanan stok murni dalam media cair dilakukan dalam tabung reaksi volume 10 ml, diberi pupuk dan tanpa aerasi tetapi harus dilakukan pengocokan setiap hari. Biakan stok murni ini diletakkan pada rak kulkas dengan pencahayaan lampu TL. Penyimpanan stok murni dalam kulkas dapat bertahan selama 1 bulan dan sebiknya segra digunakan dan diganti dengan stok baru.

Kendala yang umum ditemukan dalam kultur phytoplankton adalah kontaminasi oleh mikroorganisme lain seperti : Protozoa, bakteri, dan jenis phytoplankton lainnya. Kontaminasi ini dapat bersumber dari medium (air laut, pupuk, udara atau aerasi, wadah kultur serta inokulum)

 

E. Pemeliharaan Larva

            Pemeliharaan larva hingga spat dapat berhasil apabila di perhatikan terjadinnya stadia-stadia kritis (Winanto, 2004). Selama pertumbuhan, larva mengalami tiga masa krisis. Pertama, pada fase D, yaitu pertama kali larva mulai makan  sehingga perlu di sediakan pakan yang ukurannya sesuai dengan bukaan mulut larva. Kritis kedua, terjadi pada fase umbo. Kondisi larva sangat sensitif karena mengalami metamorfosis. Tandanya adalah terdapat penonjolan umbo, terutama fase umbo akhir atau fase bintik hitam (eye spot) atau fase pedifeliger. Fase kritis yang terakhir adalah fase pantigride, larva mengalami perubahan kebiasaan hidup dari sifat plantonis (spatfal) menjadi spat yang hidupnya menetap (sesil bentik) di dasar.

Larva tiram lebih menyukai tempat yang gelap atau remang-remang daripada yang terang, untuk itu tempat pemeliharaan di tutup dengan plastik gelap. Kepadatan yang baik ± 200 ekor/liter, kepadatan yang tinggi akan berpengaruh pada pertumbuhan normal, bahkan dapat menimbulkan kematian (Sutaman, 1993). Selama pemeliharaan pergantian air sebanyak 50-100 %, setiap 2-3 hari atau sesuai kebutuhan (Winanto ec al, 2004).

F. Lokasi Usaha        

Ketepatan pemilihan lokasi merupakan salah satu syarat keberhasilan budidaya tiram mutiara. Ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi budidaya, yaitu :

        1. Faktor Ekologi

Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup tiram, diantaranya kualitas air, pakan, dan kondisi fisiologis organisme. Batasan faktor ekologi yang dapat digunakan untuk mengevaluasi lokasi budidaya adalah :

  1. a.       Lokasi

Lokasi usaha untuk budidaya tiram mutiara ini berada di perairan laut yang tenang. Pemilihan lokasi pembenihan maupun budidaya berada dekat pantai dan terlindung dari pengaruh angin musim dan tidak terdapat gelombang besar. Lokasi dengan arus tenang dan gelombang kecil dibutuhkan untuk menghindari kekeruhan air dan stress fisiologis yang akan mengganggu kerang mutiara, terutama induk.

  1. b.       Dasar

Dasar perairan sebaiknya dipilih yang berkarang dan berpasir. Lokasi yang terdapat pecahan-pecahan karang juga merupakan alternatif tempat yang sesuai untuk melakukan budidaya tiram mutiara.

  1. c.       Arus                                                                                                                            

            Arus tenang merupakan tempat yang paling baik, hal ini bertujuan untuk menghindari teraduknya pasir perairan yang masuk ke dalam tiram dan mengganggu kualitas mutiara yang dihasilkan. Pasang surut air juga perlu diperhatikan karena pasang surut air laut dapat menggantikan air secara total dan terus-menerus sehingga perairan terhindar dari kemungkinan adanya limbah dan pencemaran lain.

  1. d.      Salinitas

Dilihat dari habitatnya, tiram mutiara lebih menyukai hidup pada salinitas yang tinggi. Tiram mutiara dapat hidup pada salinitas 24 ppt dan 50 ppt untuk jangka waktu yang pendek, yaitu 2-3 hari. Pemilihan lokasi sebaiknya di perairan yang memiliki salinitas antara 32-35 ppt. Kondisi ini baik untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup tiram mutiara.

  1. e.       Suhu

Perubahan suhu memegang peranan penting dalam aktivitas biofisiologi tiram di dalam air. Suhu yang baik untuk kelangsungan hidup tiram mutiara adalah berkisar 25-30 0C. Suhu air pada kisaran 27 – 31 0C juga dianggap layak untuk tiram mutiara.

  1. f.        Kecerahan

Kecerahan air akan berpengaruh pada fungsi dan struktur invertebrata dalam air. Lama penyinaran akan berpengaruh pada proses pembukaan dan penutupan cangkang (Winanto, et. al. 1988). Cangkang tiram akan terbuka sedikit apabila ada cahaya dan terbuka lebar apabila keadaan gelap. Menurut Sutaman (1993), untuk pemeliharaan tiram mutiara sebaiknya kecerahan air antara 4,5-6,5 meter. Jika kisaran melebihi batas tersebut, maka proses pemeliharaan akan sulit dilakukan. Untuk kenyamanan, induk tiram harus dipelihara di kedalaman melebihi tingkat kecerahan yang ada.

  1. g.       pH

Derajat keasaman air yang layak untuk kehidupan tiram pinctada maxima berkisar antara 7,8- 8,6 pH agar tiram mutiara dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Pada prinsipnya, habitat tiram mutiara di perairan adalah dengan pH lebih tinggi dari 6,75. Tiram tidak akan dapat berproduksi lagi apabila pH melebihi 9,00. Aktivitas tiram akan meningkat pada pH 6,75 – pH 7,00 dan menurun pada pH 4,0-6,5.

  1. h.       Oksigen

Oksigen terlarut dapat menjadi faktor pembatas kelangsungan hidup dan perkembangannya. Tiram mutiara akan dapat hidup baik pada perairan dengan kandungan oksigen terlarut berkisar 5,2-6,6 ppm. Pinctada maxima untuk ukuran 40-50 mm mengkonsumsi oksigen sebanyak 1,339 l/l, ukuran 50 – 60 mm mengkonsumsi oksigen sebanyak 1,650 l/l, untuk ukuran 60 – 70 mm mengkonsumsi sebanyak 1,810 l/l.

  1. i.         Parameter lain

1)    Fosfat Kandungan fosfat yang lebih tinggi dari batas toleransi akan mengakibatkan tiram mutiara mengalami hambatan pertumbuhan. Fosfat pada kisaran 0,1001-0,1615 g/l merupakan batasan yang layak untuk normalitas hidup dan pertumbuhan organisme budidaya. Lokasi budidaya dengan fosfat berkisar antara 0,16-0,27 g/l merupakan kandungan fosfat yang baik untuk budidaya mutiara.

2)    Nitrat Kisaran nitrat yang layak untuk organisme yang dibudidayakan sekitar 0,2525-0,6645 mg/l dan nitrit sekitar 0,5-5 mg/l. Konsentrasi nitrit 0,25 mg/l dapat mengakibatkan stres dan bahkan kematian pada organisme yang dipelihara.

3)    Amoniak Batas toleransi organisma akuatik terhadap amoniak berkisar antara 0,4-3,1 g/l. Pada kisaran yang lebih tinggi dari angka tersebut dapat mengakibatkan gangguan pernafasan dan akhirnya mengakibatkan kematian pada organisme. Pemilihan lokasi juga harus terhindar dari polusi dan pencemaran air, misalnya pencemaran yang berasal dari limbah rumah tangga, limbah pertanian, dan limbah industri. Pencemaran air akan mengakibatkan kematian, baik spat maupun induk tiram mutiara. Selain itu kegiatan mulai dari pembenihan sampai dengan budidaya induk tiram dapat dipilih lokasi di sekitar pantai yang berdekatan dengan lokasi tempat tinggal pengelola usaha budidaya. Hal ini untuk kemudahan dalam pengangkutan dan pemindahan induk tiram mutiara, sehingga mengurangi risiko kerugian akibat kematian.

        2. Faktor Risiko

            a.  Pencemaran

Lokasi budidaya tiram mutiara harus berada di lokasi yang bebas dari pencemaran, misalnya limbah rumah tangga, pertanian, maupun industri. Limbah rumah tangga dapat berupa deterjen, zat padat, berbagai zat beracun, dan patogen yang menghasilkan berbagai zat beracun. Pencemaran yang berasal dari kegiatan pertanian berupa kotoran hewan, insektisida, dan herbisida akan membahayakan kelangsungan hidup tiram mutiara.

b. Manusia

Pencurian dan sabotase merupakan faktor yang juga perlu dipertimbangkan dalam menentukan lokasi budidaya mutiara. Risiko ini terutama pada saat akan panen atau setelah satu tahun penyuntikan inti mutiara bulat (nucleus).

G. Metode Pemeliharaan Tiram Mutiara

            Sarana pemeliharaan tiram mutiara pada umumnya dilakukan dengan metode pemeliharaan gantungan (hanging culture method), pada prinsipnya metode ini terdiri dari alat gantungan dan tempat untuk meletakkan gantungan. Metode pemeliharaan gantungan dibagi lagi menjadi dua metode yaitu, metode rakit terapung (floating raft method) dan metode tali rentang (long line method).

        1. Metode Rakit Apung (floating raft method)                        

Rakit apung selain berfungsi sebagai pemeliharaan induk, pendederan, dan pembesaran, juga berfungsi sebagai aklimatisasi (beradaptasi) induk pasca pengangkutan. Menurut Priyono (1981), pemeliharaan mutiara umumnya dilakukan dengan metode rakit apung. Cara ini banyak digunakan karena lebih mudah dalam pengawasan serta hasilnya lebih baik dari pada cara pemeliharaan dasar (botton culture method). Bahan utama metode ini adalah kayu rakit (kayu atau bambu), pelampung (drum minyak, fiber glass, styrofoam), tali-tali dan jangkar (Mulyanto, 1987).

 

        2. Metode Tali Rentang  (long line method)

Menurut Winanto, et. al. (1988), bahwa pelampung yang digunakan adalah pelampung dari plastik, styrofoam, dan fiberglass. Tali rentang yang digunakan adalah dari bahan polyethelen atau sejenisnya dipasang diantara tali yang satu dengan yang lainnya yang diberi jarak 5 meter dan panjang tali rentang tergantung dari luas budidaya. Metode tali rentang dapat diterapkan pada perairan yang dasarnya agak dalam atau dasar perairan agak keras.

 

H. Teknis Budidaya Tiram Mutiara (Pinctada maxima)

Pada prinsipnya, untuk dalam keberhasilan pemeliharaan tiram mutiara untuk menghasilkan mutiara bulat baik kualitas maupun kuantitas sangat ditentukan oleh proses penanganan tiram sebelum operasi pemasangan inti, saat pelaksanaan operasi, pasca operasi dan ketrampilan dari teknisi serta sarana pembenihan tiram yang memadai. Pada umumnya tiram mutiara yang akan dioperasi inti mutiara bundar berasal dari hasil penangkapan dialam yang dikumpulkan dari kolektor dan nelayan. Namun ukuran cangkang mutiara terdiri dari macam-macam ukuran yang nantinya disortir menurut ukuran besarnya mutiara, hal inilah yang menjadi penyebab sehingga tidak dapat melaksanakan operasi dalam jumlah yang banyak. Sedangkan hasil pembenihan dari hatchery dapat diperoleh ukuran yang relatif seragam ukurannya sehingga dapat dilakukan operasi pemasangan inti mutiara dalam jumlah yang banyak. Namun produksi benih belum dapat dikembangkan secara masal. Pemeliharaan spat tiram disesuaikan dengan kondisi perairan disekitarnya. Pemeliharaan benih (spat) yang masih kecil berukuran dibawah 5 cm dipelihara pada kedalaman 2-3 cm sedangkan spat dengan ukuran di atas 5 cm dipelihara pada kedalaman lebih dari 4 cm (Sutaman, 1993).

 

        1. Penanganan Tiram Sebelum Operasi Pemasangan Inti Mutiara

Dengan demikian kalau kita tinjau mengenai terjadinya mutiara, untuk saat ini dapat dibagi menjadi dua yaitu:

  • Mutiara asli yang terdiri dari mutiara alam (natural pearl) dan mutiara pemeliharaan (cultured pearl).
  • Mutiara tiruan/imitasi (imitation pearl) (Dwiponggo, 1976).

Mutiara pemeliharaan

Sebelum proses penanganan tiram mutiara (Pinctada maxima) untuk pemasangan inti mutiara, harus dilakukan beberapa proses yaitu sebagai berikut:

  1. a.       Seleksi bibit

Benih tiram mutiara dari hasil penyelaman (natural) maupun dari hasil pembenihan (breeding) diseleksi untuk mencari tiram yang telah siap untuk dioperasi pemasangan inti. Menurut Sutaman  (1993), bahwa benih siap operasi adalah tiram yang kondisinya sehat, tidak cacat, telah berumur 2-3 tahun jika benih itu di dapat dari usaha budidaya dan berukuran diatas 15 cm jika benih tersebut didapat dari hasil penangkapan. Benih tiram mutiara yang telah terkumpul dari hasil seleksi untuk dioperasi harus dipelihara dalam rakit pemeliharaan khusus supaya memudahkan dalam penanganan saat operasi akan berlangsung.

  1. b.       Ovulasi buatan

Ovulasi buatan bertujuan agar pada saat operasi tiram mutiara tidak sedang dalam keadaan matang telur, karena tiram yang matang telur jaringan tubuhnya sangat peka terhadap rangsangan dari luar, sehingga inti yang di pasang akan dimuntahkan kembali. Ovulasi buatan ini merupakan kegiatan yang sengaja dilakukan untuk memaksa tiram mutiara agar mengeluarkan telur atau spermanya. Menurut Mulyanto (1987), bahwa cara ovulasi buatan yaitu dengan menaik turunkan keranjang pemeiharaan kedalam air dengan cepat sampai telur atau sperma keluar dari tiram.

Selain dari perlakuan menaik turunkan keranjang pemeliharaan tiram, kegiatan lain yang dilakukan yaitu masa pelemasan tiram (yukuesey) dimana tiram mutiara yang siap operasi di kurangi jatah pakannya dan membatasi ruang geraknya sehingga tiram menjadi lemah dan kepekaannnya menjadi berkurang pada saat inti dimasukkan (Mulyanto, 1987).

  1. c.       Pembukaan cangkang

Setelah tiram mutiara diistrahatkan selama 1 hari setelah proses ovulasi buatan selanjutnya dlakukan proses pembukaan cangkang tiram mutiara. Dalam kegiatan ini ada 3 cara yang sering digunakan untuk memaksa tiram secara alami membuka cangkangnya yaitu dengan merendamnya dalam air dengan kepadatan yang tinggi, sirkulasi air dan cara yang terakhir yaitu pengeringan (Winanto, et. al. 1988).

Setelah cangkang terbuka akibat dari perlakuan ini, cangkang tersebut segera ditahan dengan forsep dan di pasang baji pada mulut tiram supaya cangkang selalu dalam keadaan terbuka. Selanjutnya 1 jam sebelum operasi, tiram-tiram tersebut diletakkan didalam dulang dengan bagian engsel atau dorsal disebelah bawah (Sutaman, 1993).

 

       2. Operasi Pemasangan Inti Mutiara Bulat

            Untuk menghasilkan mutiara pada tiram ada dua cara yang umum di lakukan dalam operasi pemasangan inti mutiara yaitu:

a. Pemasangan inti mutiara bulat

b. pemasangan inti mutiara setengah bulat (blister).

Operasi pemasangan inti mutiara bulat merupakan bagian terpenting dalam menentukan keberhasilan pembuatan mutiara bulat. Ada beberapa cara yang perlu dilakukan dalam operasi pemasangan inti mutiara bulat adalah sebagai berikut:

1)      Sebelum pemasangan inti, tiram siap operasi di kumpulkan diatas meja operasi.

2)      Membuat potongan mantel dengan pengambilan mantel dari tiram donor dan mengguntingnya sekitar lebar 5 mm dan panjang 4 cm. kemudian mantel dipotong membentuk bujur sangkar dengan sisi-sisi 4 mm (Sutaman, 1993). Menurut Tun dan Winanto (1988), mantel yang diambil hendaknya dipilih tiram yang mudah dan aktif.

3)Pemasangan inti mutiara bulat.

Dalam pemasangan inti perlu diperhatikan ukuran inti yang akan dipasang. Umumnya ukuran inti mutiara yang dimasukkan kedalam gonad tiram mutiara  jenis Pinctada maxima yaitu berkisar antara 3,03-9,09 mm (Mulyanto, 1987).

 

Table 4. Daftar ukuran inti mutiara bundar yang digunakan untuk operasi tiram mutiara (Pinctada maxima) (Mulyanto, 1987).

Diameter

(mm)

             Nomor            

Bobot 1000 butir

(gram)

3,03

1,0

41,32

3,33

1,1

55,01

3,63

1,2

53,68

3,93

1,3

90,82

4,24

1,4

113,40

4,54

1,5

139,50

4,84

1,6

169,30

5,15

1,7

203,06

5,45

1,8

241,38

5,75

1,9

283,50

6,06

2,0

330,67

6,36

2,1

382,76

6,66

2,2

440,10

6,96

2,3

502,87

7,27

2,4

571,3

7,57

2,5

645,82

7,87

2,6

726,65

8,18

2,7

813,56

8,48

2,8

907,31

8,78

2,9

1008,07

9,09

3,0

1015,96

Cara pemasangan inti yang perlu diperhatikan yaitu peralatan operasi lebih terdahulu disterilkan atau dibersihkan, pembuatan sayatan yang baik dan penempatan inti yang tepat didalam organ dalam tiram, mantel dan inti (nukleus) yang ada didalam gonad bersinggungan langsung dan operasi dilakukan dengan cepat sehingga tiram mutiara tidak stress atau mati, karena lamanya saat operasi pemasangan inti mutiara.

        3. Penangannan Tiram Pasca Operasi

            Menurut Mulyanto (1987), mengemukakan bahwa pemeliharaan tiram mutiara pasca operasi sangat menentukan penyembuhan dan pembentukan mutiara yang dihasilkan. Setelah tiram dioperasi, dengan cepat dan hati-hati dimasukkan kembali kedalam air dan digantung pada rakit pemeliharaan yang letaknya paling dekat rumah operasi dan pada tempat yang pergerakan airnya paling kecil. Tiram memerlukan waktu istrahat yang cukup 1-3 bulan untuk menyembuhkan luka shock akibat dari operasi pemasangan inti.

Setelah masa penyembuhan, dilakukan pemeriksaan terhadap tiram untuk mengetahui apakah inti yang telah dipasang masih dalam posisi semula atau dimuntahkan. Tiram yang akan diperiksa di tahan dengan baji lalu diletakkan pada shell holder dan diperiksa. Apabila inti masih berada didalam, maka bagian tersebut akan kelihatan sedikit menonjol (Winanto, et. al., 1988)

Pemeriksaan inti mutiara yang dilakukan oleh perusahan-perusahan yang berskala besar dilakukan dengan cara menggunakan alat rontgen. Pemeriksaan dengan alat ini dilakukan sekitar 45 hari setelah masa tento terakhir atau kurang lebih 3 bulan setelah pemasangan inti. Tiram yang masih terdapat inti didalam cangkangnya dalam posisi semula dipelihara kembali hingga waktu panen tiba. Tiram yang memuntahkan intinya dan kondisi tubuhnya masih baik dapat diulangi pemasangan inti mutiara bulat atau setengah bulat (blister) (Mulyanto, 1987).

 

        4. Panen

Menurut Mulyanto (1987), bahwa setelah masa pemeliharaan 1,5-2 tahun sejak operasi pemasangan inti maka tiram dapat dipanen dengan kecermatan dan ketepatan yang benar agar hasil mutiara dapat berkualitas baik. Menurut Tun dan Winanto (1988), di Indonesia panen akan lebih baik menguntungkan apabila dilakukan pada saat musim hujan, karena untuk mengurangi mortalitas pada waktu pemasangan inti mutiara bulat kedua. Tekanan tinggi, suhu rendah dan relatif konstan serta suasana remang-remang dapat menyebabkan sel penghasil nacre lebih aktif mensekresikan nacre, sehingga kilau dan warnanya lebih baik walaupun pelapisan nacrenya berlangsung lebih lambat.

Cara pemanenan dapat dilakukan sebagai berikut : tiram yang sudah dipanen diletakkan di atas meja operasi. Kemudian bagian mantel dan insang yang menutupi gonad disisihkan  sehingga mutiara akan kelihatan dan tampak menonjol dengan sedikit bercahaya. Lalu dibuat sayatan pada organ tersebut seperti pada saat pemasangan inti itiara bulat, maka mutiara dengan mudah dapat dikeluarkan dari gonad tiram.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

 HASIL MAGANG

 

 

  1. A.     Pelaksanaan Magang

Magang industri dilaksanakan pada tanggal 24 November 2005-20 Pebuaari 2006, dengan lokasi praktek di CV. Duta Aru Indah, Pulau Garaga, Kecamatan Obi, Kabupaten  Halmahera selatan, Propinsi Maluku Utara. Dilokasi praktek ada beberapa kegiatan yang dilakukan yaitu:

 

       1. Orientasi

Kegiatan orientasi dilaksanakan untuk lebih mengenal lokasi magang industri sebagai tempat pelaksanaan magang kegiatan. Hal ini meliputi konsultasi dengan pihak industri, pengarahan, survey, pencarian data dan hal-hal lain yang dapat menunjang pelaksanaan magang seperti sarana dan prasarana dalam budidaya tiram mutiara yang ada di industri CV. Duta Aru Indah.

 

        2. Penyusunan Rencana Magang Industri

Pelaksanaan magang para mahasiswa di CV. Duta Aru Indah dibagi menjadi beberapa tahap, disesuaikan dengan jadwal kegiatan mahasiswa praktek kerja magang yang telah dibuat dan disesuaikan dengan kegiatan pada industri budidaya tiram mutiara.

Sesuai dengan acuan pada jadwal kegiatan mahasiswa, praktek kerja magang di CV. Duta Aru Indah, dalam pelaksanaan di lapangan selama waktu yang telah diberikan tersebut para mahasiswa melaksanakan kegiatan magang dibeberapa bagian diantaranya kegiatan pembesaran tiram mutiara, pembenihan dan kultur pakan phytoplankton untuk tiram mutiara (Pinctada maxima).

 

        3. Keadaan Umum Tempat Magang

            a. Kondisi Geografis

Industri CV. Duta Aru Indah terletak di Pulau Garaga Desa Kampung Baru Kecamatan Obi Kabupaten Halmahera Selatan Propinsi Maluku Utara. Tata letak industri ini berada pada sebuah teluk yang jauh dari aktifitas masyarakat sehari-hari dan jauh dari lalulalang transportasi laut. Lokasi industri ini hanya dapat dijangkau dengan menggunakan alat transportasi laut kurang lebih 12 jam dari ibukota propinsi, dari ibukota kabupaten kurang lebih 6 jam serta dari ibukota kecamatan kurang lebih 1-2 jam.

Lokasi ini memiliki bata-batas wilayah sebagai berikut :

Timur                           : Tanjung Merah

Barat                            : Tanjung Palem

Selatan                         : Gunung, serta

Utara                            : Laut

Gambar 2. Tempat lokasi magang di CV. Duta Aru Indah

             b. Sejarah Industri                                                                   

             CV. Duta Aru Indah merupakan sala satu perusahan yang bergerak di bidang perikanan yaitu budidaya tiram mutiara (Pinctada maxima) dengan sumber modal swasta nasional serta produksi yang dihasilkan oleh industri ini seluruhnya diekspor keluar negeri, dengan negara tujuan Jepang. Pemasaran yang hanya terbatas atau dimonopoli oleh Jepang ini mungkin karena keterkaitan tenaga teknisi Jepang yang berada pada perusahan ini, sekalipun pemilik perusahan ini adalah milik orang cina. Selain dari produksi mutiara tersebut, produksi kulit tiram mutiara ini di ekspor juga, sebahagian lagi dipasarkan ke Pulau Jawa terutama Surabaya. Berdirinya industri ini pada tahun 1997 Ruang lingkup kegiatan budidaya tiram mutiara (Pinctada maxima) di industri ini meliputi: Kultur phytoplankton, pemijahan, pemeliharaan spat sampai ukuran siap operasi, operasi pemasangan inti, pemeliharaan pasca operasi, pemanenan dan pemasaran. CV. Duta Aru Indah dalam melakukan usaha budidaya tiram mutiara (Pinctada maxima) memiliki lima lokasi yaitu lokasi budidaya CV. Duta Aru Indah Unit Pulau Garaga, Unit Tiga Raja, Unit Pulau Damar, Unit Selat Mas dan Unit Dowora.

 c. Struktur Organisasi Industri

Kegiatan ini bertujuan agar dapat mengetahui fungsi dan manfaat pelaksanaan administrasi industri budidaya tiram mutiara. Hal ini dilaksanakan dengan cara diskusi dengan pihak industri, baik teknisi maupun karyawan serta mempelajari sarana dan prasarana yang ada tentang industri tiram mutiara. Sehingga dengan kegiatan administrasi industri ini terwujud suatu hubungan kerja yang baik dan teratur.

CV. Duta Aru Indah ini dipimpin oleh seorang Manager (kepala perusahaan) dan dibantu oleh kepala-kepala seksi diantaranya : Kepala seksi administrasi umum, seksi logistik, seksi budidaya, seksi mekanik, seksi keamanan dan seksi keuangan. Dalam menjaga kemanan disekitar lokasi perusahaan kepala seksi kemanan dibantu oleh 6 orang aparat keamanan, sedangkan kepala seksi budidaya dalam memonitoring kegiatan budidaya berkoordinasi dengan 3 orang teknisi dan dibantu oleh  kepala bagian siput kecil, siput praoperasi dan siput pasca operasi. Para tenaga kerja karyawan/karyawati yang ada di CV. Duta Aru Indah mempunyai  dua tipe yaitu, tenaga kerja bulanan dan tenaga kerja harian.

            d. Unit Usaha Budidaya

            Lingkup usaha budidaya yang dilaksanakan di CV. Duta Aru Indah merupakan kegiatan pemeliharaan tiram mutiara dari ukuran spat, pembesaran, pelaksanaa operasi pemasangan inti mutiara bulat sampai pelaksanaan pemanenan setelah pemeliharaan 1-1,5  bulan yang di laksanakan di CV. Duta Aru Indah Pulau Garaga serta kegiatan kultur phytoplankton di laboratorium. Sedangkan untuk pembenihan yaitu di CV. Duta Aru Indah unit Pulau Garaga, unit Tiga raja, unit Pulau Damar, unit Selat mas dan unit dowora.

            e. Dampak Terhadap Masyarakat

            Berdirinya CV. Duta Aru Indah Pulau Garaga yang bergerak dibidang perikanan dalam usaha budidaya tiram mutiara telah memberikan dampak positif terhadap kehidupan masyarakat disekitar wilayah Propinsi Maluku Utara terutama masyarakat kec. Obi dan Maluku Tenggara pada umumnya. Adapun dampak positif tersebut antara lain adalah:

1)      Terbukanya lapangan kerja bagi masyarakat yang bekerja baik sebagai tenaga pemeliharaan, tenaga harian atau bulanan serta tenaga borongan.

2)      Menarik para investor lain untuk menanam modalnya dibidang budidaya tiram mutiara pada khususnya maupun dibidang usaha budidaya perikanan pada umumnya.

3)      Meningkatkan pendapatan daerah setempat dengan adanya usaha ini.

4)      Terbukanya kesempatan bagi para pelajar, mahasiswa dan peneliti untuk mengadakan praktek atau penelitian tentang manajemen budidaya tiram mutiara (Pinctada maxima).

        4. Sarana dan Prasarana Budidaya Tiram mutiara

            CV. Duta Aru Indah dalam pelaksanaan usaha budidaya tiram mutiara, ada beberapa sarana dan prasarana yang di gunakan yang terdiri dari sarana pembenihan (hatchery) dan sarana pembesaran, sarana penunjang. Sedangkan bahan dan peralatan yang digunakan dalam kegiatan budidaya adalah peralatan operasi pemasangan inti mutiara bulat, paralatan pembersian tiram dan panen mutiara serta bahan dan alat yang digunakan dalam hatchery.

            a. Sarana Pembenihan

Kelengkapan utama dalam kegiatan pembenihan antara lain harus tersedia ruang pembenihan (bangunan); suplai air laut; ruang aklimatitasi; tempat pemijahan; tempat pemeliharaan untuk larva; spat, dan induk; sarana kultur pakan alami; dan peralatan lainnya yang menunjang kegiatan pembenihan.

1)Bangunan

Pada prinsipnaya, bangunan ini harus memenuhi persyaratan teknis operasional yang terdiri dari ruang kultur alga, ruang aklimatisasi, ruang pemijahan, ruang pemeliharaan larva dan spat, serta ruang staf. Dalam kegiatan tata letak bangunan sedapat mungkun jauh dari aktifitas sehari-hari sehingga organisme yang dipelihara selalu dalam suasana terang. Hal ini di sesuaikan dengan  habitat  dari organisme pemeliharan tersebut.

Tabel 5. Alat dan bahan yang digunakan dalam kultur phytoplankton di

CV. Duta Aru Indah adalah sebagai berikut.

No Alat dan bahan Fungsi
1 Tabung Erlenmeyer Wadah kultur phytoplankton
2 Tabung Reaksi Wadah kultur phytoplankton
3 Cawan Petri Wadah kultur phytoplankton
4 Toples 5 ltr dan 10 ltr Wadah kultur phytoplankton
5 Wadah 15 dan 30 liter Wadah kultur phytoplankton (kultur semi massal)
6 Mikroskop Menghitung kepadatan phytoplankton
7 Haemacytometer  dan

Cover glassMenghitung densitas Phytoplankton dan Tempat peletakan sample  plankton8TermometerPengukur suhu ruangan kultur phytoplankton9CaterPenghitung phytoplankton10PipetPengambilan sample plankton11PupukSebagai pengkaya12AquadesPembilasan peralatan13Larutan HCLSterilisasi peralatan14Air panasSterilisasi peralatan15Oven/autoklavSterilisasi peralatan16PlanktonPakan alami tiram mutiara17FormalinBahan pencampur dalam pengamatan kepadatan plankton18AerasiPenambahan oksigen19Air lautMedia kultur20BecerglassWadah untuk pengambilan sample plankton21TisuPembersih21ACPengatur suhu ruangan plankton

2). Suplai Air Laut

Penyediaaan air laut yang bersih merupakan salah satu faktor penting, karena air laut merupakan media tumbuh dan berkembangnya plankton dan larva tiram mutiara. Pengambilan air laut dibantu dengan mesin pompa air 2-2,5 inci dan pipa PVC. Air yang digunakan telah melalui beberapa proses fertilisasi, antara lain melewati saringan pasir (sand filter) dan bak pengendapan. Untuk pemeliharaan larva khususnya, air laut melalui beberapa perlakuan, seperti cartage atau saringan bertingkat dari 15 mm, 10 mm, dan 5 mm; sterilisasi dengan autoclav; dan saringan kapas (cotton filter).

3). Bak Pemijahan Induk

Bak ini terbuat dari fiberglass bervolume 3 ton menyerupai bentuk tabung serta berwarna bening transpran. Bak ini berfungsi sebagai tempat  tempat memijahnya induk tiram mutiara dengan jumlah 3 buah.

4). Bak telur

Sebagai tempat meletakkan telur hasil pemijahan dari induk tiram. Ini digunakan wadah toples plastik dengan volume 30 liter sebanyak 20 buah.

   5). Bak pemeliharaan larva dan spat

Bak ini terbuat dari polikarbinat atau juga fiber glaas dengan volume 5 ton warna bak ini hitam, dilengkapi dengan pintu pemasukan dan pengeluaran air.

  

6). Bak penjarangan dan penempelan  spat.

Terbuat dari fiberglaas, ukuran bak ini tidak menentu tergantung dari ukuran kolektor. Tetapi pada umumnya bak ini berukuran 90 cm x 60 cm x 50 cm. warna bak ini gelap agar kontras dengan warna spat yang putih transparan, sehingga spat yang menempel pada kolektor dan jatuh didasar bak bisa terlihat dan diambil kembali.

   7). Spat kolektor

Merupakan tempat menempelnya tiram mudah atau spat. Spat kolektor ini terbuat dari bahan paranet. Wadah yang digunakan sebagai wadah kolektor adalah keranjang jaring dengan ukuran 40cm x 60cm.

   8). Tempat kutur pakan alami

Tempat kultur pakan alami digunakan rak yang terbuat dari kerangka kayu dan besi siku. Untuk penerangan setiap rak dilengkapi dengan 4 lampu TL 40 wat. Ukuran rak di sesuaikan dengan ukuran ruangan dan kapasitas produksi yang diinginkan.

9). Rumah pompa

Sebagai tempat meletakkan mesin pompa untuk penyedotan air laut ke ruang laboratorium.

10). Rumah genset

Tempat untuk meletakkan genset, yang berfungsi sebagai listrik listrik.

  11). Tower air tawar

Berfungsi untuk menampung air tawar sebelum digunakan ke rumah karyawan,  kantor dan hatchery.

  12). Bak penampung air laut.

Mempunyai fungsi sebagai penampung air laut sebelum digunakan dalam kegiatan kultur pakan alami dan pembenihan dihatchery.

Tabel 6. Alat dan bahan pemijahan, penetesan dan pemeliharaan larva

No Alat dan bahan Fungsi
1 Bak pemeliharaan Pelihara induk
2 Toples plastic Sebagai wadah peletakan telur
3 Bak induk Penyimpanan  induk
4 Bak pemijahan Tempat pemijahan
5 Bak penetasan telur Sebagai bak penetasan dan pemeliharaan larva
6 Larva Tiram budidaya
7 Mikroskop Untuk mengamati kondisi larva
8 Thermometer Mengukur suhu
9 Saringan plankton Menyaring telur dan kotoran
10 Suplai air laut Media hidup tiram
11 Bak penampung Menampung air laut
12 Mesin pompa Penyedot air laut
Pipet Pengambilan cantoh telur

           

            b. Sarana Pembesaran

            Bahan-bahan pembuatan sarana pembesaran sangat penting dalam pemeliharaan tiram dari ukuran spat sampai ukuran siap operasi dan pemanenan. Bahan-bahan ini digunakan untuk sarana rakit apung, bahan sarana pembuatan tali rentang (long line) dan pembuatan keranjang pemeliharaan.

                1). Bahan  Sarana Rakit Apung

Bahan-bahan yang digunakan dalam kontruksi rakit apung tersebut adalah sebagai berikut :

  • Kerangka rakit, terbuat dari kayu bakau yang berdiameter 10-15 cm dan panjang 9 meter.
  • Pelampung, berbentuk silinder dengan diameter 60 cm dan panjang 1 meter yang terbuat dari bahan drum plastik atau styrofoam yang di lapisi plastik berwarna kuning/biru yang tahan bocor.
  • Pengikat rakit, digunakan kawat dengan berdiameter 3 mm.
  • Tali jangkar dan jangkar, terbuat dari tali polyethelen dengan berdiameter 5 cm dengan panjang 2-3 kali kedalaman air. Untuk menahan rakit agar tidak terbawa arus digunakan jangkar yang terbuat dari besi/blok semen.
  • Tali gantung keranjang, terbuat dari polyethelen berwarna hitam atau biru. Tali untuk gantungan keranjangan siput ini dengan diameter 8 mm dan panjang 5 meter.

Rakit digunakan sebagai tempat pemeliharaan tiram mutiara, baik tiram sebelum operasi maupun pasca operasi. Dalam satu unit rakit apung terdiri dari 6 rakit kecil dengan ukuran 9 x 9 m per rakit dan mampu menampung 100 keranjang yang masing-masing berisi 8 ekor tiram. Sehingga dalam satu rakit kecil sebanyak 800 atau 4.800.ekor tiram mutiara dalam 1 unit rakit apung.

                2). Bahan Sarana Tali Rentang (Long line)

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan satu unit tali rentang (long line) tersebut adalah:

  • Tali rentang, tali ini terbuat dari tali polyethelen yang berwarna biru atau hitam dengan diameter 3 cm dan panjang 102 m.
  • Bola pelampung, terbuat dari plastik berwarna biru atau hitam dengan diameter 30 cm, bola pelampung diikat dengan tali polyethelen pada tali rentang.
  • Pemberat, bahan pembuatnya dari blok semen (beton).

Dalam setiap tali rentang dipasang 25 buah pelampung dengan jarak antara pelampung dapat diikat 4 buah tali gantung keranjang, jarak antara tali gantung pocket net 80 cm. Sehingga setiap satu tali rentang dapat menampung 100 buah pocket net dan setiap pocket net berisi 8 tiram mutiara. Jadi setiap tali rentang dapat memuat 800 ekor tiram atau satu unit tali rentang yang memiliki 10 tali rentang dapat memuat 8000 ekor tiram mutiara.

                 3). Keranjang Pemeliharaan

Ada beberapa kategori keranjang yang digunakan dalam pemeliharaan tiram mutiara, tergantung dari ukuran dan usia tiram mutiara.

  • Pocket net atau Keranjang jaring

Ukuran keranjang pemeliharaan tiram ini sangat bervariasi tergantung ukuran tiram mutiara. Untuk pemeliharaan tiram kecil (spat) digunakan Keranjang ukuran mata jaring 0,3 m dengan 12 kamar ini ada yang terdiri dari 8 kamar, 9 kamar dan 24 kamar. Untuk yang 8 kamar dan 9 kamar diguakan untuk tiram mutiara yang berukuran 4-7 cm. Sedangkan yang 24 kamar digunakan tiram mutiara masa pendederan.

  • Keranjang plastik

Keranjang ini terbuat dari bahan plastik yang berwarna hitam dengan ukuran panjang 92 cm, tinggi 16 cm dan luas 16 cm serta terdiri dari 20 kamar yang disekat-sekat. Biasa keranjang digunakan pada tiram selesai operasi dan memasuki masa bottom serta panen. Dengan ukuran tiram mutiara 8-12 cm.

  • Waring.

Waring ini berukuran 0,3 cm digunakan untuk membungkus Keranjang kawat yang mempunyai 10 kamar.  Keranjang ini digunakan pada tiram mutiara yang memasuki masa pelemasan tiram (yokusey). Keranjang ini berukuran panjang 74 cm, tinggi 23 cm dan lebar 23 cm.

Gambar   3a.  Pocket net atau keranjang jaring untuk budidaya tiram mutiara

                        3b. Keranjang plastik digunakan pada saat tiram selesai operasi,

masa bottom dan Panen.

3a                                                                   3b

 

            c. Sarana Penunjang Budidaya

            Sarana penunjang yang digunakan dalam budidaya tiram mutiara yaitu antara lain sebagai berikut:

                1). Rumah Rakit

Rumah rakit terdiri dari 3 buah bangunan terapung (floating raft house) yang dapat dipindah-pindahkan dengan speed boat. Rumah rakit ini terbuat dari kayu yang tahan terhadap arus air dan pelampung Styrofoam untuk mengapungkan rumah rakit tersebut. Ini digunakan untuk kegiatan pembersihan keranjang dan tiram serta perbaikan sarana budidaya lainnya.

               2). Speed Boat

            Speed boat terdiri dari 12 buah unit, terbuat dari bahan fiberglass yang dilengkapi dengan  motor tempel berkekuatan 40 PK dan 80 PK. Speed boat digunakan untuk mengangkut tiram mutiara, memindahkan rumah rakit, kegiatan keamanan dilokasi budidaya serta kegiatan pemeliharaan mutiara.

                3). Kapal Motor

            Kapal motor terdiri dari 3 buah unit, yang terbuat dari kayu yang dilengkapi dengan mesin dalam. Kapal motor ini digunakan untuk mengangkut tiram mutiara dari lokasi unit cabang pembenihan ke lokasi pembesaran CV. Duta Aru Indah, sarana transportasi karyawan/karyawati, pengangkutan air bersih untuk kegiatan budidaya maupun ke rumah karyawan.

 

        5. Bahan Sarana Operasi Pemasangan Inti mutiara Bulat dan Panen

            Bahan sarana operasi sangat mempengaruhi dalam kegiatan pemasangan inti mutiara bulat dan saat pelaksanaan pemanenan dilakukan. Bahan sanana operasi dan pemanenan yang dibutuhkan tersebut adalah:

  1. Rumah operasi, terbuat dari kayu yang ditanam dan tahan terhadap gelombang serta terletak  dekat  dengan rakit apung (tempat tiram akan dioperasi).
  2. Meja operasi, terbuat dari kayu dengan sekat-sekat pada bagian kiri, kanan dan depan untuk melindungi dari sinar matahari secara langsung.
  3. Meja tiram, terbuat dari kayu dan letaknya harus berdekatan dengan meja operasi, yang berfungsi sebagai tempat meletakkan tiram yang akan dioperasi pemasangan inti mutiara bulat dan pemanenan.

        6.  Peralatan Operasi Pemasangan Inti Mutiara Bulat dan Panen

              Peralatan operasi pemasangan inti mutiara dan pemanenan yang digunakan pada CV. Duta aru Indah adalah sebagai berikut:

  1. Forsep (pembuka cangkang), alat ini digunakan untuk membuka/memperbesar bukaan mulut cangkang tiran sebelum dipasang baji dan untuk mepertahankan bukaan cangkang pada saat operasi atau panen berlangsung.
  2. Baji, erbuat dari kayu membentuk segi tiga siku-siku  yang digunakan untuk mempertahankan bukaan cangkang sebalum operasi atau pada saat panen.
  3. Gunting, digunakan untuk memotong mantel dari organ tubuh tiram donor.
  4. d.      Tweezer, digunakan untuk mengangkat potongan mantel dari dalam cangkang tiram donor.
  5. Spon mantel, digunakan untuk tempat memotong mantel menjadi bagian-bagian tekecil, spon ini berfungsi menahan lender hitam pada lapisan luar mantel sehingga pada saat mantel dimasukkan ke dalam organ tiram lapisan mantel berwarna putih (tidak bernoda) serta dapat menyerap air .
  6. Pisau pemotong (graff cutter), Ini digunakan untuk memotong potongan mantel menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.
  7. Graft cutting block, digunakan sebagai landasan spons untuk memotong mantel Pinset, digunakan untuk menyingkir dan mengangkat hama yang ada dalam   tubuh tiram.
  8. Standar dengan penjepit (shell holder), digunakan untuk meletakkan tiram yang  akan dioperasi.
  9. Pinset, digunakan untuk menyingkir dan mengangkat hama yang ada dalam   tubuh tiram.
  10. Spatula, digunakan untuk menyibak mantel dan insang yang menghalangi tempat penorehan.
  11. Kait (hock), digunakan untuk menahan kaki sewaktu membuat  irisan/saluran dan saat pemasukan inti (nukleus) mutiara.
  12. Incision knife, digunakan untuk menorah gonad tiram mutiara.
  13. Probe, digunakan untuk membuat saluran pemasukan mantel dan inti serta saluran keluarnya mutiara pada saat pemanenan.
  14. Pemasukan mantel (graft currier), digunakan untuk memasukkan potongan mantel kedalam organ tiram melalui saluran yang telah dibuat.
  15. Nukleus carrier, digunakan untuk memasukkan inti (nukleus) kedalam gonad  melalui saluran dan untuk mengambil mutiara serta untuk mengambil mutiara dari dalam gonad pada saat panen.
  16. Gelas berisi air, digunakan untuk membersihkan alat pada setiap pengoprasian satu buah tiram dan membasahi nucleus carrier agar inti mutiara dapat menempel.

q.   Wadah kecil, digunakan untuk menampung inti (nukleus) dan mutiara dari hasil panen.

           

        7. Peralatan Pembersih Tiram Mutiara

Salah satu peralatan yang tidak kalah penting dalam budidaya tiram mutiara (Pincata maxima) adalah alat pembersih tiram dari organisme penempel dan kotoran yang mengganggu kehidupan/pertumbuhan dari tiram mutiara. Adapun peralatan pembersih yang digunakan di CV. Duta Aru Indah Pulau Garaga dalah sebagai berikut :

  1. Mesin pencuci, alat ini digerakkan oleh mesin diesel yang diset diatas rumah rakit dan speed boat. Mesin pencuci uni digunakan untuk membersihkan keranjang pemeliharan dan membersihkan tiram dari organisme penempel pada cangkang sebelum dan sesudah dibersihkan dengan pisau atau parang kecil.
  2. Pisau dan parang kecil, ini digunakan untuk membersihkan tiram setelah melalui proses pembersihan pada mesin diesel.

B. Pembahasan

 

        1. Sarana dan Prasarana Budidaya

            Salah satu faktor yang sangat berperan penting dalam keberhasilan untuk usaha budidaya tiram mutiara (Pinctada maxima) adalah sarana dan prasarana yang digunakan. Adapun sarana dan prasarana yang ada pada CV. Duta Aru Indah adalah: Sarana dan prasarana pembenihan dan pembesaran.

             a. Sarana dan Prasarana Pembenihan

                 1). Ruang Pembenihan (hatchery)

Tempat operasional hathery di CV. Duta Aru Indah ini merupakan ruang pembenihan tiram mutiara yang mencangkup ruang kultur fitoplankton, ruang penyimpanan alat dan sarana operasional, ruang staf serta ruang pemeliharaan larva dan spat hasil pemijahan dari tiram mutiara. Ruang pemijahan serta pemeliharaan larva dan spat di satukan. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Winanto et al., (2001), bahwa tempat operasional hatchery tidak harus berupa bangunan permannen, tetapi bisa disesuaikan dengan kondisi dan dana yang tersedia pada perusahan tersebut.

Gambar 4. Tata letak ruang pembenihan (hatchery) di CV. Duta Aru Indah

Ket:     A:  Ruang kultur pakan alami

B:  Ruang sterilisasi peralatan

C:  Bak pemeliharaan larva dan spat

D:  Bak pemijahan induk tiram

E:  Ruang staf  + tempat penyimpanan alat

F1:Bak penampungan (dengan saringan 0,3 mikron)

F2: Bak sand filter (saringan pasir)

F3: Bak sand filter (saringan kerikil)

F4: Bak pengendapan (pada pipa outlet dilapisi spon dan waring)

Fasilitas ruangan pembenihan dan kultur phytoplankton yang ada di CV. Duta Aru Indah ini letaknya sedikit jauh dari aktifitas sehari-hari, sehingga organisme yang dipelihara mendapat suasana yang tenang. Ruang tempat pemeliharaan larva dan spat suasanannya gelap atau cahaya yang masuk dapat diatur. Hal ini disesuaikan dengan habitat tiram mutiara (Pinctada maxima) didalam perairan air laut. Sedangkan ruangan tempat kultur phytoplankton suasananya terang yang pencahayaannya diatur dengan menggunakan lampu TL 40 watt sebanyak 4 buah dan AC 250 Vol. 2 buah untuk mengatur suhu, sehinggga kondisi suhu ruangan phytoplankton tetap terkontrol.

                 2). Sistem Suplai Air Laut Untuk Pambenihan Tiram Mutiara

Sistem penyedian air laut yang bersih dan berkualitas untuk pemeliharaan larva tiram mutiara harus diperhatikan karena air merupakan media hidup dan berkembangnya tiram mutiara. Air media yang digunakan untuk kegiatan pembenihan air laut yang diambil dari sekitar lokasi CV. Duta Aru Indah dengan menggunakan mesin pompa kemudian dialirkan melalui pipa PVC 6 inchi sebanyak 3 buah ke bak pengendapan, kemudian dilanjutkan sampai ke bak penampungan melalui beberapa filterisasi secara gravitasi. Air laut diambil langsung dari permukaan dasar laut dengan jarak ± 250 meter ke mesin pompa, kemudian dari mesin pompa ke bak pengendapan ± 100 meter. Ujung pipa PVC yang digunakan untuk mengalirkan air laut dari mesin pompa ke bak pengendapan ini digunakan spon dan waring, yang selanjutnya dialirkan terus ke saringan kerikil dan sand filter (saringan pasir) dan selanjutnya dialirkan ke bak penampungan. Dari bak penampungan inilah air laut yang sudah melalui filterisasi ini di alirkan ke ruang kultur phytoplankton dan ruang pemijahan atau pemeliharaan larva. Air yang masuk ke bak pemijahan dan pemeliharaan larva disaring dengan sariangan 5 mikron, sedangkan yang masuk kedalam ruang kultur pakan alami disaring dengan saringan 2 mikron dan 3 mikron.

                 3). Sterilisasi Alat dan Bahan

                       a). Sterilisasi Alat dan Bahan Pemijahan dan Pemeliharaan Larva

Wadah pemeliharaan ini terdiri atas Bak pemijahan yang terdiri atas 3 buah dengan volume 3 ton, berbentuk tabung dengan warna bening transparan. Untuk wadah penetesan telur terdiri dari 20 buah dengan volume 30 liter dan berwarna bening transparan. Sedangkan bak pemeliharaan larva terdiri dari 8 buah dengan volume 5 ton berwarna hitam (gelap) dan berbentuk persegi panjang, terbuat dari bahan polikarbonat.

Dalam keberhasilan usaha budidaya salah satu hal yang tidah dapat diabaikan adalah kebersihan wadah yang digunakan. Pengalaman yang dilakukan oleh teknisi di CV. Duta Aru Indah dalam sterilisasi wadah yang akan digunakan baik wadah pemijahan, penetesan telur serta pemeliharaan larva dan spat. Alat dan bahan ini dicuci sampai benar-benar bersih, baik kotoran yang menempel berbentuk fisik maupun organisme jenis hama penempel pada wadah pemeliharaan. Kegiatan pencucian wadah ini dengan tujuan untuk membersihkan semua jenis pathogen. Pencucian ini dengan menggunakan air laut dengan cara menyiram secara merata pada seluruh wadah pembenihan, kemudian menggosok seluruh bagian wadah tersebut dengan menggunakan spon, setelah itu dibilas dengan air laut. Cara mencucu wadah yang dianggap adanya organisme penempel dilakukan dengan menaburkan secara merata garam yodium kedalam wadah, ini hanya dilakukan pada bak pemeliharaan larva dan spat yang bervolume 5 ton Setelah beberapa menit baru kembali dibilas dengan air laut.

                       b). Sterilisasi Alat dan Bahan Kultur Pakan Alami

Menurut pengamatan yang dilakukan oleh para teknisi di CV. Duta Aru Indah dalam sterilisasi alat dan bahan untuk media tumbuh kultur phytoplankton ini dilakukan dengan cara menggunakan air panas dengan autoclave, bahan kimia dan dengan menggunakan oven (hotplate). Dalam hal ini menurut Isnasetyo dan Kurniastuty (1995) bahwa, sterilisasi dapat dilakukan dengan beberapa metode antara lain: sterilisasi dengan autoclave, sterilisasi basah, sterilisasi dengan bahan kimia, sterilisasi dengan penyaringan dan sterilisasi dengan sinar ultra violet. Di CV. Duta Aru Indah, sterilisasi ini hanya digunakan tiga metode karena proses dan hasilnya tidak berbeda jauh dengan metode sterilisasi lainnya.

  • Sterilisasi dengan Autoclave

Proses sterilisasi ini dilakukan dengan menggunakan autoclave bersuhu 121ºC dengan tekanan 1 kg/cm­² selama ± 45 menit. Sterilisasi ini dilakukan untuk peralatan gelas seperti tabung reaksi, cawan petri, pipet, Erlenmeyer, corong, gelas kimia dan gelas ukur.  Paralatan ini sebelum dimasukkan kedalam autoclave untuk di sterilisasi, terlebih dahulu dibungkus dengan menggunakan kertas aluminium foil. Setelah proses sterilisasi selesai, semua peralatan in diletakkan dalam ruangan yang bersih dan dalam kondisi tetap terbungkus sampai akan digunakan.

  • Sterilisasi dengan Bahan Kimia

            Sterilisasi ini dilakukan hanya untuk selang aerasi yang digunakan dalam wadah kultur phytoplankton dengan cara selang ini direndam kedalam larutan Hidrochloric Acid (HCL) 10% selama ± 24 jam kemudian dicuci bersih dan direbus kembali dalam toples plastik vol 30 liter dengan menggunakan heater. Sterilisasi dengan bahan kimia ini bertujuan untuk melarutkan sisa phytoplankton yang menempel pada ujung selang untuk menghindari terjadinya kontaminasi antara jenis phytoplankton serta membunuh organisme lain yang dapat mengganggu pertumbuhan phytoplankton.

  • Sterilisasi dengan Oven (hotplate)

            Untuk cara sterilisasi peralatan metode ketiga ini dengan menggunaka oven (hotplate) yaitu untuk semua peralatan yang bisa dimasukkan kedalam ruang oven, ini bisa langsung disterilisasi dengan oven selama ± 30 menit. Sedangkan untuk peralatan yang tidak bisa dimasukkan kedalam oven karena ukurannya besar, ini bisa cukup disterilisasi dengan autoclave atau dengan bahan kimia sesuai dengan keperluan untuk sterilisasi.

Selain dari peralatan tersebut, air laut juga harus disterilisasi yang nantinya akan digunakan sebagai media pemeliharaan kultur phytoplankton. Air laut ini dialirkan melewati saringan filterisasi untuk mendapatkan  air laut yang berkualitas sebagai media kultur phytoplankton. Setelah melewati filterisasi, selanjutnya air laut ini disterilisasi dengan cara direbus sampai mendidi (sterilisasi basah). Kemudian air laut tersebut di tampung dalam sebuah wadah tertutup dan didinginkan. Setelah air media tersebut dingin, lalu disaring dengan menggunakan saringan kertas saring atau tissue sebelum digunakan sebagai media kultur phytoplankton.

Sterilisasi alat dan bahan ini dimaksudkan agar supaya membunuh bakteri, protozoa ataupun organisme lain yang dapat menggagu pertumbuhan phytoplankton nantinya serta untuk mencega terjadinya kontaminasi antara jenis phytoplankton.

                4). Jenis-Jenis Phytoplankton  Pakan Larva Tiram Mutiara

            Didalam unit pembenihan tiram mutiara di CV. Duta Aru Indah, menggunakan/memanfaatkan 5 jenis phytoplankton sebagai pakan larva tiram mutiara, pakan alami larva tersebut adalah: Isocrysis galbana, Pavlova lutheri, Chaetocheros. Sp, Nannoclorophysis. Sp, dan Tetra selmis chuii. Dilihat dari bentuk dan ukuran phytoplankton yang dikultur di CV. Duta Aru Indah, sebagai pakan larva tiram mutiara. Dalam pemberian pakan alami ini disesuaikan dengan umur larva. Pakan alami ini apabila dilihat secara visual, terlihat bahwa ukuran tetrasilmis chuii yang paling besar diantara jenis lainnya. Sedangkan Pavlova lutheri, Isochrysis galbana dan Nannochloropsis sp. ukurannya lebih besar dibandingkan dengan  Chaetocheros amami. Pakan alami jenis Pavlova lutheri, Isochrysis galbana dan Nannochloropsis sp. lebih baik digunakan untuk diberikan pada larva yaitu periode awal dalam pemeliharaan larva tiram mutiara. Hal ini disebabkan karena jenis pakan alami ini ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan jenis lainnya sehingga sesuai dengan bukaan mulut larva tiram mutiara.

Menurut hasil pengalaman para teknisi di CV. Duta Aru Indah, bahwa dengan pemberian pakan alami jenis Pavlova lutheri, isochrysis galbana dan Nannochloropsis sp. pada periode awal pertumbuhan larva memberikan pengaruh sehingga menunjukkan hasil yang baik. Hal ini sejalan dengan pandapat Winanto et al. (2001) bahwa, pada stadia awal larva yaitu stadia bentuk D, tiram mutiara mulai diberikan makanan mikro alga berupa Pavlova sp. dan Isocrysis galbana. Sedangkan jenis Chaetoceros amami dan  Tetraselmis chuii diberikan seterlah larva tiram mutiara menempel pada spat kolektor.

Bibit (inokulum) phytoplankton yang digunakan sebagai pakan larva tiram mutiara berasal dari panti benih lain, yaitu dari daerah dobo propinsi maluku tenggara. Tahapan kultur phytoplankton yang dilakukan pada laboratorium pakan alami CV. Duta Aru Indah adalah stok awetan kultur dan perbanyakan untuk mendapatkan kualitas dan kuantitas inokulum phytoplankton yang baik sebelum diberikan pada larva tiram mutiara dengan teknik kultur murni dan semi massal.

Menurut Umebayshi dalam Winanto et. al (2001) bahwa, mikro alga yang digunakan sebagai pakan larva tiram mutiara adalah memiliki ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut larva, cepat tumbuh dengan kepadatan yang tinggi dan tidak menghasilkan substrat yang beracun. Pendapat ini searah dengan apa yang dilakukan di CV. Duta Aru Indah yaitu kultur phytoplankton jenis Pavlova lutheri sp. Isochysis galbana, Chaetocheros amami dan Tetraselmis chuii dipilih sebagai pakan larva tiram mutiara karena memiliki ukuran ≤ 10 µm, mengandung nutrisi (protein, karbohidrat, lemak dan abu) yang dibutuhkan untuk pertumbuhan larva tiram mutiara, cepat berkembang biak dalam waktu 4-6 hari dan tidak menimbulkan racun terhadap larva.

                5). Kultur Pakan Hidup

            CV. Duta Aru Indah dalam kegiatan kultur pakan hidup ini dilakukan hanya pada skala kultur murni dan kultur semi masal. Karena pakan merupakan salah satu faktor penentu dalam keberhasilan kegiatan pembenihan tiram mutiara, sehingga CV. Duta Aru Indah perlu melakukan kultur phytoplankton demi ketersedian pakan yang tepat waktu, jumlah, dan jenisnya akan sangat mendukung keberhasilan produksi masal spat nanti.

         a). Kultur Murni

Kultur murni pada skala laboratorium dapat menggunakan pupuk atau media Guillard, Conway, atau Walne’s (Lampiran 1). Disini mahasiswa sedikit menemui kendala dimana pupuk yang digunakan hanya mendapat keterangan saja, sedangkan untuk kegiatan dalam kultur phytoplankton ini dirahasiakan oleh bagian teknisi dilaboratorium pakan alami ini, sehingga mahasiswa hanya berpatokan pada buku-buku referensi tentang pupuk yang digunakan untuk kultur pakan alami. Pemeliharaan plankton pada sakala laboratorium di CV. Duta Aru Indah ini dilakukan secara bertahap. Hal ini dilakukan hanya karena untuk menjaga kualitas dan kemurnian inokulum dari stok phytoplankton untuk skala semi massal.

Kultur murni dimulai dengan menyiapkan media/peralatan  kultur yang telah disterilisasi dan diperkaya dengan larutan pupuk. Selanjutnya phytoplankton tersebut dimasukkan kedalam cawan petri dengan media agar. Setelah terbentuk koloni, dilakukan pengamatan dengan mikroskop untuk mengetahui apakah terjadi kontaminasi antara jenis phytoplankton yang satu dengan lain atau tidak. Apabila tidak terjadi kontaminasi maka phytoplankton tersebut segera dipindahkan kedalam tabung reaksi dengan menggunakan jarum Ose, tabung reaksi ini dengan volume 50 cc. Dalam kultur phytoplankton, air laut yang digunakan ini terlebih dahulu disterilisasi dan sebelum inokulum dimasukkan 1/3 bagian, media kultur dipupuk terlebih dahulu.

Pupuk yang digunakan dalam kultur murni untuk jenis phytoplankton Diatomae (Isochrysis galbana, Pavlova lutheri, dan Chaetocheros amami) adalah pupuk Na Medium, sedangkan untuk jenis phytoplankton Chlophyceae (Tetraselmis chuii dan Nannochloropsis sp.) adalah menggunakan pupuk Conwy/Walne’s dengan dosis penggunaan 1,0 ml/l.

Biakan murni atau inokulum didalam tabung reaksi ini segera diperbanyak secara bertahap setelah mencapai puncak (blooming) ini dengan megunakan peralatan gelas, antara lain; tabung carbouy, volume 5 liter dan 8 liter, toples kaca, dan erlenmeyer volume, 50 ml, 100 ml, 500 ml, 1000 ml, 2000 ml. Lama pemeliharaan tergantung jenis dan tingkat kepadatan inokulum, tetapi menurut pengalaman yang di lakukan di CV. Duta Aru Indah, dengan selang waktu pemindahan kultur murni phytoplankton ini setelah 5 hari pemeliharaan. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Winanto, Tjahjo (2004) bahwa, untuk jenis Isochrysis galbana dan Pavlova lutheri yang dipelihara pada skala laboratorium dan semi masal, akan dicapai kepadatan optimum setelah 4-6 hari. Kultur phytoplankton ini dimulai dari inokulum dalam tabung reaksi yang telah padat kemudian dikultur secara bertingkat dari tabung reaksi sampai ke dalam erlenmeyer, tabung carbouy dan toples kaca. dalam tabung reaksi dilakukan tanpa pemberian aerasi sedangkan kultur murni dengan erlenmeyer, tabung carbouy dan toples kaca sampai pada kultur semi massal diberi aerasi (pengudaraan).

Untuk meletakkan peralatan gelas atau botol-botol tersebut digunakan rak yang terbuat dari besi siku yang diletakkan saling berhadapan, ukuran rak ini disesuaikan dengan luas ruangan laboratorium yang ada di CV. Duta Aru Indah dan kapasitas produksi kultur phytoplankton. Phytoplankton yang dikultur dalam laboratorium tersebut mempunyai ruangan yang tertutup dengan kisaran suhu 22-25ºC ini pengaturannya dengan menggunakan AC, salinitas 35‰, pH 7,8-8,3 serta dengan penyinaran lampu TL 40 Watt sebanyak 4 buah.

          b). Kultur Semi Masal

             Pada prinsipnya kultur phytoplankton semi masal sama dengan kultur dalam skala laboratorium (kultur murni), yang membedakan hanya volume wadah yang digunakan  lebih besar. Kultur murni dimulai dengan menyiapkan media/peralatan  kultur yang telah disterilisasi. Selanjutnya phytoplankton tersebut dimasukkan kedalam wadah yang lebih besar. Wadah yang digunakan dalam kultur semi massal ini adalah toples plastik dengan volume 15-30 liter dengan diberi selang aerasi (pengudaraan), setelah itu baru dimasukkan inokulum phytoplankton untuk kultur. Rungan kultur semi massal ini, dilakukan dalam ruangan tertutup dan sama-sama dalam ruang kultur sakala laboratorium dengan pengaturan kisaran suhu, salinitas, pH, serta pencahayaan yang sama. Tujuan kultur dilakukan dalam ruangan tertutup yaitu untuk menjaga kemurnian tiap jenis phytoplankton yang dikultur dari kontaminasi seperti protozoa, bakteri, dan mikroorganisme lainnya. Sedangkan tujuan dari kultur dalam ruangan yang sama yaitu untuk memudahkan pengontrolan phytoplankton serta mempermudah dalam pemindahannya.

 

Gambar 5. Ruang kultur pakan alami tiram mutiara (Pinctada maxima)

            Menurut pendapat Winanto (2004) bahwa, kultur semi massal dimulai dari volume 40-80 liter dalam wadah aquarium yang diletakkan diluar laboratorium. Hal ini sedikit berbeda dengan kultur phytoplankton yang  dilakukan di CV. Duta Aru Indah, karena kultur semi massal jenis phytoplankton yang digunakan sebagai pakan larva tiram mutiara pada volume 15-30 liter.  Pemberian phytoplankton sebagai pakan tiram mutiara ini bersamaan dengan media/wadah kulturnya, sehingga kemurnian dari media kultur phytoplankton mutlak diperhatikan.

                6). Teknik Pembenihan

            Kegiatan pembenihan spat bisa dilakukan jika semua sarana operasional telah tersedia, terutama pakan hidup dan induk. Kegiatan pembenihan ini diawali dengan kultur pakan hidup. Jumlah pakan yang dikulturnya harus cukup untuk pakan induk, larva, dan spat. Kegiatan selanjutnya adalah seleksi induk, pemijahan, pemeliharaan larva, dan spat.

                      a). Seleksi Induk Tiram Mutiara

            Seleksi induk tiram mutiara (Pinctada maxima) yang dilakukan di CV. Duta Aru Indah adalah merupakan tiram dari hasil pembenihan yang dilakukan di Daerah Dobo Propinsi Maluku Tenggara yang kemudian diangkut ke CV. Duta Aru Indah untuk dipijahkan. Jumlah induk tiram hasil seleksi untuk dipijahkan sebanyak 20 ekor yang terdiri dari 10 ekor jantan dan 10 ekor betina. Induk-induk tiram mutiara ini rata-rata telah mencapai TKG  III dan IV.

                      b). Pemijahan dan Proses Pembuahan

            Lama pengangkutan induk ini selama tiga hari perjalan dari Daerah Dobo Maluku Tenggara sampai ke lokasi CV. Duta Aru Indah Maluku Utara dengan kapal laut. Setelah sampai, induk ini kemudian dibawah ke hathery untuk dimasukkan kedalam bak induk yang terbuat dari fiberglass bervolume 1 ton, bak ini berwarna bening transparan. Bak ini berfungsi sebagai tempat aklimatisasi sekaligus sebagai bak pemijahan. Proses aklimatisasi dilakukan selama satu hari.

Tindakan awal dalam kegiatan pemijahan di CV. Duta Aru Indah ini adalah induk dipuasakan selama 24 jam, yang kedua induk diberi pakan phytoplankton dengan dosis tinggi, dan yang ketiga adalah memberikan perangsangan dengan bahan kimia.

Induk dipuasakan selama 24 jam ini dengan tujuan untuk perbaikan kualitas sel gonad juga sebagai salah satu manipulasi untuk perangsangan pemijahan terhadap induk tiram yang sedang matang gonad. Tahap yang kedua adalah memberikan pakan dengan kepadatan tinggi, berupa beberapa campuran jenis fitoplankton kedalam bak pemijahan degan volume 3 ton dengan berisi air media penuh.  Jenis phytoplankton yang diberikan ini adalah Isocrysis galbana sebanyak 25 liter, Chaetocheros sp. sebanyak 15 liter, dan Pavlova lutheri sebanyak 2 liter. Hal ini sesuai dengan pendapat Winanto (2004) bahwa, pemeliharaan induk mutiara Pinctada maxima dilaboratorium dilakukan didalam bak fiberglass kapasitas 1 ton. Aplikasi pakan hidup diberikan dengan variasi komposisi Isocrysis galbana atau Pavlova lutheri dengan Tetraselmis tetrathele atau Chaetocheros sp.

Rekayasa pemijahan yang dilakukan di CV. Duta Aru Indah adalah metode rangsangan kimia dengan larutan Amoniak (NH4) 25 % sebanyak 1,5 cc kedalam 15 liter air laut. Tehnik pemijahan dengan metode rangsang ini dilakukan dengan cara mengambil 1 ekor tiram induk jantan dengan fase matang gonad penuh. Kemudian cangkang dibuka dengan alat pembuka, lalu otot yang menghubungkan kedua belah cangkang (otot edukator) dipotong dengan pisau. Secara hati-hati dagingnya dikeluarkan. Mantel dan insang dibuang sehingga yang tersisa bagian yang terisi gonad. Selanjutnya, bagian tersebut disayat-sayat dengan pisau, lalu dimasukkan kedalam wadah yang telah terisi air laut bersih, kemudian diaduk-aduk sampai larut. Larutan sperma ini kemudian disaring dan dimasukkan kedalam bak pemijahan untuk merangsang induk pemijahan. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Winanto (2004) bahwa, rekayasa pemijahan perlu dilakukan jika secara alami induk tiram tidak mau memijah didalam bak pemijahan. Namun, induk yang akan dipijahkan harus memenuhi persyaratan teknis. Induk tiram dapat dipijahkan dilaboratorium dengan metode manipulasi lingkungan dan rangsangan kimia.

             Setelah 1 jam kemudian setelah pemberian larutan amoniak induk ini segera dipindahkan kedalam bak pemijahan yang berisi air laut bersih. Rungan pemijahan ini diatur sehingga suasannya gelap sebelum induk tiram memijah. Hal ini disesuaikan dengan kehidupan tiram dilaut untuk memudahkan proses pemijahan. Setelah 5 menit kemudian induk ini segera memijah. Induk yang pertama kali memijah adalah induk jantan, kemudian disusul oleh induk betiana setelah 3 menit kemudian. Induk jantan mengeluarkan sperma yang berwarna putih seperti asap dengan ukuran ± 0,3 µ yang bergerak aktif, sedangkan induk betina mengeluarkan sel-sel telur yang berwarna kekuning-kuningan dengan ukuran ± 6 µ yang bergerak pasif. Setelah semua isi gonad induk tiram keluar, tiram induk ini segera diangkat dari bak pemijahan. Hal ini dilakukan untuk menghindari agar supaya induk tiram tidak menyerap kembali telur yang sudah dikeluarkan sehingga proses pembuahan dapat berlangsung dengan baik.

Dalam pemijahan ini, induk tiram mutiara (Pinctada maxima) yang digunakan sebanyak  20 ekor, yang terdiri dari 10 ekor jantan dan 10 ekor betina. Dari 10 ekor induk jantan ini diambil 1 ekor yang digunakan untuk diambil spermanya sebagai perangsang untuk proses pemijahan. Induk tiram yang berhasil memijah adalah 9 ekor, yang terdiri dari 4 ekor jantan dan 5 ekor betina.

 

 

 

 

 

 

Gambar 6. Proses pemijahan tiram mutiara (Pinctada maxima)

            Proses pembuahan terjadi diluar tubuh  didalam media air. Proses pembuahan ini terjadi segera setelah kedua induk jantan dan betina memijah. Telur-telur yang belum dibuahi berbentuk agak lonjong menyerupai biji jeruk, sedangkan yang telah dibuahi berbentuk bulat dengan diameter antara 48-55 µ. Hal ini tidak berbeda jauh apa yang dikemukakan oleh Winanto (2004) bahwa, telur yang belum dibuahi bentuknya agak lonjong menyerupai biji jeruk. Sedangkan yang telah dibuahi bentuknya bulat dengan diameter antara 56-65 µ.

Setelah proses pembuahan terjadi, pemanenan telur ini segera dilakukan. Sebelum pemanenan telur, terlebih dahulu dilakukan pengambilan sempel untuk dilakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop. Hal ini dengan tujuan untuk dapat mengetahui apakah semua telur terbuahi serta mengecek kualitasnya telur. Pemanenan telur ini dengan cara penyifonan air yang berisi telur untuk dipindahkan kedalam wadah volume 30 liter sebanyak 20 buah. Alat penyaringan telur ini menggunakan saringan (planktonet) yang disusun bertingkat, dengan ukuran 63 mikron dan 20 mikron. Saringan 63 mikron ini digunakan untuk menyaring kotoran, termasuk feses dan isi perut yang kelur bersamaam dengan isi gonad pada saat pemijahan, sedangkan saringan 20 mikron untuk menampung telur. Saringan ini diletakkan didalam wadah peletakan telur dengan cara disusun, untuk saringan 63 berada dibagian atas dan saringan 20 mikron berada dibagian bawah untuk menyaring telur.

                7). Pemeliharaan Larva

            Pemeliharaan larva hingga spat akan berhasil jika memperhatikan terjadinya periode kritis. Selama pertumbuhan, larva mengalami tiga kali periode kritis yaitu pada fase D, fase umbo dan periode kritis yang ketiga yaitu pada fase plantigrade.

                a). Perkembangan Awal

Perkembangan awal telur sampai larva yang terjadi pada pemijahan di CV. Duta Aru Indah ini adalah, proses pembelahan sel yang terjadi setelah ± 50 menit pembuahan. 20 menit kemudian sel membelah menjadi dua, lalu 35 menit berikutnya sel membelah menjadi 4 sel, 8sel, 16 sel, 32 sel sampai membelah menjadi multi sel. Fase morula dicapai setelah 3 jam. Fase blastula dicapai setelah larva berumur 3,3 jam, pada fase ini gerakan larva mulai aktif berputar-putar, kemudian fase selanjutnya adalah fase grastula. Pada fase grastula, larva ini mulai dipindahkan dari wadah volume 30 liter kedalam bak penetasan dengan volume 5 ton sebanyak 8 buah. bak ini sekaligus sebagai bak pemeliharaan larva.

                b). Perkembangan Larva

Pada perkembangan larva terdapat beberapa masa kritis yang harus dilalui dari larva hingga menjadi spat, yaitu:

  • Fase Veliger

Pada fase ini, wadah pemeliharaan mulai diberi aerasi yang kecil. Fase veliger atau larva bentuk D (D-shape) dicapai setelah larva berumur 21,5 jam. Hal ini tidak jauh beda dengan apa yang dikemukakan oleh Winanto (2004) bahwa, fase veliger atau larva bentuk D dicapai setelah larva berumur antara 18-20 jam dan berukuran 70 µ x 80 µ. Pada fase ini larva mulai diberi pakan mikroalga. Pada fase veliger, perkembangan larva mulai  menyebar pada bagian pertengahan dan permukaan media pemeliharaan. Hal yang sama apa yang diungkapkan oleh Winanto (2004) bahwa, larva fase veliger bersifat fotopositif sehingga tampak berenang-renang dipermukaan air. Pada fase ini ditandai dengan mulai tumbuhnya organ mulut, pencernaan, larva mulai makan dan tubuhnya mulai ditutupi oleh cangkang tipis, serta secara bertahap cangkang ini akan berkembang. Fase ini merupakan masa kritis yang pertama karena larva  pada saat ini mulai makan sehingga perlu penyesuaian dengan bukaan mulut larva

  • Fase Umbo

Setelah 12-15 hari, larva, larva mulai mengalami metamorfosis menjadi fase umbo dengan ukuran 130µ-136µ yang ditandai dengan adanya tonjolan (umbo) pada bagian dorsal. Larva pada fase ini, dicirikan oleh keadaan tubuh yang sehat, mempunyai aktifitas gerakan yang aktif dengan cara berputar-putar menggunakan silianya serta menyebar merata pada lapisan permukaan dan tengah air, serta mempunyai warna perut yang sesuai dengan pakan yang diberikan. Hal yang sama juga dengan apa yang dikemukaan oleh Winanto (2004). Pakan yang dikonsumsi adalah Isocrisis galbana dan Pavlova lutheri maka larva yang sehat akan banyak makan (kenyang) sehingga perutnya berwarna kuning tua, larva yang cukup makan  (sedang) bagian perutnya berwarna kuning, dan yang tidak mau makan perutnya berwarna kuning mudah. Warna pada bagian perut larva ini karena didominasi oleh warna jenis pakan yang dimakan serta jumlah yang dikonsumsinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Winanto (2004), bahwa warna perut larva dapat bervariasi tergantung jenis pakan yang dikonsumsinya. Pemeriksaan warna pada bagian perut larva ini dengan mengunakan mikroskop.

  • Fase Pediveliger

Perkembangan larva terjadi secara bertahap. Pada akhir masa umbo larva mengalami perubahan menjadi fase pediveliger dengan ukuran antara 200µ-230µ pada hari ke 16 dan 17. Fase ini ditandai dengan timbulnya kaki (pedi), dan terlihat adanya bintik hitam (eye spot) yang berada dibawah primordial kaki serta lembaran-lembaran insang. Fase ini merupakan masa kritis yang ke dua karena larva mulai mencari tempat untuk menempel dan menetap, sehingga untuk keperluan ini larva memerlukan energi ekstra.

  • Fase Plantigrade

Setelah larva berumur 19-22 hari larva mencapai fase pantigrade dengan ukuran 230µ-210µ yang ditandai dengan tumbuhnya cangkang baru dan tumbuhnya byssus untuk menempel pada substrat. Byssus adalah organ tubuh yang bentuknya seperti rambut atau serat yang berwarna hijau kehitaman. Byssus dihasilkan dari sekresi cairan benang byssus, yaitu proses gerakan berenang dan kebiasaan berputar-putar sehingga cairan akan mengalir keluar dari lubang pada kaki dan segera akan mengeras saat beraksi dengan air laut. Ini adalah masa kritis yang cukup ekstrim pada larva, aksi penempelan ini diawali dengan gerakan menurun  (fase planktonis), kemudian menuju kedasar perairan dengan disertai gerakan berenang dan berputar-putar akhirnya keluarnya benang byssus agar dapat menempel pada substrat. Inilah pertanda dimulainya larva hidup menetap didasar. Jika tidak ditemukan substrat yang baik bagi kehidupannya, maka biasanya larva akan cenderung menunda periode untuk menempel atau menetap. Hal yang sama juga dengan pendapat yang dikumukakan oleh Winanto (2004).

 

Tabel 7. Tahapan waktu pada kegiatan pemijahan dan pembenihan larva di

 CV. Duta Aru Indah

No Waktu (WIT) Kegiatan
1 09.00 Pemberian pakan pada induk
2 09.30 Perangsangan dengan larutan amoniak
3 10.30 Kelurnya sel sperma dari induk jantan
4 10.35 Kelurnya sel telur dari induk betina
5 11.05 Polar bodi I keluar
6 11.25 Pembelahan 2 sel
7 12.00 Pembelahan 4,8,16 sel dan seterusnya
8 15.00 Fase morula
9 17.30 Fase blastula
10 18.00 Fase gastrula (Pemindahan larva dari wadah 30 liter ke bak penetasan Volume 5 ton)
11 18.40 Fase trocofor
12 8.30 Fase D

     

                8). Pemberian  Pakan Larva

Dalam pemberian pakan merupakan faktor penentu di dalam kegiatan pemeliharaan larva tiram mutiara. Ketersediaan pakan yang tepat, jumlah, dan jenis pakan akan sangat mendukung suksesnya produksi massal spat  dalam laboratorium. Mikroalga yang di gunakan di CV. Duta aru Indah sebagai pakan larva tiram adalah berukuran dari 10 µ atau disesuaikan dengan bukaan mulutnya. Beberapa jenis alga yang di gunakan adalah jenis Isochrysis galbana, Pavlona lutheri, Nannochloropis sp. Chorella sp. Tetraselmis chuii dan Chaetoseros sp.

Untuk larva tiram mutiara, di CV Duta Aru Indah, pakan yang diberikan adalah jenis Nannochloropsis, Pavlova lutheri, dan Ishochrysis galbana dengan kepadatan pemberian awal masing-masing 2350 x 104  sel/ ml; 1189 x 104 sel/ml; 793 x 104 sel/ml; atau perbandingan ± 6:3:2. Pemberian pakan larva di CV. Duta Aru Indah dibuat bervariasi, bertujuan untuk menyediakan nutrisi yang lebih lengkap untuk pertumbuhan. Hal ini sesuai dengan pendapat Winanto dalam Noriwari (2004), bahwa pemberian pakan alami yang bervariasi dapat memberikan kelengkapan nutrisi bagi organisme laut yang dibudidayakan terutama larva dan spat mutiara, karena tidak semua spesies plankton mempunyai kandungan nutrisi yang sama untuk pertumbuhan.

Pemberian pakan tersebut terus mengalami peningkatan setiap harinya sesuai dengan kebutuhan larva, dengan rata-rata 1000 sel/ml/ hari. Untuk menentukan dosis pakan yang diberikan, dilakukan pemeriksaan kondisi perut atau lambung larva dan pemeriksaan air media pemeliharan larva

Kondisi perut atau lambung larva diperiksa dibawah mikroskop dengan pembesaran 100 kali.. Ada beberapa warna yang menunjukan keadaan lambung larva. Jika diperiksa lambung atau perut larva berwarna kuning maka kondisi larva kekurangan makan, pakan dapat ditambahkan plankton sejumlah ½ dari dosis awal. Jika setelah diperiksa lambung berwarna cokelat muda maka lambung berisi makanan, tapi masih kurang dan perlu ditambahkan plankton sekitar 1/3 dari dosis awal. Lambung atau perut larva berwarna cokelat tua berarti tidak perlu ditambahkan makanan karena lambung tersebut berisi penuh dengan plankton.

Pemeriksaan air media pemeliharaan juga dapat menentukan dosis pemberian pakan. Jika media air terlihat jernih pada pagi hari, maka pakan termakan habis oleh larva, tetapi apabila air media tampak keruh maka pakan tidak habis termakan oleh larva atau larva banyak yang mati.

Pakan diberikan 2 kali sehari pagi dan sore yaitu pukul 08.00 dan 16.00 WIT. Adapun cara pemberiannya yaitu dengan menyiram langsung larutan pakan ke semua penjuru bak pemelihraan larva.

          9). Pemeliharaan Spat

            Terjadinya spat ditandai dengan terbentuknya garis lurus engsel serta berkembangnya bagian ujung bawah anterior dan posterior. Secara utuh bentuk spat seperti tiram dewasa, hanya garis-garis pertumbuhanya masih terlihat jelas. Menurut Winanto (2004) bahwa, beberapa faktor yang mempengaruhi kebiasaan atau kesukaan menempel spat adalah kedalaman, bentuk/posisi kolektor, dan permukaan substrat yang keras dan kasar. Kondisi awal spat ini merupakan masa yang sangat kritis karena byssusnya belum permanen.

Menurut Winanto (2004) juga bahwa, secara umum bahan kolektor yang baik yaitu tidak mengeluarkan senyawa kimia jika beraksi dengan laut, menarik minat spat untuk menempel, dan tidak mengganggu pertumbuhan. Media yang di gunakan di laboratorium CV. Duta Aru Indah ini adalah dengan menggunakan bahan tirai plastik yang berwarna hitam dan dipotong-potong dengan ukuran 15 x 30 cm. Penanganan spat yang tidak menempel pada kolektor dapat diatasi dengan cara disapu secara hati-hati dengan menggunakan spon atau kaus kemudian dilakukan penyaringan. Spat yang tersaring kemudian ditaburkan kembali pada kolektor yang telah dipindahkan pada bak lain secara hati-hati dengan bantuan air laut yang disiramkan pada spat menuju media kolektor sebagai tempat penempelan spat.

Pemberian pakan pada spat tiram di CV. Duta Aru Indah dilakukan 4 kali sehari yakni pukul 08.00, 14.00, 18.00, 21.00 WIT. Pemberiannya dilakukan dengan menyiramkan larutan pakan ke setiap kolom gantungan kolektor.

Pada stadia spat, tiram mutiara diberi pakan kombinasi Ishochrysis sp, Pavlova lutheri, dengan Chaetoceros sp. dengan perbandingan 1:1, jumlah pakan yang diberikan antara 9.000-12.000 sel/ml/hari. Untuk menjaga kualitas air, serta membuang kotoran dari sisa pakan maka digunakan sistem air mengalir (running water). Serta untuk menjaga agar pakan yang diberikan tidak ikut terbuang oleh aliran air, maka pada saat pemberian pakan air ini di hentikan sementara.

Pemanenan di CV. Duta aru Indah yang dilakukan pada tiram mutiara umur spat ini yaitu, selama 40 hari pemeliharaan dilaboratorium, dengan cara memasukkan kolektor yang berisi spat kedalam kantong waring.

                10). Pendederan

Kegiatan pendederan ini merupakan kegiatan lanjutan dari pemeliharaan spat dilaboratorium. Di CV. Duta Aru Indah pemeliharaan spat dilaboratorium ini selama 40 hari baru dilakukan pemindahan spat ke lokasi pendederan dilaut. Hal ini tidak berbeda jauh dengan apa yang dikemukakan oleh Winanto (2004) bahwa, setelah spat berumur 50-60 hari atau setelah mencapai ukuran 3-5 mm DVM dapat dipindahkan ketempat pendederan dilaut.

            Pada masa pendederan khususnya, dibutuhkan penanganan ekstra hati-hati dan cermat karena kondisi spat yang baru dipindahkan dari laboratorium masih sangat sensitif dan muda stress. Hal ini dikarenakan pemeliharaan pada laboratorium semua kondisi terkendali, bahkan kondisi lingkungan direkayasa sehingga mendekati atau serupa dengan kondisi dialam. Namun sebaliknya setelah berada dialam, spat tidak saja harus beradaptasi degan lingkungan yang fluktuatif, tetapi juga harus berkompetinsi dalam hal ruang dan pakan, serta berhadapan dengan kompetitor dan predator. Sehingga hal ini juga perlu mendapat perhatian yang serius.

Kegiatan pendederan ini dilakukan dengan cara, spat yang masih menempel pada kolektor dimasukkan kedalam kantong waring dengan lebar mata 1 mm. Tujuan dari pembungkusan dengan kantong waring ini untuk mencegah agar spat tidak dimangsa oleh predator dan untuk mengurangi penempelan kotoran. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Winanto (2004) bahwa, ukuran mata jaring yang terlalu kecil kurang baik untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup spat, hal ini dikarenakan bisa menghambat sirkulasi air, suplai pakan, dan penanganan lebih sulit. Sebaliknya, mata jaring terlalu besar juga tidak baik, karena predator mudah untuk masuk. Kantong waring yang baik untuk pembungkusan spat yang masih menempel pada kolektor adalah ukuran 1-2 mm.

Selama pemeliharaan awal dilaut, spat memerlukan penanganan yang baik, hati-hati, dan tidak kasar. Perawatan seperti pembersihan tempat pemeliharaan dan penjarangan akan sangat membantu meningkatkan kelangsungan hidup spat.

  • Pemeliharaan awal

Spat-spat yang baru dipindahkan dari laboratorium, tetap dibiarkan menempel pada kolektor dan diselubungi kantong jaring bermata 1 mm. pemeliharaan ini dilakukan dengan menggunakan tali rentang (long line) dengan kedalaman 4 m. hal ini sesuai dengan pendapat dari (Winanto 2004) bahwa, spat yang baru dipelihara dilaut dapat dilakukan dengan digantung pada tali rentang atau digantung pada rakit apung dengan kedalaman 3-4 m. Untuk menjaga agar keranjang pemeliharaan tidak banyak bergerak karena diterpa arus maka bagian bawah keranjang diberi pemberat dengan menggunakan batu yang diikat. Kegiatan rutin yang sering dilakukan adalah hanya mengganti kantong jaring setiap 2 minggu atau tergantung dari tingkat kotoran dan organisme penempel.

  • Penjarangan dan pemanenan

Penjarangan spat yang dilakukan di CV. Duta Aru Indah dilaut ini dengan tujuan untuk mengurangi tingkat kepadatan spat per satuan ruang agar tidak terjadi kompetisi antara spat terhadap ruang pemeliharaan, dan untuk mendapatkan pakan. Dengan penjarangan ini diharapkan pertumbuhan spat menjadi normal dan tingkat kelangsungan hidup lebih tinggi. Penjarangan ini dilakukan setelah spat mencapai ukuran 2-3 cm atau setelah pemeliharaan 2-3 bulan dilaut.

Spat atau bibit ini kemudian dimasukkan kedala sekat-sekat Pocket net dari kepadatan 80-100 ekor per keranjang menjadi 60-80 ekor per keranjang pada kedalaman 3 m pada sarana tali rentang selama 3-5 bulan. Pada tahap pemeliharaan ini spat belum dapat hidup pada arus yang terlalu kuat. Kemudian spat digrading kembali menjadi 40-60 ekor setelah ukuran tiram mencapai 3 cm. pada proses selanjutnya tiram digrading menjadi 20-40 ekor, 12-16 ekor, 10 ekor dan 8 ekor per keranjang sampai siap operasi dan dipelihara selama 10-12 bulan.

Teknik penjarangan dilakukan denghan cara sebagai berikut :

  1. Angkat kolektor dari tali rentang (long line) yang dalam laut dan lepas kantong jaring. Spat dalam kolektor ini lalu dibawah ke rumah rakit untuk dilakukan  penjarangan.
  2. Dikelurkan substrat berupa serabut tali atau paranet dari setiap kantong kolektor.
  3. Dipisahkan satu per satu spat yang menempel secara bergerombol. Saat pemisahan jangan sampai bissusnya tercabut, ini dilakukan dengan menggunakan pisau untuk memotong bissus.
  4. Hasil pemisahan ini ditampung didalam bak fiber glass yang berisi air laut.
  5. Setelah itu baru spat dimasukkan kedalam keranjang jaring (waring) dengan ukuran 40 cm x 60 dengan kepadatan 50-60 ekor.
  6. Setelah itu keranjang pemeliharaan ditutup kembali dengan kantong jaring, yang bermata jaring 3 mm, lalu digantung ketempat pemeliharaan pada long line dengan kedalaman 6 m.

Gambar 7. Penjarangan spat yang dilakukan di CV. Duta Aru Indah

            Pemeliharaan pasca penjarangan tetap perlu diperhatikan. Setiap bulan dilakukan pergantan kantong jaring. Jika kepadatan atau tingkat kotoran dan organisme penempel rendah maka setelah 1-2 bulan dari penjarangan tidak perlu diberi kantong jaring (Winanto, 2004).

Di CV. Duta Aru Indah kegiatan pemanenan pada masa pendederan ini dilakukan pada  tiram dengan ukuran spat 5-6 cm untuk dilakukan pembesaran. Pemanenan dilakukan dengan cara  mengambil spat satu per satu,  ini digunakan  pisau untuk memotong bissus agar mengurangi stress atau mengurangi angka kematian akibat  dari penanganan ini. Pada waktu yang bersamaan, sekaligus dilakukan pembersihan cangkang dan dilakukan seleksi untuk spat yang akan dibesarkan.

             b. Sarana dan Prasarana Pembesaran

                 1) Pembuatan Sarana Rakit Apung

CV. Duta aru Indah mempunyai 7 rakit apung , yaitu terdiri atas 2 unit rakit apung untuk masa pelemasan (yokusey), 1 unit untuk  tiram donor (dibuat umpan) serta 4 unit rakit apung lainnya untuk masa penyembuhan pasca operasi dan tento. Pada rakit untuk masa pelemasa (yokusey) terdapat 100 gantungan keranjang besi yang masing-masing berisi 10 ekor tiram mutiara maka total penebaran pada rakit ini adalah 1000 ekor atau 6.000 ekor tiram mutiara dalam 1 unit rakit apung, jadi 2 x 6.000 ekor maka terdapat 12.000 ekor tiram dalam rakit apung untuk masa pelemasan (yokusey).

Sedangan untuk rakit apung masa penyembuhan pasca operasi dan tento terdapat 100 gantungan keranjang plastik dalam 1 unit rakit kecil yang masing-masing berisi 20 ekor tiram maka total penebaran pada rakit ini adalah 2000 ekor atau 12.000 ekor tiram mutiara dalam 1 unit rakit apung, jadi 4 x 12.000 ekor maka terdapat 48.000 ekor tiram dalam rakit apung untuk masa penyembuhan pasca operasi dan tento.

Dalam satu unit sarana rakit apung mempunyai 6 rakit apung kecil yang dibuat dari kayu bakau ini dengan ukuran panjang 9 x 9 m per rakit, serta mempunyai ukuran diameter kayu 15-30 cm. Pembuatan rakit apung ini dimulai dengan membentuk rakit persegi empat kemudian disusun sebanyak sepuluh batang kayu pada posisi horizontal dengan jarak antara kayu  bakau 90 cm dan 10 batang secara vertikal. Jumlah seluruh kayu bakau dalam satu rakit apung kecil adalah 20 buah atau 60 buah dalam 1 unit, maka keseluruhan dalam 7 unit rakit apung adalah 420 buah kayu bakau yang digunakan.

Kerangka rakit apung ini kemudian diikat dengan menggunakan kawat yang berdiameter 3 mm. Pengikatan dilakukan secara berlawanan pada setiap titik pertemuan kayu bakau, sehingga kerangka rakit apung ini akan menjadi kuat kedudukannya. Pada masing-masing setiap rakit kecil dipasang pelampung berbentuk silinder dengan diameter 60 cm dan panjang 1 meter yang terbuat dari bahan drum plastik atau styrofoam yang di lapisi plastik berwarna kuning/biru serta tahan bocor, sebanyak 6 buah padas setiap sisi rakit apunng. Pelampung ini diikat engan menggunakan tali polythelen berwarna hitam/biru dengan diameter 8 mm. Pembuatan rakit apung ini dilakkan didarat kemudian diturunkan kelokasi budidaya dengan menggunakan spead boat. Setelah sampai dilokasi budidaya rakit kecil ini kemudian disambung dengan rakit-rakit kecil lain sehingga membentuk 1 unit rakit apung besar. Setelah semua terpasang, rakit apung ini kemudian diberi pemberat dari beton (blok semen) sebanyak 14 buah yang diikat dengan menggunakan tali polythelen berdiameter 5 cm. Pemberat ini diikat pada setiap sudut dan pertengahan rakit. Tali yang digunakan untuk menyambung pemberat dengan rakit apung panjangnya dua kali kedalaman laut atau ± 50-100 m.

 

Gambar 8. Rakit apung untuk pemeliharaan tiram mutiara di CV. Duta Aru Indah

     2). Pembuatan Sarana Tali Rentang (long line)

             Pembuatan sarana tali rentang ini digunakan untuk pemeliharaan tiram dari ukuran benih (spat) sampai ukuran siap operasi atau tiram yang dimulai dari saat pendederan sampai pembesaran dan pemeliharaan setelah operasi sampai panen. Di CV. Duta Aru Indah total penebaran disarana tali rentang adalah 10.000 ekor per unit untuk tiram ukuran 5-6 cm, sedangkan untuk padat penebaran pada pembesaran atau setelah operasi adalah 8.000 ekor per unit tali rentang. Setiap unit tali rentang mempunyai 10 buah tali rentang yang dibuat dari tali polythelen berdiameter 5 mm dengan panjang 102 m. Satu buah tali rentang dipasang bola pelampung sebanyak 26 buah dengan dimeter bola pelampung 30 cm dan jarak antara bola pelampung adalah 3,35 cm, serta dalam satu buah tali rentang dipasang 100 buah keranjang net. Sehingga dalam satu unit tali rentang dapat memuat 1000 buah keranjang net.

Gambar  9. Tali rentang untuk Pemeliharaan Tiram Mutiara di CV. Duta Aru Indah

                   Pembuatan sarana tali rentang ini dilakuklan didarat setelah itu baru dibawa kelaut dengan menggunakan spead boat. CV. Duta Aru Indah mempunyai 30 unit tali rentang yang terdiri dari, 10 unit untuk pembesaran sebelum operasi, 10 unit untuk masa pendederan dan 10 unit untuk tiram setelah operasi. Jarak antara tali rentang dalam satu unit longline adalah 5 m. Di kedua ujung tali rentang di beri pemberat yang terbuat dari blok semen (beton) dengan panjang tali pemberat 2-3 kali kedalaman laut tempat pemeliharaan. Diantara kedua pelampung dipasang empat tali gantungan untuk keranjang net dengan jarak 80 cm dan panjang  tali 4,25 cm. Pada setip tali gantungan terdapat 1 buah keranjang net yang berisi 8 buah tiram mutiara (untuk pebesaran dan setelah operasi). Pemasangan tali long line harus diperhatikan keadaan arus pada perairan tersebut. Pemasangan tali rentang harus searah dengan arus yang bergerak pada perairan tersebut dan tidak boleh berlawanan karena dapat menyebabkan tali rentang atau gantungan keranjang net dapat bercampur antara yang satu dengan yang lain sehingga mempersulit pengaturan tiram mutiara.

c. Penanganan Tiram Sebelum Operasi Pemasangan Inti Mutiara bulat

             1). Seleksi Bibit Tiram mutiara

         Seleksi bibit tiram mutiara yang dilakukan di CV. Duta Aru Indah untuk tiram yang akan dioperasi pemasangan inti mutiara bulat, kegiatan pertama adalah bibit tiram  diangkut dari sarana tali rentang ke rumah rakit dengan menggunakan spead boat, kemudian dilakukan penyeleksian. Tiram akan diseleksi untuk dijadikan bibit setelah pemeliharaan selama 10-12 bulan  di sarana tali rentang (long line). Penyeleksian bibit dilakukan oleh para karyawan dan karyawati yang bekerja di ruang operasi. Seleksi bibit tiram ini dilakukan sesuai kriteria bibit yang telah ditentukan oleh para teknisi yang melakukan operasi pemasangan inti mutiara bulat. Penyeleksian bibit tiram mutiara antara lain meliputi :

  • Bentuk dan kondisi cangkang tidak cacat dan organ dalamnya tidak berwarna pucat
  • Tidak sedang matang telur
  • Sudah di pelihara selama 15-18 bulan dari pembenihan.
  • Dengan ukuran cangkang > 8 cm.

Seleksi bibit tiram yang akan dioperasi pemasangan inti mutiara bulat ini dilakukan sebelum tiram memasuki masa pelemasan, hal ini dimaksudkan agar pada saat tiram siap operasi sudah memenuhi kriteria yang dinginkan oleh teknisi. Hal ini menurut Sutaman (1993) bahwa, bibit siap operasi adalah tiram yang kondisinya sehat, tidak cacat, telah berumur 2-3 tahun jika benih tersebut diperoleh dari budidaya dan berukuran diatas 15 cm jika benih tersebut diperoleh dari hasil penangkapan di alam. Sehingga pandapat ini sedikit berbeda dengan apa yang dilakukan di CV. Duta Aru Indah, karena tiram yang sedang dioperasi berukuran 8-10 cm dan pemeliharaannya selama 15-18 bulan dari pembenihan. Menurut para teknisi yang berada di CV, Duta Aru Indah bahwa, faktor umur dan ukuran benih ini disesuaikan dengan ukuran diameter inti mutiara bulat (nukleus) yang digunakan. Tiram yang dipilih dengan umur 15-18 bulan ini dikarenakan semakin tua umur tiram tersebut maka semakin menurun cairan (nacre) yang dihasilkan untuk pembentukan mutiara bundar.

                 2). Masa Pelemasan (Yokusey)

             Tiram yang akan memasuki masa pelemasan dibersihkan terlebih dahulu menggunakan pisau. Pembersihan ini bertujuan agar tiram dapat bertahan hidup pada saat masa pelemasan dan saat pemasangan inti mutiara bulat. Langkah selanjutnya adalah tiram dimasukkan kedalam keranjang kawat dengan posisi cangkang cembung berada di bagia bawah. Kemudian keranjang plastik ini ditutupi dengan waring dengan mata waring 0,3 mm dan dipelihara pada sarana rakit apung pada kedalaman 5 m dengan menggunakan tali polythelen. Setelah habis masa pelemasan, yakni 1 bulan, keranjang dinaikkan dari kedalaman 5 m menjadi 1 m, sehari sebelum proses pemasangan inti mutiara bulat.

Tujuan dari masa pelemasan (yokusey) ini adalah agar tiram mutiara dalam memperoleh makanan yang masuk kedalam cangkang menjadi terbatas sehingga menghambat proses kematangan gonad (telur) dan diharapkan tiram perlahan-lahan menjadi lemas. Hal ini menerut Shohei (1970) dalam Winanto (1987) bahwa, tiram sangat peka terhadap rangsangan dari luar apabila dalam keadaan sehat dan kuat serta pada waktu  matang telur, sehingga inti (nukleus) yang dipasang dapat dimuntahkan kembali oleh tiram mutiara yang dioperasi.

                3). Pembukaan Cangkang Tiram Mutiara

Dalam kegiatan pembukaan cangkang tiram mutiara yang akan memasuki tahap pengoperasian pemasangan inti (nukleus) mutiara bulat, langka pertama adalah diangkat dari rakit apung dan diletakkan di rumah operasi. Waring yang membungkus keranjang kawat segera di buka, lalu tiram yang siap di operasi ini diletakkan kedalam keranjang kawat yang sudah disiapkan dalam bak fiberglass, tiram ini diletakkan dengan posisi berdiri atau bagian dorsal dibawah, kemudian dilakukan pembatasan air laut. Biasannya tiram akan segera membuka cangkang karena kekurangan oksigen. Di dalam bak fiber ini juga dilakukan sistem sirkulasi air, hal ini bertujuan untuk memaksa tiram membuka cangkangnya.

Penyebab utama sehingga tiram membuka cangkangnya adalah karena adanya perbedaan suhu dan tekanan. Setelah cangkang terbuka sebagian, segera digunakan alat pembuka cangkang (forsep) untuk memperlebar bukaan cangkang serta cangkang tetap tertahan terbuka. Lalu baji dimasukkan dengan hati-hati dari arah ventral ke anterior dan diusahakan agar tidak menyentuh organ bagian dalam tiram. Proses pembukaan cangkang ini diperlukan kehati-hatian dalam melakukan penekanan terhadap forsep untuk pemasangan baji, sehingga hal ini jangan dipaksakan apabila tiram belum membuka cangkang karena cangkang bisa pecah. Penekanan forsep yang terlalu kuat juga dapat meyebababkan kerusakan dan keretakan otot tiram yang dapat berakibatkan kematian. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Winanto (1987) bahwa, dalam pembukaan cangkang tiram mutiara, diperlukan keahlian untuk membukannya karena akan sangat menentukan keberhasilan dalam kegiatan pemasangan inti (nukleus).

 

Gambar 10. Proses pembukaan cangkang dengan menggunakan forsep

Tiram yang sudah terpasang baji kemudian dibersihkan dari organisme penempel dengan menggunakan pisau dan sikat. Pembersihan ini dilakukan dengan tujuan untuk mempermudah teknisi dalam melakukan pengoperasian, selain itu juga memperkecil gangguan organisme penempel pada masa penyembuhan dari luka shock akibata sayatan yang dilakukan untuk penempatan inti mutiara. Selanjutnya tiram ini diatur pada wadah yang telah disiapkan dengan posisi ventral dibagian bawah dan segera dimasukkan kedalam ruang operasi dan tiram-tiram ini diletakkan pada meja untuk proses pemasangan inti (nukleus) mutiara bulat yang dilakukan teknisi.

d. Teknis Operasi Pemasangan Inti Mutiara Bulat

Keberhasilan produksi mutiara bulat sangat ditentukan oleh pengalaman dan ketrampilan dari seorang teknisi dalam melakukan pengeoperasian serta ketersedian peralatan yang memadai. Akibat ketidakcermatan dari teknisi dalam operasi pemasangan inti mutiara bulat dapat mengakibatkan tidak terbentuknya lapisan mutiara yang diharapkan serta tingkat kematian dari tiram sangat tinggi. Oleh karena itu seorang teknisi dalam melakukan kegiatan ini harus orang yang berpengalaman dalam budidaya tiram mutiara pada umumnya dan berpengalaman dalam bidang operasi pemasangan inti mutiara pada khususnya minimal selama 3 tahun.  Untuk para teknisi pengoperasian ini, di CV. Duta Aru Indah terdapat  2 orang, yang merupakan teknisi dari jepang.

1). Persiapan Inti Mutiara Bulat

Inti (nukleus) mutiara bulat yang digunakan untuk dimasukkan ke dalam organ dalam tiram ini, tergantung dari ukuran dan ketebalan cangkang. Adapun ukuran inti (nukleus) mutiara bulat yang digunakan di CV. Duta Aru Indah adalah dengan diameter 0,5-0,6 cm. ukuran tiram >8 cm dengan ketebalan cangkang 2,3 cm, rata-rata dimasukkan inti mutiara yang berdiameter 0,5 cm. Sedangkan ukuran tiram >10 dengan ketebalan 2, 5 cm, rata-rata dimasukkan inti mutiara dengan diameter 0,6 cm. Sebelum kegiatan operasi pemasangan inti mutiara dilakukan terlebih dahulu inti (nukleus) ini dicampur dengan larutan oxy tetrasclen berwarna kuning, hal dengan tujuan untuk mencegah penyakit atau bakteri yang akan timbul pada luka bekas sayatan dan juga untuk lebih mempercepat proses penyembuhan luka bekas sayatan akibat operasi pemasangan inti mutiara bulat tersebut.

2). Membuat Potongan Mantel

Di CV. Duta Aru Indah kegiatan pemotongan mantel ini dilakukan dengan mengambil tiram donor yang merupakan tiram hidup yang sehat dan rata-rata berukuran hing lene 10-12 cm. Selanjutnya tiram ini dibunuh untuk digunakan sebagai tiram donor pembuatan mantel.  Mantel ini dipotong dari arah posterior menuju ventral dan anterior pada bagian bibir tiram yang merupakan organ bagian dalam yang bersinggungan langsung dengan cangkang. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Tun dan Winanto (1988) bahwa, tiram donor sebaiknya dipilih tiram yang mudah dan aktif untuk diambil mantelnya. Ukuran pemotongan mantel sepanjang 4 cm dan lebar 4 cm dengan menggunakan gunting. Potongan  mantel ini kemudian diambil dari cangkang dengan menggunakan tweezer dan diletakkan diatas spon yang beralaskan graff cutting block. Bagian dalam mantel yang terdapat lender hitam diletakakn menempel pada spon. Hal ini agar supaya pada saat pemasukan mantel kedalam gonad tiram, lendir hitam tersebut tidak terbawa masuk.

Selanjutnya mantel diratakan dan dipotong menjadi bagian-bagian terkecil dengan mengunakan pisau (graff curter) membentuk bujur sangkar dengan ukuran 3-4 mm. Agar mantel tidak kering, begitu potongan mantel selesai dilakukan maka secepat mungkin kegiatan pemasangan inti mutiara bulat segera dilakukan. Hal ini karena daya tahan mantel hanya 1-2 jam. Satu ekor tiram donor dapat menghasilkan 18-20 potongan mantel. Sehingga perlu diperhatikan dalam membuat potongan mantel ini, terlebih dahulu harus diambil 1-2 ekor tiram donor, bila masih dilakukan operasi pemasangan inti mutiara bulat maka dapat ditambah lagi sesuai dengan kebutuhan  jumlah tiram yang akan dimasukkan mantel.

3). Operasi Pemasangan Mutiara Bulat  

Operasi pemasangan inti mutiara bulat dilakukan kedalam badan tiram mutiara yang telah diseleksi terlebih dahulu baik menurut besar, kesehatan dan perkiraan daya tumbuh yang baik. Kriteria yang digunakan oleh para teknisi di CV. Duta Aru Indah untuk operasi pemasangan inti terutama ditunjukan pada tiram yaitu:

  • Jarak engsel lebih kecil dari 1 cm (tiram mudah) karena dianggap masih banyak menghasilkan cairan nacre untuk pembentukan mutiara bulat.
  • Tiram yang sehat dengan perkiraan daya tumbuh yang baik

Adapun kegiatan operasi pemasangan inti( nukleus) mutiara buntal ini dilakukan dengan cara :

  • Tiram mutiara yang telah terbuka cangkangnya diletakkan dalam penjepit standar opener (shell holder) setelah dilepaskan bajinya dan bukaan cangkang tetap ditahan dengan forsep dengan posisi bagian anterior menghadap ke pemasangan inti.
  • Inti mutiara yang merupakan produksi dari Negara Amerika yaitu menyerupai bahan plastik dengan diameter 0,5-0,6 cm serta dengan warna putih susu, yang menurut para teknisi ini terbuat dari kulit atau cangkang tiram air tawar. Kemudian insang dan mantel disisikan dengan menggunakan spatula agar organ kaki dan gonad tampak terlihat dengan jelas.
  • Setelah terlihat posisi bagian dalam, Kaki ditahan dengan menggunakan hook kemudian dibuat sayatan dimulai dari pangkal kaki dan dibuat saluran pemasukan inti yang menuju gonad sampai ke ventaral swelling dengan hati-hati, ini dengan menggunakan pisau opener (incision knife).
  • Dengan menggunakan graft carrier dimasukkan graft tissue (potongan mantel) kedalam torehan yang sudah dibuat.
  • Masukkan inti (nukleus) dengan menggunakan nucleus carrier secara hati-hati sejalur dengan masukan mantel. Penempatan harus bersinggungan dengan mantel.

 

Gambar 11a. Cara pemotongan mantel tiram mutiara sebagai tiram donor

                        11b. Proses pemasangan inti (nukleus) ke organ dalam tiram mutiara

11a                                                                  11b

Setelah proses kegiatan operasi pemasaangan selesai, proses fisiologis tiram akan segera menyelimuti inti dimulai setelah tiram dilepaskan dari srandar opener. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Mulyanto (1987) bahwa, cara penempatan inti mutiara melalui metode saki okuri dan ato okuri tidak menunjukan hasil yang berbeda, selama penempatan inti mutiara bersinggungan langsung dengan mantel.

Dalam kegiatan operasi pemasangan inti mutiara yang dilakukan oleh para teknisi di CV. Duta Aru Indah unit Pulau Garaga yaitu memiliki 2 metode tehnik pemasangan inti yaitu:

  • Tehnik ato okuri, yaitu dimana inti mutiara bulat dimasukkan terlebih dahulu kedalam gonad dengan menggunakan alat  nucleus carrier,  selanjutnya baru dimasukkan potongan mantel dengan menggunakan graft carrier sampai bersinggungan dengan inti mutiara bulat.
  • Tehnik saki okuri yaitu, dimana potongan mantel terlebih dahulu dimasukkan dari tempat sayatan menuju ke ventral swelling dengan menggunakan alat graft carrier dan setelah hook menahan kembali lubang sayatan, inti mutiara bulat langsung dimasukkan searah dengan pemasukkan mantel dengan menggunakan nucleus carrier sampai bersinggungan langsung dengan mantel.

2. Penanganan Pasca Operasi Pemasangan Mutiara Bulat

Setelah kegiatan operasi pemasangan inti mutiara selasai dilaksanakan oleh teknisi, selanjutnya karyawan dan karyawati yang bekerja di ruang operasi mengambil tiram tersebut dan dimasukkan kedalam sekat-sekat keranjang plastik pemeliharaan yang mempunyai 20 ruang atau sekat dengan posisi bagian yang cembung berada di atas. Pekerjaan ini dilakukan dengan cermat dan setelah keranjang tesisi penuh, kemudian segera keranjang ini dibawah ke rakit apung (khusus pasca operasi) yang berada didepan ruang operasi untuk digantung dengan posisi keranjang memanjang (vertikal), pada kedalam 4-5 meter. Tiram memerlukan waktu istrahat selama 10 hari untuk memilihkan kondisi tubuh dan penyembuhan luka secara alami yang merupakan bekas sayatan yang dimulai dari pangkal kaki dan dibuat saluran pemasukan inti yang menuju gonad sampai ke ventaral swelling. Hal ini searah dengan apa yang dikemukan oleh Tun dan Winanto (1988) bahwa, tiram memerlukan waktu istrahat yang cukup untuk menyembuhkan diri dari luka shock akibat operasi. Pada pemeliharaan pasca operasi ini diharapkan mantel akan menyatu dengan lapisan (nacre) mutiara dan dapat mengalami perkembangan (degenerasi) untuk pembungkusan inti mutiara bulat dari cairan nacre tersebut.

Gambar 12. Kegiatan pembolak-balikan tiram di rakit apung pasca operasi

            Keranjang plastik yang berisi tiram pasca operasi ini diatur dengan baik sesuai dengan hari kegiatan operasi di atas rakit apung. Hal ini dimasukkan untuk mengetahui tiram yang harus segera ditento pertama kali dan untuk mengetahui tingkat kematian yang terjadi pada setiap masing-masing kegiatan operasi.        Selain itu juga sangat berguna untuk tiram tidak tercampur antara tiram yang belum dioperasi dan tiram yang sudah dioperasi serta tiram yang akan dipanen.

            a.  Masa Tento

            Pada masa tento ini merupakan kegiatan lanjutan setelah 10 hari tiram diistrahatkan. Yaitu kegiatan dengan membolak-balikkan keranjang plastik pemerliharaan secara vertikal dengan tujuan agar lapisan (nacre) mutiara dapat merata dalam pembungkusannya serta agar preparat yang dioperasi tidak mudah jatuh atau lepas, karena sifat dari mahluk hidup ini sering menolak segala benda yang masuk kedalamnya. Kegiatan ini masih dilakukan pada sarana rakit apung dengan arus air yang tidak terlalu kuat.

Di CV. Duta Aru Indah unit Pulau garaga, kegiatan karyawan dalam pembolak-balikan tiram mutiara ini dilakukan dengan 2 periode yaitu :

  1. Posisi keranjang dibolak-balik dari posisi A (cangkang yang bagiannya tebal berada dibawah dan pada bagian yang tipis pada bagian atas) ke posisi B (cangkang yang bagiannya tipis berada pada bagian bawah dan yang tebal pada bagian atas) dan sebaliknya pada setiap hari selama 1 minggu (7 hari).
  2. Pembolak-balikan keranjang dari posisi B ke posisi A dan sebaliknya berselang 2 hari. Masa tento ini dilaksanakan selama 30 hari dengan 15 hari kali pembolak-balikan pada masing-masing keranjang.

Kegiatan ini sesuai dengan tujuan yang dikemukakan oleh Mulyanto (1987) bahawa, pakerjaan pembolak-balikan keranjang bermasuk agar penyelimutan inti oleh lapisan mutiara berlangsung dengan merata sehingga semaksimal mungkin mutiara yang terbentuk menjadi bundar. Setelah masa tento ini berakhir maka keranjang ini segera dikembalikan keposisi semula (horizontal), dengan tahapan kegiatan sebagai berikut :

  • Tiram dinaikkan keatas sarana rakit apung
  • Dilakukan pemeriksaan, apabila ada tiram yang mati segera dikeluarkan dari dalam keranjang plastic. Dan bagian sekat-sekat yang kosong diisi kembali dengan tiram, dengan pengaturan posisi ventral tiram.
  • Satelah semua keranjang diperiksa, selanjutnya keranjang pemeliharaan ini diturunkan kembali kedalam air laut pada kedalaman yang sama yaitu 5 m.

b.  Kegiatan Rontgen

             Setelah masa pemeliharaan di rakit apung yaitu masa tento, tiram ini segera diangkat dari rakit apung dan dibawah ke rumah rakit untuk dipindahkan dari keranjang plastik kedalam keranjang net ukuran 86 cm x  47 cm dengan 8 kamar. Di CV. Duta Aru Indah,

kegiatan rontgen dapat dilaksanakan setelah masa pemeliharaan ditali rentang (long line) selama 2-3 bulan setelah operasi pemasangan inti mutiara bulat. Kegiatan pemeriksaan terhadap tiram mutiara yang telah dioperasi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui inti (nukleus) mutiara yang telah dipasang dalam organ tiram telah diselimuti oleh lapisan mutiara (nacre) atau dimuntahkan kembali (kosong).

Gambar 13. Kegiatan Rontgen untuk mengetahui pembentukan inti mutiara oleh nacre

             Hal ini sesuai dengan pendapat dari Sutaman (1993) bahwa, tiram yang telah melewati masa tento dipelihara selama 30-45 hari atau sampai saatnya tiram dilakukan pengamatan terhadap kondisi inti yang ada didalam organ tiram. Kegiatan pemeriksaan ini dengan menggunakan sebuah alat yang dinamakan x’Ray. Kegiatan yang dilaksanakan yaitu dengan cara tiram-tiram yang akan diperiksa diletakkan diatas sabuk berjalan dan dimasukkan kedalam alat x’Ray, pada saat yang bersamaan kondisi tiram yang ada didalam alat tersebut akan tampil pada layar monitor sehingga dapat diketahui isi dari organ dalam tiram (mutira). Dengan cepat tiram diperiksa satu-persatu oleh karyawan yang bertugas melaksanakan rontgen. Apabila tiram yang terdapat inti mutiara dengan secepanya dimasukkan kedalam keranjang net kembali dan dipelihara pada sarana tali rentang (long line) dengan kedalaman 5 m selama 6 bulan, sedangkan tiram yang memuntahkan inti disingkirkan untuk dioperasi kembali atau dibunuh tergantung dari kondisi tiram tersebut.

Sering kali terjadi proses operasi dapat menyebabkan preparat (inti mutiara bulat) keluar dari tubuh tiram bahkan terjadi kamatian pada tiram itu sendiri. Kegagalan operasi ini dapat disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut :

  • Kondisi tiram pada saat operasi sudah lemah, ini mungkin disebabkkan karena tiram sudah tua atau juga disebabkan karena penyakit (seskaria).
  • Menurunya kondisi tiram setelah operasi, ini mungkin disebabkan karena kurang suburnya perairan setempat bagi tiram yang kondisinya tadi sedikit lemah.
  • Keluarnya preparat dapat juga disebabkan oleh kecerobohan para pekerja dilaut, misalnya keranjang sering terbanting atau kurang hati-hati diwaktu pekerjaan pembolak-balikan pada rakit apung sehingga tiram dapat mengalami stress.
  • Kecerobohan dari teknisi sebagai pelaksana operasi, dimana kedudukan preparat yang dioperasikan kedalam daging kurang mantap.
  • Kondisi tiram berada dalam keadaan yang sehat dan kuat serta matang telur sehingga tiram mampu memuntahkan inti dari gonadnya atau kuatnya daya tolak dari tiram itu sendiri dari dalam tubuh.
  • Sayatan yang dibuat lebih besar diubanding denga ukuran inti yang dimasukkan.

Dengan adanya beberapa faktor penyebab ini, sehingga perlu adanya kegiatan atau usaha dari karyawan dan karyawati yang mengarah pada masalah penanganan tiram baik sebelum operasi, sesudah operasi maupun pada kecermatan dan kehati-hatian oleh teknisi dalam operasi pemasangan inti (nukleus) mutiara bulat, serta perlunya kondisi perairan yang subur dan terhindar dari bahan pencemaran yang dapat membahayakan kelangsungan hidup tiram untuk menghasilkan mutiara bulat.

            c. Kegiatan Pembersihan dari Organisme Penempel

             Kegiatan pembersihan tiram dari organisme penempel (fouling organisme) yang  tumbuh atau melekat pada cangkang tiram sehingga menjadi organisme yang sifatnya sebagai penyaing (kompetitor) dan merusak (pest) pada kulit tiram, sehingga dalam mengatasi masalah ini di CV. Duta Aru Indah melaksanakan kegitan pebersihan secara rutin pada tiram-tiram dan keranjang pemeliharaan sebulan sekali. Yaitu dengan menggunakan dua cara sebagai berikut:

  • Pembersihan dengan menggunakan mesin penyemprot yang sudah diset memang pada mesin diesel diatas rumah apung. Pembersihan pada tahap ini meliputi penyemprotan terhadap tiram-tiram dan keranjang pemeliharaan dari kompetitor, pest maupun predator.
  • Pemberihan secara manual, ini dengan menggunakan pisau atau parang kecil dengan cara mencukur habis organisme penempel yang tumbuh melekat pada cangkang tiram mutiara.

Gambar 14. Proses pembersihan dari organisme penempel pada

speed boad dan rumah apung

 

 

    1). Pembersihan dari Kompetitor (Penyaing)

Ada beberapa jenis organisme yang merupakan kompetitor terhadap budidaya tiram mutiara yang ada di CV. Duta Aru Indah  adalah dari golongan rumput laut seperti : ganggang hijau (Chlorophyceae), ganggang merah (Rhodophyceae) dan ganggang coklat (Phaeophyceae), selain itu ditemukan juga jenis Bernakel (Balanus sp), ini merupakan kompetitor yang melekat pada cangkang luar dan bagian engsel sehingga mengganggu membuka dan menutupnya katup cangkang tiram. Untuk jenis ganggang laut, organisme ini cara hidupnya melekat pada cangkang bagian luar tiram mutiara dan pocket net pemeliharaan sehingga secara tidak langsung dapat menghalangi masuknya pakan kedalam organ mulut tiram. Dalam mengatasi organisme penempel ini yaitu melakukan penyemprotan dengan mesin diesel terhadap tiram dan pocket net pemeliharaan serta dengan cara pengikisan pada cangkang tiram dengan menggunakan pisau atau parang tumpul. Penemuan  organisme ini ditemukan pada waktu pengamatan secara langsung selama magang di industri ini.

    2). Pembersihan dari Pest (Perusak)

             Pada tiram mutiara terdapat bebera jenis organisme pest (perusak)  yang ditemukan dan sering menempel pada tiram mutiara, di CV. Duta Aru Indah penyakit dari organisme ini diistilakan sebagai pantat merah karena dengan cara mengebor pada bagian pantat cangkang dengan warna merah atau kuning. Yaitu  dari jenis teritip (Belanus sp), jenis hama yaitu bunga karang (Rhiomulga japonica) dan Ostrea gigas yang sering mengganggu dan dapat mematikan tiram mutiara yang dipelihara serta dari jenis cacing (Polychaeta) yang membuat lubang pada bagian luar cangkang sampi ke dalam tubuh tiram. Sedangkan untuk jenis teritip, ini menempel pada bagian cangkang tiram dengan cara mengebor cangkang sampai ke bagian dalam sehingga dapat menyebabkab kematian.

Dalam kegiatan pembersihan dari organisme pest (perusak) ini, sebelumnya  dilakukan dengan cara disemprot menggunakan mesin penyemprotan, kemudian dilakukan pemeriksaan pada tiram apabila terdapat pori-pori (lubang kecil) pada bagian cangkang maka ini menandahkan bahwa tiram tersebut terserang penyakit dari organisme pest maka segera dicukur pada bagian luar cangkang dan engsel cangkang yang terserang penyakit sampai kelihatan warna dari organisme pest tersebut dengan menggunakan pisau atau parang kecil. Selanjutnya tiram ini disemprot kembali pada bagian yang dicukur tadi sampai warna dari organisme pest tersebut hilang, kemudian dilakukan pengobatan dengan cara direndam pada air laut dengan salinitas tinggi dan diolesi dengan menggunakan kapur tembok. Cara pengobatan ini dimaksudkan untuk membunuh organisme pest yang mengebor pada bagian cangkang. Tiram yang sudah dilakukan pengobatan segera dimasukkan kedalam pocket net kemudian digantung pada rumah rakit selama 3 hari baru digantung pada sarana tali rentang, karena ini dianggap organisme pest sudah mati  sedangkan untuk tiram yang tidak terserang penyakit langsung gantung pada sarana long line setelah dibersihkan dari kompetitor dengan kedalaman 5 m.

Gambar 15.  Jenis pest pengebor pada cangkang tiram dan cara pengobatannya

 

        3. Perawatan Sarana Budidaya

Dalam keberhasilan pemeliharaan tiram untuk menghasilkan mutiara bulat yang berkesenambungan sangat didukung oleh sarana dan prasarana budidaya yang mememadai serta keamanan lokasi dari pencuri mutiara. Sarana budidaya yang ada di CV. Duta Aru Indah antara lain adalah sarana tali rentang (long line), sarana rakit apung, rumah untuk operasi pemasangan inti mutiara, keranjang pemeliharaan, rumah apung sebagai tempat pembersihan tiram dan keranjang pemeliharaan, perahu atau speed boad sebagai sarana transportasi, alat rontgen untuk pemeriksaan inti mutiara serta mensin pembersih harus selalu dalam keadaan baik, apabila prasarana ini terjadi kerusakan maka segera diperbaiki oleh para tenaga kerja. Pekerjaan sarana budidaya tiram mutiara ini diperbaiki secara rutin setiap minggu atau sesuai dengan tingkat kerusakan yang harus diperbaiki.

4. Pemanenan

Pada prinsipnya proses kegiatan pemanenan ini sama saja dengan kegiatan sebelum operasi pemasangan inti mutiara. Setelah tiram dipelihara selama 6 bulan dari operasi pemasangan ini mutiara maka mutiara bulat ini sudah dapat dipanen. Pada kegiatan ini terlebih dahulu tiram diambil dari sarana tali rentang (long line) kemudian dipindahkan dekat dengan lokasi rumah operasi yaitu sarana rakit apung. Kemudian tiram dibawah kerumah apung untuk dibersihkan dari organisme penempel dengan menggunakan mesin penyemprotan dan pisau atau parang kecil. Setelah itu tiram dipindahkan dari tempat pemeliharaannya yaitu dari pocket net kedalam keranjang pemeliharaan untuk dilakukan pemeliharaan masa pelemasan (yokusey) tiram pada kedalaman 1 m. Kegiatan masa pelemasan ini dilakukan selama 1 minggu sebelum pemanenan. Tujuannya yaitu untuk mengurangi tiram stress pada saat panen dan dapat mempermudah dalam pemasangan inti mutiara bulat kedua atau inti mutiara setengah bulat (blister).

Setelah berakhirnya masa pelemasan tiram ini segera dibawah kedalam rumah operasi, kemudian tiram diletakkan dalam fiber glass untuk diperlakukan supaya tiram membuka cangkangnya, setelah cangkang terbuka segera dilakukan pemasangan baji satu persatu, kemudian dibersihkan dengan cara dikikis pada cangkang tiram dengan menggunakan sikat atau pisau. Setelah tiram dibersihkan, segera dibawa kemeja operasi untuk dilakukan pemanenan mutiara. Pelaksanaan operasi panen mutiara dan pemasangan inti mutiara bulat kedua yang dilakukan di CV. Duta Aru Indah yaitu dengan cara sebagai berikut :

  • Tiram mutiara yang telah terbuka cangkangnya diletakkan dalam penjepit standar opener (shell holder) setelah dilepaskan bajinya dan bukaan cangkang tetap ditahan dengan forsep dengan posisi bagian anterior menghadap ke pemasangan inti.
  • Kemudian insang dan mantel yang menutupi gonad disisihkan dengan menggunakan spatula agar mutiara kelihatan tampak menonjol dengan jelas.
  • Setelah terlihat posisi bagian mutiara, maka dibuat sayatan didalam gonad dekat dengan ventral swelling dengan menggunakan pisau opener (incision knife) dan tempat sayatan ditahan dengan hook. Kemudian mutiara diambil didalam gonad dengan menggunakan nucleus carrier, selanjutnya hook tetap menahan tempat sayatan. Mutiara bulat hasil panen ditempatkan kedalam wadah kecil yang berisi air tawar.
  • Dengan menggunakan nucleus carrier secara hati-hati sejalur dengan saluran yang dibuat untuk pengambilan mutiara, inti mutiara bulat kedua segera dimasukkan.

Untuk operasi pemasangan inti mutiara kedua ini tidak menggunakan lagi dengan mantel, karena mantel dengan pemasangan inti mutiara yang pertama telah menyatu dengan gonad untuk menyelimuti inti mutiara, begitu juga dengan mutu hasil mutiara telah diketahui dan kondisi tiram mutiara masih cukup baik. Sehingga diharapkan operasi pemasangan inti mutiara bulat kedua dapat menghasilkan mutiara yang cukup baik untuk kedua kalinya.

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

 

 

A. Kesimpulan

      Kesimpulan dari hasil magang di Industri Budidaya Tiram Mutiara ini adalah :

  1. Pemeliharaan mutiara sangat baik untuk dikembangkan mengingat komoditi ini   merupakan salah satu produk perikanan yang sangat memegang peranan penting, khususnya dalam pasaran ekspor. Disamping kulitnya yang mempunyai nilai yang cukup tinggi maka mutiara yang dikandungnya mempunyai harga yang lebih tinggi. Disamping itu juga populaisnya sangat besar didaerah maluku, terbukti dengan telah beroperasinya 5 buah perusahan yang bergerak dalam pemeliharaan tiram mutiara baik untuk tujuan kulit maupun mutiaranya sendiri.
  2. Produksi mutiara yang dihasilkan oleh perusahan-perusahan yang beroperasi didaerah maluku seluruhnya diekspor keluar negeri dengan tujuan jepang.
  3. Kegiatan produksi mutiara bulat dapat dilakukan secara terus menerus apabila kelayakan lokasi perairan dapat dipertahankan atau ditingkatkan. Dalam hal ini kerja sama antara pihak perusahan dengan pemerintah, penduduk setempat, aparat keamanan maupun tenaga kerja dalam menjaga kondisi perairan dari pencemaran dan pencuri.
  4. Selama pemeliharaan awal dilaut, spat memerlukan penanganan yang baik, hati-hati, dan tidak kasar. Perawatan seperti pembersihan tempat pemeliharaan dan penjarangan akan sangat membantu meningkatkan kelangsungan hidup spat.
  5. Berbagai jenis kerang selain tiram mutiara, populasi dan penyebarannya sangat besar didaerah maluku. Sedangkan pemeliharaan yang dilakukan di CV. Duta Aru Indah adalah hanya jenis mutiara (pinctada maxima).
  6. Khusus untuk memproduksi tiram mutiara, semua perusahan yang berada didaerah Maluku semuannya masih menggunakan tenaga teknisi dari jepang. Pengetahuan ini sangan dirahasiakan oleh mereka terutama dalam kultur pakan alami, sehingga proses alih tehnologi dan ilmu pengetahuan dapat dikatakan tidak berjalan secara maksimal. Ini dirasakan oleh mahasiswa magang sendiri maupun tenaga-tenaga kerja yang ada selain teknisi jepang tersebut.
  7. Kegiatan teknik kultur pakan alami untuk makanan larva tiram mutiara hanya pada skala kultur murni dan semi masal. Jenis pakan phytoplankton yang dilakukan di CV. Duta Aru Indah ini adalah : Isocrysis galbana, Pavlova lutheri, Chaetocheros. Sp, Nannoclorophysis. Sp, dan Tetra selmis chuii.
  8. Tindakan awal dalam kegiatan pemijahan di CV. Duta Aru Indah ini adalah induk dipuasakan selama 24 jam, yang kedua induk diberi pakan phytoplankton dengan dosis tinggi, dan yang ketiga adalah memberikan perangsangan dengan bahan kimia yaitu amoniak.
  9. Kegiatan pemeliharaan tiram mutiara (pinctada maxima) dilaut dengan cara menggunakan sarana tali rentang (long line) dan rakit apung. Dalam satu unit tali rentang terdapat 10 tali yang dapat menampung 1000 buah keranjang atau 8000 ekor tiram mutiara. Sedangkan dalam satu rakit apung kecil sebanyak 600 keranjang atau 6.000 ekor tiram mutiara dalam 1 unit rakit apung.
  10. Pemanenan di CV. Duta Aru Indah dapat dilakukan setelah pemeliharaan selama 1,6 bulan dan dilakukan secara berkala yaitu pemanenan setiap 6 bulan.

B.     Saran

  1. Perlu adanya pelatihan kepada seluruh karyawan/karyawati dalam hal untuk memajukan keberhasilan budidaya dan produksi pemanenan yang lebih besar.
  2. Hedaknya pada pemeliharaan larva diberikan variasi makanan yang lebih banyak lagi untuk menjaga kesehatan dan mempercepat pertumbuhannnya.
  3. Perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui timbulnya organisme pathogen atau partikel yang diduga bisa merupakan faktor penyakit bagi kehidupan tiram mutiara.
  4. Semua kegiatan yang berkaitan dengan teknisi perlu adanya kejujuran untuk memberikan keterangan tentang alat dan bahan serta proses kegiatannya dalam budidaya tiram mutiara demi untuk memajukan ilmu dan teknologi di seluruh kawasan budidaya tiram mutiara di Indonesia. Hal ini karena semua teknisi dalam budidaya tiram mutiara rata-rata semuannya dari negara luar sehingga sulitnya untuk kita lakukan pengambilan data. Dengan kendala ini maka perlu pemerintah daerah maupun pusat untuk memberikan pelatihan khusus kepada orang-orang Indonesia yang terampil supaya menjadi tenaga teknisi budidaya tiram mutiara yang professional karena mengingat produksi komoditas ini harganya sangat mahal.
  5. Kepada pihak perusahan maupun pemerintah untuk lebih memperhatikan gaji atau upah yang diterima oleh seluruh karyawan/karyawati karena hal ini tidak sesuai dengan hasil  atau harga produksi komoditi yang dibudidayakan. Sehingga kesejahteraan karyawan/karyawati tetap diperhatikan.

DAFTAR PUSTAKA

Arika, LT. 2004. Kultur Pakan Alami pada Pembenihan Tiram Mutiara (Pinctada maxima) di LBL Lombok Setasiun Sekotong Lombok Barat (NTB). Jakarta : PSTA STP.

Dwiponggo, A. 1976. Mutiara. Jakarta : Lembaga Penelitian Perikanan Laut.

Effendi, Hefni. 2000. Telaah Kualitas Air. Bogor: Fak. Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB.

Mulyanto. 1970. Teknik Budidaya Laut Tiram Mutiaradi Indonesia. Jakarta : Diklat Ahli Usaha Perikanan.

Noriwari, Yohanes. 2004. Manajemen Usaha Pembenihan Tiram Mutiara.  Jakarta : PSTA STP.

Nurhijriani. 2005. Teknik dan Manajemen Pembenihan Tiram Mutiara (Pinctada maxima)  di LBL Lombok Setasiun Sekotong Lombok Barat (NTB). Jakarta : PSTA.

Poto, L, M,. 2002. Studi. Teknis Budidaya dan Kajian Penanganan Inti Mutiara Bulat pada Tiram Mutiara. Jakarta  : PSTA STP.

Sutaman, 1992. Teknik Budidaya Mutiara, Yogyakarta : Penerbit Kanisius,

Winanto, 2004. Memproduksi Benih Tiram Mutiara. Depok.: Penebar Swadaya,

———-         1997. Rekayasa Teknologi Pembenihan Tiram Mutiara (Pinctada maxima). Yogyakarta : Ditjen Perikanan.

———-         2003. Rekayasa Produksi Spat Tiram Mutiara. Lampung : Balai Budidaya Laut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s