Pembebihan Ikan Lele Dumbo Dengan Metode Pemijahan Secara Alami

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

A. Latar Belakang

Pemijahan merupakan bagian dari reproduksi ikan yang menjadi mata rantai daur hidup kelangsungan hidup spesies. Penambahan populasi ikan bergantung kepada berhasilnya pemijahan ini dan juga bergantung kepada kondisi dimana telur dan larva ikan diletakkan untuk tumbuh. Oleh karena itu sesungguhnya pemijahan menuntut suatu kepastian untuk keamanan kelangsungan hidup keturunannya dengan memilih tempat, waktu dan kondisi yang menguntungkan. Berdasarkan hal ini pemijahan tiap spesies ikan mempunyai kebiasaan yang berbeda tergantung kepada habitat pemijahan itu untuk melangsungkan prosesnya.

Dalam keadaan normal ikan melangsungkan pemijahan minimum satu kali dalam satu daur hidupnya seperti yang terdapat pada ikan salmon dan sidat. Sesudah melakukan pemijahan, induk ikan tersebut mati karena kehabisan tenaga. Hampir semua ikan pemijahannya berdasarkan reproduksi seksual yaitu terjadinya persatuan sel produksi organ seksual yang berupa telur dari ikan betina dan spermatozoa dari ikan jantan. Dari persatuan kedua macam sel tersebut akan terbentuk individu baru yang akan menambah besarnya populasi. Persatuan kedua macam sel seks tadi ada yang terjadi di dalam tubuh (pembuahan di dalam atau fertilisasi internal) dan ada pula yang terjadi di luar tubuh (fertilisasi eksternal). Ikan yang mengadakan fertilisasi internal mempunyai perlengkapan tubuh untuk memastikan berhasilnya fertilisasi tadi dengan organ khusus (copulatory organ) untuk keperluan ini, organ tersebut biasanya terdapat pada ikan jantan saja.

Ikan lele yang hidup di alam memijah pada musim penghujan dari bulan Mei sampai Oktober. Ikan lele juga dapat memijah sewaktu-waktu sepanjang tahun, apabila keadaan air kolam sering berganti. Pemijahan juga di pengaruhi oleh makanan yang diberikan. Makanan yang bermutu baik akan meningkatkan vitalitas ikan sehingga ikan lele lebih sering memijah. Apabila telah dewasa, lele betina akan membentuk telur di dalam indung telurnya. Sedangkan lele jantan membentuk sperma atau mani. Bila telur-telurnya telah berkembang maksimum yaitu mencapai tingkat yang matang untuk siap dibuahi maka secara alamiah ikan lele akan memijah atau kawin.

Lele dumbo adalah ikan pendatang baru yang merupakan keturunan lele hasil persilangan antara lele asli Taiwan dan lele yang berasal dari Afrika. Ikan hasil persilangan ini kemudian di introduksi ke negara kita sekitar tahun 1986. Karena ukuran tubuh yang sangat cepat besar atau bongsor, lele ini kemudian dinamakan lele dumbo.

Kegiatan pembenihan lele dumbo saat ini telah berkembang dengan pesat. Pembenihan lele dumbo yang dilakukan oleh petani dilakukan dengan cara dan peralatan yang sederhana. Biasanya hanya memanfaatkan bahan- bahan yang mudah didapat dengan harga yang terjangkau. Disamping itu, tenaga kerja yang digunakan cukup dengan hanya memanfaatkan tenaga anggota keluarga petani yang bersangkutan.

Kegiatan pembenihan ikan lele merupakan kegiatan awal di dalam budidaya ikan lele. Tanpa kegiatan pembenihan, kegiatan yang lain, yakni pendederan dan pembesaran semuanya berasal dari kegiatan pembenihan. Kegiatan pembenihan lele dumbo yang akan diuraikan berikut adalah kegiatan yang biasa dilakukan para petani, baik secara semi intensif maupun intensif. Secara garis besar, kegiatan pembenihan meliputi pemeliharaan induk, pemilihan induk yang siap pijah, pemijahan, dan perawatan larva atau benih.

B.  Tujuan

  1. Tujuan umum yaitu : Agar mahasiswa mempunyai kemampuan/skill untuk melakukan cara dan teknik pemijahan pada ikan yang dibudidayakan.
  2. Tujuan khusus yaitu : Agar mahasiswa mampu meyeleksi induk ikan lele yang telah matang gonad serta mampu melakukan kegiatan pemijahan ikan sampai pada pemeliharaan larvanya.

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.  Klasifikasi Ikan Lele Dumbo (Clarias sp.)

Menurut Sanin (1984) dan Simanjuntak (1989) dalam Rustidja (1997) klasifikasi ikan lele dumbo adalah sebagai brikut:

Filum               :  Chordata

Kelas               :  Pisces

Subkelas          :  Teleostei

Ordo                :  Ostariophysi

Subordo          :  Siluroidae

Famili              :  Clariidae

Genus              :  Clarias

Spesies            :  Clarias sp.

B.  Morfologi dan Biologi Ikan Lele Dumbo (Clarias sp.)

Menurut Najiyati (1992), dalam Rustidja (1997) bentuk luar ikan lele dumbo yaitu memanjang, bentuk kepala pipih dan tidak bersisik. Mempunyai sungut yang memenjang yang terletak di seitar kepala sebagai alat peraba ikan. Mempunyai alat olfactory yang terletak berdekatan dengan sungut hidung . Penglihatannya kurang berfungsi dengan baik. Ikan lele dumbo mempuyai 5 sirip yaitu sirip ekor, sirip punggung, sirip dada, dan sirip dubur. Pada sirip dada jari-jarinya mengeras yang berfungsi sebagai patil, tetapi pada lele dumbo lemah dan tidak beracun. Insang berukuran kecil, sehingga kesulitan jika bernafas. Selain brnafas dengan insang juga mempunyai alat pernafasan tambahan (arborencent) yang terletak padainsang bagian atas.

Sebagaimna halnya ikan dari jenis lele, lele dumbo memiliki kulit tubuh yang licin, berlendir, dan tidak bersisik. Jika terkena sinar matahari, warna tubuhnya otomatis menjadi loreng seperti mozaik hitam putih. Mulut lele dumbo relatif lebar, yaitu sekitar ¼ dari panjang total tubuhnya. Tanda spesifik lainnya dari lele dumbo adalah adanya kumis di sekitar mulut sebanyak 8 buah yang berfungsi sebagai alat peraba. Saat berfungsi sebagai alat peraba saat bargerak atau mencari makan (Khairuman, 2005).

Menurut Puspowardoyo (2003), memiliki patil tidak tajam dan giginya tumpul. Sungut lele dumbo relatif panjang dan tampak labih kuat dari pada lele lokal. Kulit dadanya terletak bercak-bercak kelabu seperti jamur kullit manusia (panu). Kepala dan punggungnya gelap kehitam-hitaman atau kecoklat-coklatan. Lele dumbo memiliki sifat tenang dan tidak mudah berontak saat disentuh atau dipegang. Penampilannya kalem dan tidak banyak bergerak. Lele dumbo suka meloncat bila tidak merasa aman.

Pada lele, menurut Najiyati (1992), alat pernapaasan tambahan terletak di bagian kepala. Alat pernapasan ini berwarna kemerahan dan berbentuk seperti tajuk pohon rimbun yang penuh kapiler-kapiler darah. Mulutnya terdapat di bagian ujung moncong dan dihiasi oleh empat pasang sungut, yaitu 1 pasang sungut hidung, 1 pasang sungut maksilan (berfungsi sebagai tentakel), dan dua pasang sungut mandibula. Insangnya berukuran kecil dan terletak pada kepala bagian belakang.

Gambar 1. Kelamin jantan dan betina ikan lele dumbo (Clarias sp.)

Gambar 2.  Ikan lele dumbo (Clarias sp.)

1 : Panjang Standar                 2 : Panjang Kepala                  3 : Tinggi Badan

A : Mandibular Barbel            B : Maxilaris Barbel                C : Sirip Perut

D : Sirip Pectoral                     E : Sirip Verbral                      F : Sirip Caudal

C.  Karakteristik Ikan Lele Dumbo (Clarias sp.)

Ikan Lele termasuk dalam jenis ikan air tawar dengan ciri – ciri tubuh yang memanjang, agak bulat, kepala gepeng, tidak memiliki sisik, mulut besar, warna kelabu sampai hitam. Disekitar mulut terdapat bagian nasal, maksila, mandibula luar dan mandibula dalam, masing-masing terdapat sepasang kumis. Hanya kumis bagian mandibula yang dapat digerakkan untuk meraba makanannya. Kulit lele dumbo berlendir tidak bersisik, berwarna hitam pada bagian punggung (dorsal) dan bagian samping (lateral). Sirip punggung, sirip ekor, dan sirip dubur merupakan sirip tunggal, sedangkan sirip perut dan sirip dada merupakan sirip ganda. Pada sirip dada terdapat duri yang keras dan runcing yang disebut patil. Patil lele dumbo tidak beracun (Suyanto 2007). Lele juga memiliki alat pernafasan tambahan berupa modifikasi dari busur insangnya. Terdapat sepasang patil, yakni duri tulang yang tajam, pada siripsirip dadanya. Lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin, kecuali lele laut yang tergolong ke dalam marga dan suku yang berbeda (Ariidae). Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Bahkan ikan lele bisa hidup pada air yang tercemar, misalkan di got-got dan selokan pembuangan. Ikan lele bersifat nokturnal, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat gelap. Di alam, ikan lele memijah pada musim penghujan.(www.fishbase.org)

Ikan lele dumbo adalah jenis ikan hibrida hasil silangan antara Clarias gariepinus dengan C. fuscus dan merupakan ikan introduksi yang pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1985. Secara biologis ikan lele dumbo mempunyai kelebihan dibandingkan dengan jenis lele lainnya, antara lain lebih mudah dibudidayakan dan dapat dipijahkan sepanjang tahun, fekunditas telur yang besar serta mempunyai kecepatan tumbuh dan efisiensi pakan yang tinggi. Ikan lele dumbo dicirikan oleh jumlah sirip punggung, sirip dada , sirip perut, sirip anal dan jumlah sungut 4 pasang, dimana 1 pasang diantaranya lebih besar dan panjang. Perbandingan antara panjang standar terhadap tinggi badan adalah 1:5-6 dan perbandingan antara panjang standar terhadap panjang kepala 1:3-4. Ikan lele dumbo memiliki alat pernapasan tambahan berupa aborescen yang merupakan kulit tipis, menyerupai spons, yang dengan alat pernapasan tambahan ini ikan lele dumbo dapat hidup pada air dengan kondisi oksigen yang rendah.

D.  Pemijahan  Alami

Menurut Sunarma (2004), pemijahan alami dilakukan dengan cara memilih induk  jantan  dan induk betina yang  benar-benar  matang gonad kemudian dipijahkan secara alami dalam  bak/wadah pemijahan dengan pemberian kakaban. Pemijahan semi alami dilakukan dengan cara  merangsang induk betina dengan penyuntikan hormon perangsang kemudian dipijahkan secara  alami. Pemijahan buatan dilakukan dengan cara merangsang induk betina dengan penyuntikan hormon perangsang kemudian dipijahkan secara buatan.

Menurut Khairuman dan Amri (2002), selama proses pemijhan berlangsung, secara bersamaan induk betina akan mengeluarkan telur dan induk jantan mengeluarkan spermanya.  Pembuahan akan terjadi luar tubuh induk atau di dalam air. Salah satu kelemahan dari cara ini adalah ketidakpastian induk untuk memijah.

Kadang dalam satu malam, induk langsung memijah, kadang pada malam kedua, bahkan  sering kali ditemui induk tidak mau memijah sama sekali walaupun telah dibiarkan di tempat  pemijahan selama beberapa malam. Ketidakpastian pemijahan tersebut disebabkan tingkat  kematangan induk dan persiapan tempat pemijahan atau manipulasi lingkungan yang kurang  sesuai dengan yang diharapkan oleh induk lele dumbo.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

BAHAN DAN METODE

A.  Waktu dan Tempat

Praktikum Pemijahan ikan lele dumbo (Clarias sp.) secara alami ini dilaksanakan pada :

Hari/Tanggal   : Kamis, 21 April 2011 – Kamis,13 Mei 2011

Tempat            : Hatchery Departemen Perikanan dan Kelautan VEDCA Cianjur

B.  Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang diperlukan dalam praktikum ini adalah;

      1.   Alat:

  • Bak pemijahan
  • Sikat
  • Kakaban (media substrat)
  • Terpal
  • Arerasi
  • Selang siphon
  • Timbangan
  • Mistar
  • Alat tulis

      2.   Bahan:

  • Induk ikan lele dumbo (jantan dan betina)
  • Pakan

C.  Prosedur Praktikum

Adapun langkah kerja dalam praktikum ini adalah:

  1. Menyiapkan wadah dan substrat
  2. Seleksi Induk lele matang gonad/siap pijah
  3. Menimbang bobot induk ikan lele dumbo yang akan di pijahkan
  4. Melakukan pemijahan ikan lele dumbo secara alami
    1. Memindahkan induk dari bak pemijahan dan menetaskan telur yang menempel pada kakaban (substrad).
    2. Memindahkan kakaban dari bak penetasan apabila semua telur sudah terjadi penetasan
    3. Pemeliharaan larva dan benih
    4. Memanen

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

  1. A.      Hasil

Adapun hasil yang didapat dalam praktikum ini adalah :

1.  Berat induk hasil seleksi

Betina                          : 1,2 kg

Jantan                          : 1,2 kg

Berat induk betina setelah dipijahkan : 1,1 kg

Berat telur                                           : 1,2 – 1,1 kg = 100 gram

2.  Hasil sampling

Jumlah telur pasca pemijahan              : 35.273 butir

Jumlah telur terbuahi                           : 28.350 butir

Jumlah telur yang menetas                  : 12.120 ekor

Jumlah larva hasil panen                      : 4.873 ekor

Lama pemeliharaan larva                     : 21 hari

3.  Pemberian Pakan

Emulsi kuning telur                             : Hari ke-4 penetasan s.d hari ke-11

Campuran Kuning Telur & Tubifex    : Hari ke-12 pemeliharaan s.d ke-13

Tubifex                                                : Hari ke-14 pemeliharaan s.d panen

Feeding Frekuensi                               : 3 kali sehari

  1. B.   Pemabahasan

Adapun parameter yang akan dibahas oleh penulis dalam kegiatan praktikum pemijaha lele dumbo secara alami ini antara lain adalah : Persiapan wadah dan substrad (kakaban), pemilihan/seleksi induk matang gonad, proses pemijahan secara alami, penetasan telur pasca pemijahan, pemeliharaan larva pasca penetasan telur, dan panen.

1.   Persiapan wadah dan substrat (kakaban).

Persiapan bak pemijahan dilakukan sebelum dilakukan pemijahan. Wadah pemijahan induk ikan lele dumbo dapat juga digunakan sebagai tempat penetasan telur. Pada praktikum ini wadah yang digunakan adalah 2 unit, berupa bak beton berukuran 2 m x 1 m x 0,5 m. Sebelum digunakan, bak induk perlu disiapkan terlebih dahulu. Proses penyiapan meliputi pengeringan, pembersihan, perbaikan (saluran pembuangan dan selang aerasi). Penyiapan wadah pemeliharaan bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang optimal bagi induk ikan lele dumbo untuk pemijahan serta menghilangkan atau mengurangi potensi serangan hama atau penyakit. Wadah pemeliharaan disiapkan 1 hari sebelum induk ditebar. Pengeringan bak dilakukan dengan cara membuang seluruh air yang ada di bak dengan membuka outlet (saluran air keluar), kemudian dilakukan perbaikan terhadap kebocoran pada saluran pembuangan serta merapikan instalasi udara (aerasi). Pembersihan bak dilakukan dengan cara mencuci bak menggunakan sikat dan membilasnya dengan air hingga bersih. Pengisian air dilakukan dengan cara memompa air dari bak penampungan air ke bak pemijahan sampai mencapai ketinggian sekitar 25 – 30 cm.

Gambar 3. Persiapan bak pemijahan dan bak penetasan telur

Sebagai tempat atau media menempelnya telur, di dasar bak dipasang kakaban yang terbuat dari ijuk. Ukuran kakaban disesuaikan dengan ukuran bak pemijahan. Dengan ukuran kakaban yang digunakan 75 cm x 30 cm. Pada praktikum ini digunakan kakaban sebanyak 3 buah. Jika kurang, dikhawatirkan telur yang dikeluarkan ketika pemijahan tidak tertampung seluruhnya atau menumpuk di kakaban, sehingga mudah membusuk dan tidak menetas. Kakaban harus menutupi seluruh permukaan dasar bak pemijahan, sehingga semua telur lele dumbo tertampung di kakaban.

2.  Pemilihan/seleksi induk

Induk ikan lele dumbo yang akan ditebar diseleksi terlebih dahulu fisiologi dan kelaminnya. Adpun ciri-ciri dari induk ikan lele dumbo yang telah matang gonad adalah sebagai berikut :       

 

 

Kriteria

Induk jantan

Induk betina

Ukuran kepala Kepalanya lebih kecil dari induk ikan lele betina Kepalanya lebih besar dibanding induklele jantan
Warna tubuh Warna kulit dada agak tua bila dibanding induk ikan lele betina Warna kulit dada agak terang.

 Warna dan bentuk alat kelaminUrogenital papilla (kelamin) agak menonjol, memanjang ke arah belakang, terletak di belakang anus, dan warna kemerahanUrogenital papilla (kelamin) berbentuk oval (bulat daun), berwarna kemerahan, lubangnya agak lebar dan terletak di belakang anus.PergerakanGerakannya lincah, tulang kepala pendek dan agak gepeng (depress)Gerakannya lambat, tulang kepala pendek dan agak cembung.PerutPerutnya lebih langsing dan kenyal bila dibanding induk ikan lele betinaPerutnya lebih gembung dan lunakStrippingBila bagian perut di stripping secara manual dari perut ke arah ekor akan mengeluarkan cairan putih kental (spermatozoa-mani).Bila bagian perut di stripping secara manual dari bagian perut ke arah ekor akan mengeluarkan cairan kekuning-kuningan (ovum/telur).KulitKulit lebih halus dibanding induk ikan lele betinaKulit lebih kasar dibanding induk ikan lele jantan

Pada pemijahan induk ikan lele dumbo ini dengan menggunakan perbandingan antara induk jantan dan betina adalah 1 : 1. Setelah diseleksi berat induk ditimbang, pada kegiatan pemijahan ini induk jantan dan betina mempunyai berat yang sama  yaitu 1,2 kg/ekor.

                      Induk Jantan                                              Induk Betina

   

                    Gambar 4. Induk Ikan lele dumbo (Clarias sp.) Matang Gonad

3.  Pemijahan secara alami.

Induk lele dumbo yang telah diseleksi kematangan gonad selanjutnya dipijahkan secara alami. Induk tersebut dimasukan ke dalam bak pemijahan yang telah disiapkan, pada bagian atas bak pemijahan di tutup dengan triplek untuk mencegah induk lele dumbo yang sedang dipijahkan meloncat keluar. Induk akan memijah setelah 8 – 12 jam setelah dilepaskan kedalam bak. Selama proses pemijahan berlangsung dilakukan pengontrolan agar induk yang sedang memijah tidak melompat keluar dari bak pemijahan. Pada praktikum ini induk lele dilepaskan pada pukul 16.00 WIB  ke dalam bak pemijahan yang telah diberi kakaban, sebagai substrad atau media penempelan telur, dan pemijahan terjadi pada pagi harinya antara pukul 23.00-05.00 WIB.

Gambar 5. Telur menempel pada kakaban/substrad

Dari hasil pemijahan ini hanya 2 buah kakaban yang terjadi penumpukan menempelnya telur, sedangkan 1 buah kakaban kosong. Hal ini dikarenakan pada saat penempatan kakaban di bak pemijahan, hanya 2 kakaban yang berada di dasar wadah sedangan 1 buah kakaban lagi terapung diatas permukaan air karena kurangnya diberi pemberat. Hal ini juga sesuai dengan sifat dari telur ikan lele yang berada pada dasar wadah pemijahan.

Setelah pemijahan induk ikan lele segera diangkat dari bak pemijahan dan di timbang berat induk betina untuk mengetahui fekunditas telur, selanjutnya induk dikembalikan ke kolam pemeliharaan induk agar tidak mengganggu proses penetasan telur, hasil dari penimbangan induk betina pasca pemijahan adalah 1,1 kg maka dapat diketahui berat telur = 1,2 – 1,1 kg = 100 gram. Kegiatan selanjutnya dilakukan penjarangan kakaban agar pada saat penetasan tidak terjadi kepadatan larva pada wadah, pada tahap praktikum ini 1 buah kakaban dipindahkan ke bak penetasan sedangkan satunya dibiarkan didalam bak pemijahan untuk penetasan, artinya 1 bak penetasan diberi 1 buah kakaban yang dipenuhi telur. Selanjutnya telur yang menempel pada kakaban ini dihitung agar diketahui jumlah total telur pasca pemijahan dan jumlah telur yang terbuahi. Dari hasil praktikum pemijahan ini,  didapat hasil penghitungan telur pasca pemijahan dengan cara pengambilan sampling telur pada kakaban adalah 35.273 butir dengan rumus : . maka dapat diketahui presentasi jumlah telur (Fekunditas) hasil pemijahan ikan lele ini adalah sbb :

Gambar 6. Pengambilan sampling telur pada kakaban

Telur yang menepel pada kakaban yang terbuahi dapat diketahui berwarna kuning cerah, sedangkan telur yang tidak terbuahi berwarna putih, dari hasil pemijahan ini jumlah telur yang terbuahi adalah 28.350 butir. Maka persentasi derajat pembuahan telur (FR) adalah sbb :

Fertility Rate :

4.  Penetasan Telur dan Perawatan Larva Pasca Penetasan

Kakaban yang penuh dengan telur diletakan ke dasar bak, karena pada bagian permukaan atas dan bagian bawah  kakaban dipenuhi dengan telur. Dengan demikian telur akan terendam air seluruhnya. Telur yang telah dibuahi berwarna kuning cerah kehijauan, sedangkan telur yang tidak dibuahi berwarna putih pucat. Di dalam proses penetasan telur diperlukan suplai oksigen yang cukup. Untuk memenuhi kebutuhan akan oksigen terlarut dalam air, sehingga setiap bak penetasan di pasang aerasi.

Telur akan menetas tergantung dari suhu air bak penetasan dan suhu udara. Jika suhu semakin panas, telur akan menetas semakin cepat. Begitu juga sebaliknya, jika suhu rendah, menetasnya semakin lama. Telur ikan lele dumbo akan menetas menjadi larva antara 18 – 24 jam dari saat pemijahan.

Pada praktikum ini, proses penetasan telur terjadi pada keesokan harinya setelah pemijahan atau hari ke-2 setelah induk dilepaskan kedalam bak pemijahan, dengan suhu ruangan pada Hatchery Departemen Perikanan Budidaya VEDCA Cianjur  antara 28-30°C. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Khairuman dan Amri (2002),  telur  akan  menetas  tergantung  dari  suhu  perairan  dan  suhu  udara.  Jika  suhu  semakin  panas  (tinggi),  telur  akan  semakin  cepat  menetas.  Begitu  pula  sebaliknya,  jika  suhu turun atau  rendah maka  telur akan  lama  menetasnya. Kisaran  suhu  yang  baik  untuk penetasan telur  adalah 27-30°C.

Dalam praktikum pemijahan ikan lele dumbo ini didapat Jumlah larva pasca penetasan telur adalah 12.120 ekor. Maka presentasi derajat penetasan telur  (HR) adalah sbb :

Hatching Rate (HR)

Alasan dari rendahnya derajat penetasan ini antara lain karena :

  1. Hanya 1 buah kakaban yang terjadi penesan telur, sedangkan kakaban yang berada pada bak pemijahan induk tidak terjadi penetasan. Ini disebabkan karena tidak melakukan pergantian air pada wadah bekas pemijahan induk, sehingga mengakibatkan kualitas air pada wadah ini menurun.
  2. Kakaban untuk penetasan telur yang berada pada wadah bekas pemijahan induk ini adalah kababan yang digunakan sebagai sempling untuk penghitungan jumlah telur. Ini disebabkan karena interval waktu kakaban di atas terlalu lama. Sehingga telur dapat mengalami kematian, atau proses embryogenesis tidak berjalan dengan sempurna.

Menurut Blaxter dalam Sumantadinata (1983), penetasan telur dapat disebabkan oleh gerakan telur, peningkatan suhu, intensitas cahaya atau pengurangan tekanan oksigen. Dalam penekanan mortalitas telur, yang banyak berperan adalah faktor kualitas air dan kualitas telur selain penanganan secara intensif.

Setelah dipastikan hampir semua telur telah menetas, kakaban diangkat untuk menghindari penurunan kualitas air akibat adanya pembusukan dari telur – telur yang tidak menetas. Disamping itu juga dilakukan pergantian air bak penetasan dengan membuang air sampai ¾ bagian volume air dan kemudian diisi kembali dengan air yang baru.

Larva ikan lele dumbo yang baru menetas berwarna hijau dan berkumpul di dasar bak penetasan dibagian yang gelap. Ukuran larva lebih kurang 5 – 7 mm. Setelah berumur 2 hari, larva mulai bergerak dan menyebar ke seluruh bak penetasan. Sampai umur 3 hari larva tidak perlu diberi pakan tambahan, karena masih memanfaatkan cadangan makanan yang dibawa di dalam tubuhnya, yakni yang dikenal dengan kuning telur (yolk sack).

 

5Perawatan Larva Pasca Kuning Telur (yolk sack).

Munurut Sunarma (2004), Pemberian  pakan  dapat  dilakukan  setelah  larva  berumur  4-5  hari  atau  saat  larva  sudah  dapat  berenang  dan  berwarna  hitam. Umumnya  pemeliharaan  larva  dilakukan  selama  5  hari  dengan  menghasilkan benih berukuran 0,7-1,0 cm dengan berat  0,0 02  gram.

 Pada praktikum ini larva ikan lele dumbo baru diberikan pakan tambahan setelah berumur 4 hari dengan memberikan emulsi kuning telur ayam dan frekwensi pemberian pakan 3 kali/hari. Pemberian pakan tersebut sampai umur 11 hari, yang seharusnya setelah menginjak umur 6 hari larva diberi pakan alami zooplankton (makanan hidup) yang berukuran kecil, seperti kutu air (daphnia sp.) atau cacing sutera (tubifex). Namun karena terbatasnya pakan alami ini dipasaran sehingga keterlambatan pemberian pada larva. pakan alami ini disesuaikan dengan bukaan mulut larva dan sifat dari ikan lele yang digolongkan sebagai ikan karnivora (pemakan daging)

Gambar 7. Pemberian emulsi kuning Telur pada larva

            Pada hari ke-11 dilakukan penjarangan larva pada bak, hal ini dengan tujuan untuk memberikan ruang gerak larva yang ukurannya semakin besar, mencegah terjadinya perebutan pakan dan perebutan oksigen serta memudahkan pengontrolan terhadap larva, karena pada stadia ini larva sangat rentan terhadap kondisi lingkungan media hidupnya. Pada penjarangan larva ini menggunakan 2 unit wadah, yaitu 1 unit berupa bak beton dan 1 unit berupa bak bundar terbuat dari fiber.

Gambar 8. Cara penyiphonan sisa pakan pada dasar bak fiber.

   Setelah larva berumur 12 hari baru diberikan pakan hidup yaitu cacing sutera (tubifex), dengan cara cacing digunting terlebih dahulu sampai halus kemudian dicampur dengan emulsi kuning telur, perlakuan pemberian pakan ini dilakukan hanya 2 hari pertama agar larva dapat menyesuaikan dengan pakan hidup tubifex terbut. Pada hari ke-14 pemeliharaan larva, emulsi kuning dihentikan dan hanya diberi pakan hidup tubifex sampai pada hari ke-21 (kegiatan pemanenan). Disamping pemberian pakan, faktor lain yang selalu diperhatikan selama pemeliharaan larva lele dumbo ini adalah pengontrolan kualitas air. Pergantian air dilakukan tergantung dari kebutuhan. Jumlah air yang diganti sebanyak 50 – 70 % dengan cara menyipon (mengeluarkan air secara selektif dengan selang) sambil membuang kotoran yang mengendap pada dasar bak pemeliharaan larva. Selang yang digunakan adalah selang plastik yang lentur dan biasa digunakan sebagai selang air. Dengan tujuan untuk mencegah terjadinya pembusukan sisa pemberian pakan dan munculnya wabah penyakit.

6.  Pemanenan Larva/Benih

Kegiatan pemeliharaan larva/benih lele dumbo ini berumur 21 hari dan mencapai ukuran sekitar 3 – 4 cm dengan berat sekitar 0,4 – 0,5 gram. Benih sudah siap untuk dipanen, agar benih lele tidak mengalami stres, pemanenan ini dilakukan pada sore hari saat suhu rendah. Cara memanennya adalah air dalam bak disurutkan secara perlahan, selanjutnya benih ditangkap secara hati-hati menggunakan seser (serokan) halus dan di tampung pada baskom. Selanjutnya  larva/benih yang sudah ditampung pada baskom dilakukan penghitungan secara manual dengan cara larva di seser kemudian menggunakan sendok makan agar memudahkan pada proses penghitungan larva. Larva/benih yang sudah dihitung kemudian di kembalikan lagi kedalam bak pemeliharaan untuk siap dipasarkan (jual) langsung kepada pembeli atau didederkan pada kolam pendederan.

Pada hasil penghitungan jumlah total dari pemeliharaan larva  lele dumbo sampai pemanenan ini didapat larva yang hidup yaitu : 4.873 ekor. Maka presentasi derajat kelangsungan hidup larva  adalah sbb :

(/SR)

Dari hasil praktikum ini, presentasi mortalitas (derajat kematian) dapat dikatakan hanya sekitar 10%, kematian larva ini hanya terjadi pada saat penyiphonan sisa pakan di dasar wadah pemeliharaan sehingga larva yang ikut tersedot ada yang mati. Rendahnya derajat kelangsungan hidup larva ini bukan karena terjadi kematian pada larva selama pemeliharaan, namun karena faktor lain yaitu dengan alasan karena:

  1. Kehilangan larva ini diakibatkan oleh faktor manusia (pencuri), karena dapat diketahui kepadatan larva pada bak pemeliharaan menurun drastis hanya terjadi/berselang 1 hari.
  2. Selama pemeliharaan tidak ada bekas larva yang mati didasar bak pemeliharaan.
  3. Pada larva yang hidup dilakukan pengamatan secara kasat mata, pada bagian tubuh larva tidak terdapat bekas luka kalau terjadi akibat dari saling memakan (sifat kanibalisme).

BAB V

P E N U T U P

A. Kesimpulan

Dari hasil Praktikum pembenihan ikan lele dumbo (Clarias sp.) dengan pemijahan secara alami ini dapat disumpulkan bahwa kegiatan ini berhasil karena induk ikan lele dumbo dapat  pemijahan hanya dalam waktu 8 – 12 jam dengan jumlah telur pasca pemijahan 35.273 untuk 1 pasang induk,  dan jumlah telur yang menetas adalah 12.120 ekor larva. Pemeliharaan larva ini berlangsung selama 21 hari, dengan pemberian pakan menggunakan emulsi kuning telur dari umur 4 – 11 dari selanjutnya larva diberikan pakan hidup yaitu cacing rambut (tubifex) sampai pada proses pemanenan. Selain dari pemberian pakan, hal yang paling penting dalam pemeliharaan ini ada selalu melakukan kontrol kualitas air, dengan cara melakukan penyiphonan sisa pemberian pakan pada dasar wadah, agar tidak terjadi pembusukan ataupun timbulnya wabah penyakit.

Hasil dari pemanenan  larva lele dumbo (Clarias sp.) ini adalah dengan jumlah 4.873 ekor larva. Rendahnya derajat kelangsungan hidup larva ini bukan karena terjadi kematian pada larva selama pemeliharaan, namun karena faktor lain lain yaitu kehilangan larva ini diakibatkan oleh faktor manusia (pencuri), karena dapat diketahui kepadatan larva pada bak pemeliharaan menurun drastis hanya terjadi/berselang 1 hari.

B. Saran

Dalam melakukan kegiatan praktikum kerjasama dalam kelompok serta antar kelompok sangat dibutuhkan, disamping itu ketelitian dan kecermatan dalam melakukan kegiatan praktikum sangat diharapkan agar dapat diperoleh hasil praktikum yang diinginkan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s