Identifikasi ektoparasit dan endoparasit pada ikan

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Sektor kelautan dan perikanan merupakan salah satu sumber andalan dalam pembangunan perikanan di Indonesia. Produksi dari perikanan budidaya sendiri secara keseluruhan diproyeksikan meningkat dengan rata-rata 4,9 % per tahun. Target tersebut antara lain didasarkan atas dasar potensi pengembangan daerah perikanan budidaya yang memungkinkan di wilayah Indonesia. Melihat besarnya potensi pengembangan perikanan budidaya serta didukung peluang pasar internasional yang  masih terbuka luas, maka diharapkan sumbangan produksi perikanan budidaya semakin besar terhadap produksi nasional dan penerimaan devisa negara, keterkaitannya dalam penyerapan angkatan, serta peningkatan kesejahteraan petani/nelayan di Indonesia. Pada akhir tahun 2009, kontribusi dari produksi perikanan budidaya diharapkan dapat mencapai 5 juta ton dan ekspor sebesar US $ 6,75 milyar (Sukadi, 2004).

Untuk mencapai target produksi perikanan sesuai dengan yang diharapkan, berbagai permasalahan menghambat upaya peningkatan produksi tersebut, antara lain kegagalan produksi akibat serangan wabah penyakit ikan yang bersifat patogenik baik dari golongan parasit, jamur, bakteri, dan virus.

 Penyakit ikan biasanya timbul berkaitan dengan lemahnya kondisi ikan yang diakibatkan oleh beberapa faktor yaitu antara lain penanganan ikan, faktor pakan yang diberikan, dan keadaan lingkungan yang kurang mendukung. Pada padat penebaran  ikan yang tinggi jika faktor lingkungan  kurang menguntungkan misalnya kandungan zat asam dalam air  rendah, pakan yang diberikan kurang tepat baik jumlah maupun mutunya, penanganan ikan kurang sempurna, maka ikan akan  menderita stress. Dalam keadaan demikian ikan akan mudah terserang  oleh penyakit (Snieszko, 1973 ; Sarig, 1971).

Wabah penyakit ikan yang pertama di Indonesia terjadi pada tahun 1932 (Sachlan, 1952) yaitu ketika parasit Ichthyophthirius multifiliis menyebabkan banyak kematian pada ikan tawes (Puntius gonionotus). Kemudian pada tahun 1970 kasus wabah penyakit ikan yang disebabkan oleh Lernaea cyprinacea yang banyak menimbulkan kerugian pada produksi benih ikan mas. Pada tahun 1980 sampai  1983 dunia perikanan di Indonesia telah dirugikan dengan adanya  wabah penyakit bakterial yang kemudian terkenal dengan penyakit  merah yang banyak menimbulkan kerugian pada budidaya ikan mas dan  lele serta ikan-ikan lainnya. Dan pada tahun‑tahun berikutnya  penyakit tersebut menyebar hampir keseluruh Asia, dan kemudian  terkenal dengan sebutan penyakit Epizootic Ulcerative Syndrome  (EUS).

Pada usaha penanggulangan beberapa bahan kimia dan antibiotika telah banyak diteliti  kegunaannya untuk pemberantasa penyakit ikan. Namun demikian pengunaan bahan‑bahan tersebut diatas dirasakan banyak  menimbulkan masalah sampingan terlebih‑lebih apabila pemakaian  bahan tersebut tidak menuruti aturan. Maka penelitian sekarang  ditujukan kepada cara yang lebih effektip dan effisien yaitu  dengan usaha pencegahan. Penelitian tentang pemakaian vaksin baik  untuk panyakit bakterial maupun penyakit parasiter telah mulai dilakukan (Supriyadi dan Taupik, 1983). Selain itu penelitian pemilihan strain ikan yang tahan  terhadap penyakit ikan juga telah dilakukan (Supriyadi, 1986).

Petani ikan biasanya hanya berpikir bagaimana cara mengejar  hasil yang setinggi‑tingginya tanpa memikirkan masalah lain yang  sebenarnya sangat mendukung pada keberhasilan usaha budidaya. Salah satu contoh yang masih kurang diperhatikan adalah pemberian pakan yang tidak tepat  tanpa mengetahui apakah pakan tersebut dimakan oleh ikan atau tidak. Dengan banyaknya pakan yang tertimbun didasar perairan maka akan banyak menimbulkan masalah berupa pembusukkan pakan yang pada akirnya akan menghasilkan bahan cemaran antara lain ammoniak.

Cara penanganan yang kasar serta  kurang memperhatikan tindak aklimatisasi setelah pengangkutan  ikan juga merupakan suatu faktor yang dapat menimbulkan  terjadinya kasus wabah penyakit ikan.

Faktor lain adalah masalah  konstruksi kolam atau bak yang biasanya kurang sempurna dan tidak mendukung sanitasi air . Hal ini juga merupakan suatu  faktor yang mempercepat terjadinya wabah penyakit ikan.

 

B. Tujuan dan Manfaat

Tujuan dan manfaat dari praktikum parasit dan penyakit ikan ini adalah untuk mengatahui berbagai jenis parasit dan penyakit ikan baik yang disebabkan oleh bakteri, jamur maupun virus. Sehingga setelah kita mengetahui jenis dan tanda-tandanya, kita bisa mencari cara untuk menanggulanginya.

BAB II

 TINJAUAN PUSTAKA

Parasit adalah hewan atau tumbuh-tumbuhan yang berada pada tubuh, insang, maupun lendir inangnya dan mengambil manfaat dari inang tersebut. Dengan kata lain parasit hidup dari pengorbanan inangnya. Parasit dapat berupa udang renik, protozoa, cacing, bakteri, virus, dan jamur. Manfaat yang diambil parasit terutama adalah zat makanan dari inangnya.

Penyakit pada ikan didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat mengganggu proses kehidupan ikan, sehingga pertumbuhan menjadi tidak normal. Secara umum penyakit dibedakan menjadi dua kelompok yaitu penyakit infeksi dan non infeksi. Penyakit infeksi disebabkan oleh organisme hidup seperti parasit, jamur, bakteri, dan virus dan penyakit non infeksi disebabkan oleh faktor non hidup seperti pakan, lingkungan, keturunan dan penanganan (Afrianto dan Liviawaty, 2003).

Berdasarkan letak penyerangannya parasit dapat dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama disebut ektoparasit yaitu parasit yang menempel pada bagian luar tubuh ikan dan kelompok kedua adalah endoparasit yaitu parasit yang berada dalam tubuh ikan.

Argulus sp. merupakan ektoparasit ikan yang menyebabkan argulosis.   Akibat yang ditimbulkan oleh infeksi Argulus sp. pada ikan adalah beberapa sisik tubuh terlepas, terdapat titik-titik merah pada kulit, insang berwarna kehitam-hitaman dan timbulnya lendir (mukus) yang berlebih pada sirip. Pertahanan pertama ikan terhadap serangan penyakit berada di permukaan kulit, yaitu mukus, jaringan epitelia, insang. Mukus melapisi seluruh permukaan integumen ikan, termasuk kulit, insang dan perut. Pada saat terjadi infeksi atau iritasi fisik dan kimiawi, sekresi mukus meningkat. Lapisan mukus secara tetap dan teratur akan diperbarui sehingga kotoran yang menempel di tubuh ikan juga ikut dibersihkan. Mukus ikan mengandung lisosim, komplemen, antibody (ig M) dan protease yang berperan untuk mendegradasi dan mengeliminer patogen.

Parasit ini masuk ke dalam tempat pemeliharaan biasanya melalui pergesekan antar kulit ikan yang terinfeksi Argulus sp. Sifat parasitik Argulus sp. cenderung temporer yaitu mencari inangnya secara acak dan dapat berpindah dengan bebas pada tubuh ikan lain atau bahkan meninggalkannya. Hal ini dapat dilakukan karena Argulus sp. mampu bertahan hidup selama beberapa hari di luar tubuh ikan (Purwakusuma, 2007).

Dactylogyrus sp. Merupakan parasit yang penting pada ikan air tawar dan ikan air laut. Juga merupakan parasit yang penting pada carp fry. Hidup di insang, tergolong monogenea, punya kaki paku dan beracetabulum. Parasit yang matang melekat pada insang dan bertelur disana. Dactylogyrus sp. merupakan cacing Trematoda dari sub-kelas Monogenea. Spesiesnya berparasit pada hewan air berdarah dingin atau pada ikan, amfibi, reptil, kadang-kadang pada invertebrata air. Distribusinya luas, memiliki siklus hidup langsung dan merupakan parasit eksternal pada insang, sirip, dan rongga mulut. Bisa juga ditemukan pada traktus urinaria. Cacing ini bersifat ovipara dan memiliki haptor yaitu organ untuk menempel yang dilengkapi dengan 2 pasang jangkar dan 14 kait di lateral. Intensitas reproduksi dan infeksi memuncak pada musim panas. Telur pada umumnya memliki operkulum dan filamen disalah satu ujungnya yang berfungsi untuk melekatkan telur pada hospes atau benda lain. Larva (oncomiridium) mempunyai silia dan eye spot lebih dari satu. Larva akan berenang dan menempel pada tubuh hospes kemudian menjadi dewasa di hospes.

Dactylogyrus sp. Menyerang ikan pada bagian insang. Paperna (1980), menyebutkan bahwa insang yang terserang berubah warnanya menjadi pucat dan keputih-putihan. Hal ini sesuai pendapat Bunkley dan Ernest (1994) dalam Talunga (2007) bahwa Dactylogyrus spp paling banyak menyerang pada bagian filament insang sehingga mengakibatkan rusaknya insang dengan produksi lendir yang berlebih dan ini akan mengganggu pertukaran gas oleh insang. Ditambahkan oleh Gusrina (2008) bahwa Dactylogyrus spp sering menyerang pada bagian insang ikan air tawar, payau dan laut.

Insang merupakan organ penting yang sangat dibutuhkan oleh organisme perairan sebab insang merupakan organ primer untuk pertukaran gas-gas juga berperan dalam proses osmoregulasi. Hal ini sesuai dengan peryataan Fujaya (1999) bahwa insang pada organisme perairan sangat dibutuhkan dalam mempertahankan kondisi tubuh dengan lingkungan agar tetap seimbang untuk mempertahankan diri dari lingkungan.

Leong (1994) melaporkan infeksi parasit pada ikan kerapu dan ikan kakap telah dilaporkan oleh di Malaysia dari spesies Benedenia.  Di Indonesia infeksi oleh parasit Benedenia, Neobedenia, Diplectanum, Pseudorhabdosynochus, Haliotrema, Trichodina, Lepeophtheirus, dan Cryptocaryon irritans  pada ikan kerapu dilaporkan Zafran et al. (1997).  Dari pengamatan parasit pada ikan kerapu di Gondol, Neobedenia lebih dominan dibanding Benedenia dan ukurannyapun terlihat lebih besar (Zafran et al., 1997).  Parasit   Neobedenia girellae ditemukan di Jepang pertama kali pada tahun 1991, parasit ini sekarang termasuk patogen yang penting di Jepang, sebab dapat mematikan inang, tingkat spesifik inang yang rendah, dan tersebar luas  (Ogawa et al., 1995).    Parasit ini terutama ditemukan di daerah tropis (Bondad-Reantaso et al., 1995).  Parasit  Diplectanum dilaporkan menyerang ikan laut budidaya pada keramba jaring apung di Singapura, dan parasit Haliotrema menginfeksi ikan kakap, Lutjanus johni (Leong, 1994).

Bakteri merupakan mikrobia prokariotik uniselular, termasuk klas Schizomycetes, berkembang biak secara aseksual dengan pembelahan sel. Bakteri tidak berklorofil kecuali beberapa yang bersifat fotosintetik. Cara hidup bakteri ada yang dapat hidup bebas, parasitik, saprofitik, patogen pada manusia, hewan dan tumbuhan. Habitatnya tersebar luas di alam, dalam tanah, atmosfer (sampai + 10 km diatas bumi), di dalam lumpur, dan di laut.

Bakteri mempunyai bentuk dasar bulat, batang, dan lengkung. Bentuk bakteri juga dapat dipengaruhi oleh umur dan syarat pertumbuhan tertentu. Bakteri dapat mengalami involusi, yaitu perubahan bentuk yang disebabkan faktor makanan, suhu, dan lingkungan yang kurang menguntungkan bagi bakteri. Selain itu dapat mengalami pleomorfi, yaitu bentuk yang bermacam-macam dan teratur walaupun ditumbuhkan pada syarat pertumbuhan yang sesuai. Umumnya bakteri berukuran 0,5-10 μ.

Polusi atau pencemaran adalah keadaan dimana suatu lingkungan sudah tidak alami lagi karena telah tercemar oleh polutan. Misalnya air sungai yang tidak tercemar airnya masih murni dan alami, tidak ada zat-zat kimia yang berbahaya, sedangkan air sungai yang telah tercemar oleh detergen misalnya, mengandung zat kimia yang berbahaya, baik bagi organisme yang hidup di sungai tersebut maupun bagi makhluk hidup lain yang tinggal di sekitar sungai tersebut. Polutan adalah zat atau substansi yang mencemari lingkungan. Air limbah detergen termasuk polutan karena didalamnya terdapat zat yang disebut ABS. Jenis deterjen yang banyak digunakan di rumah tangga sebagai bahan pencuci pakaian adalah deterjen anti noda. Deterjen jenis ini mengandung ABS (alkyl benzene sulphonate) yang merupakan deterjen tergolong keras. Deterjen tersebut sukar dirusak oleh mikroorganisme (nonbiodegradable) sehingga dapat menimbulkan pencemaran lingkungan (Rubiatadji, 1993). Lingkungan perairan yang tercemar limbah deterjen kategori keras ini dalamkonsentrasi tinggi akan mengancam dan membahayakan kehidupan biota airdan manusia yang mengkonsumsi biota tersebut.

BAB III

METODOLOGI

 

 

  1. A.    Waktu dan Tempat

Praktikum identifikasi penyakit ektoparasit dan endoparasit yang menyerang ikan ini dilaksanakan pada hari 30 Mei 2011 dan bertempat di Departemen Perikanan Budidaya PPPPTK Pertanian Cianjur

             B.     Alat dan bahan

  1. Alat :                                                                                    2.  Bahan :
  • Dissecting set
  • Mikroskop
  • Timbangan
  • Penggaris
  • Nampan
  • object glass
  • cover glass
  • Ikan mas
  • Ikan bawal air tawar
  • Ikan nila
  • Benih ikan patin
  • Benih ikan nila
  • Ikan kerap
  1. C.    Metode Praktikum

Metode yang digunakan pada semua praktikum identifikasi penyakit ikan ini adalah metode pengamatan secara lansung pada objek dengan menggunakan mikroskop.

              D.    Prosedur  Kerja

  1. Sebelum diperiksa, ikan diukur bobot dan panjangnya
  2. Parasit yang ditemukan pada tubuh ikan diamati dengan menggunakan mikroskop dan dicocokkan dengan menggunakan gambar berbagai jenis parasit
  3. Untuk pemeriksaan organ luar ikan :
  •   Ikan dimatikan dengan memotong bagian belakang kepala
  •   Lihat/periksa permukaan tubuh ikan dengan teliti, apakah terdapat penyakit makro yang terlihat oleh mata biasa atau dengan bantaun kaca pembesar
  • Pindahkan parasit yang ditemukan ke dalam cawan petri yang berisi air atau di atas gelas objek
  • Lanjutkan pemeriksaan/pengamatan dengan menggunakan kaca pembesar/mikroskop
  • Buatlah preparat ulas dari berbagai organ luar ikan pada gelas objek dan tutup dengan gelas penutup :

–          Organ yang berukuran besar (tubuh, sirip, overkulum, insang) dikerik untuk diambil lendirnya

–          Organ yang berukuran kecil diperiksa seluruhnya di bawah mikroskop

–          Mulut dan rongga hidung disemprot dengan menggunakan air kemudian air tersebut diperiksa

  1. Pemeriksaan kulit dan insang
  • Periksa seluruh permukaan kulit untuk mencari penyakit makro
  • Koleksi jenis penyakit yang ditemukan
  • Kerik permukaan kulit dan sirip, oleskan pada object glass
  • Periksa di bawah mikroskop
  1. Pemeriksaan organ dalam ikan
  •  Buka perut ikan
  •  Untuk pemeriksaan lebih lanjut, pisahkan setiap organnya
  • Organ berongga diperiksa isi dan bagian dalamnya
  •  Organ padat disobek dalam air atau dipres diantara dua gelas objek
  • Urat daging diperiksa dengan menyayatnya setipis mungkin. Periksa setiap sayatan di bawah mikroskop
  •  Keluarkan mata ikan dan periksa kantungnya
  • Keluarkan lensa mata dari rongganya untuk melihat keberadaan penyakit
  1. Pemeriksaan organ pencernaan
  • Ambil seluruh alat pencernaan (dari eshopagus sampai anus)
  • Pada ikan karnivora, pisahkan lambung dengan usus, gunting memanjang
  • Letakkan pada gelas slide dan lihat di bawah mikroskop
  1. Darah
  •  Ambil darah dengan menusuk jantung atau menggunakan sirip ekor
  • Buat preparat ulas, periksa di bawah mikroskop
  1. Setelah selesai membedah ikan, hitunglah frekuensi kejadian dan intensitas parasit yang ditemukan dengan rumus :
  • Frekuensi kejadian : N/n x 100%
  •  Intensitas                     : Np/N
  1. Catat setiap hasil penyakit yang ditemukan pada table yang telah disediakan.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. A.    Hasil

Hasil diagnosa parasit pada praktikum ini dapat dilihat pada tabel berikut :

No

Nama ikan

Ukuran

Inang

Parasit yang ditemukan

Jumlah

Parasit (ekor)

Berat

(gr)

Panjang (cm)

1.

Nila

(Oreochromis niloticus)

150

18,5

Insang

Sirip

Operkulum

Mulut

sisik

Lendir

Hati

Darah

Jantung

Lambung

Usus

Empedu

Anus

Trichodina sp

Dactylogyrus sp

Capilaria

2

1

1

Jumlah Parasit

4

2.

Benih Ikan Nila

(Oreochromis niloticus)

0,2

8

Insang

Sirip

Operkulum

Mulut

sisik

Lendir

Hati

Darah

Jantung

Lambung

Usus

Empedu

Anus

Capilaria

Capilaria

8

1

Jumlah Parasit

9

3.

Bawal

(Colosoma brachyponum)

250

24,2

Insang

Sirip

Operkulum

Mulut

sisik

Lendir

Hati

Darah

Jantung

Lambung

Usus

Empedu

Anus

Trichodina

Myxobolus

Capilaria

Capliaria

Capilaria

1

1

1

1

1

Jumlah Parasit

5

4.

Mas

(Cyprinus carpio)

450

31

Insang

Sirip

Operkulum

Mulut

sisik

Lendir

Hati

Darah

Jantung

Lambung

Usus

Empedu

Daging

Anus

Capilaria

Capilaria

1

1

Jumlah Parasit

2

5.

Kerapu

(Epinephelus sp.)

400

22

Insang

Sirip

Operkulum

Mulut

sisik

Lendir

Hati

Darah

Jantung

Lambung

Usus

Empedu

Daging

Anus

Capilaria

Capilaria

Capilaria

1

6

1

Jumlah Parasit

8

6

Benih Ikan Patin

(Pangasius sp.)

O,1

4

Insang

Sirip

Operkulum

Mulut

sisik

Lendir

Hati

Darah

Jantung

Lambung

Usus

Empedu

Daging

Anus

Jumlah Parasit

0

TOTAL

PARASIT YANG DIPEROLEH

28

IKAN YANG TERSERANG PENYAKIT

5

  1. B.     Pembahasan

              Praktikum identifikasi penyakit ektoparasit dan endoparasit yang menyerang ikan ini ditemukan 4 jenis parasit, yakni Trichodina sp. (ektoparasit), Dactylogyrus sp. (ektoparasit), Capillaria sp. (ektoparasit dan endoparasit), dan Myxobolus sp. (ektoparasit). Parasit ini hanya ditemukan pada 5 jenis ikan dari 6 ikan sempel yang digunakan. Sesuai dengan tujuan dari indentifikasi penyakit bahwa hal ini dilakukan agar supaya dapat diketahui penyebab penyakit yang dapat menyerang dan menular pada ikan budidaya. Sehingga mendiagnosis serangan penyakit pada ikan merupakan cara yang tepat untuk mengetahui penyebab serangan dan jenis penyakitnya.

Dalam pembahasan ini, praktikan akan mengulas tentang Identifikasi jenis parasit yang didapat serta Frekuensi kejadian dan intensitas parasit, yaitu sebagai berikut :

  1. 1.      Idenfikasi jenis parasit
    1. a.      Trichodina sp.

 Trichodina sp. termasuk dalam jenis parasit Ciliata, yaitu parasit yang bergerak dengan menggunakan bulu-bulu getar (cilia) dan memiliki susunan taksonomi sebagai berikut:

Filum                : Protozoa

Sub filum        : Ciliophora

Kelas               : Ciliata

Ordo                : Peritrichida

Sub ordo         : Mobilina

Famili              : Trichodinidae

Genus              : Trichodina

Spesies            : Trichodina sp.                                  Gambar 1. Trichodina sp.

Menurut Afrianto dan Liviawati (1992) mengemukakan bahwa Protozoa yang menyerang ikan mas dan nila adalah Trichodina sp, Penyakitnya disebut Trichodiniasis. Trichodiniasis merupakan penyakit parasit pada larva dan ikan kecil yang disebabkan oleh ektoparasit Trichodina. Selanjutnya menurut Budi Sugianti (2005), Beberapa penelitian membuktikan bahwa ektoparasit Trichodina mempunyai peranan yang sangat penting terhadap penurunan daya kebal tubuh ikan dan terjadinya infeksi sekunder.

Trichodina sp merupakan ektoparasit yang menyerang/menginfeksi kulit dan insang, biasanya menginfeksi semua jenis ikan air tawar. Populasi Trichodina sp di air meningkat pada saat peralihan musim, dari musim panas ke musim dingin. Berkembang biak dengan cara pembelahan yang berlangsung di tubuh inang, mudah berenang secara bebas, dapat melepaskan diri dari inang dan mampu hidup lebih dari dua hari tanpa inang. Parasit jenis ini memiliki dua bagian yaitu anterior dan posterior yang berbentuk cekung dan berfungsi sebagai alat penempel pada inang. Parasit ini juga memiliki dua inti, yaitu inti besar dan inti kecil, inti kecil yang dimiliki berbentuk bundar menyerupai vakuola dan inti besar berbentuk tepal kuda.

Organisme ini dapat menempel secara adhesi (dengan tekanan dari luar), dan memakan cairan sel pada mucus atau yang terdapat pada epidermis. Parasit ini tidak dapat hidup jika diluar inang. Penempelan Trichodina sp., pada tubuh ikan sebenarnya hanya sebagai tempat pelekatan (substrat), sementara parasit ini mengambil partikel organik dan bakteri yang menempel di kulit ikan. Tetapi karena pelekatan yang kuat dan terdapatnya kait pada cakram, mengakibatkan seringkali timbul gatal-gatal pada ikan sehingga ikan akan menggosok-gosokkan badan ke dasar kolam atau pinggir kolam, sehingga dapat menyebabkan luka.

Ikan yang terserang parasit Trichodina sp., akan menjadi lemah dengan warna tubuh yang kusam dan pucat (tidak cerah), Produksi lendir yang berlebihan dan nafsu makan ikan turun sehingga ikan menjadi kurus. Beberapa penelitian membuktikan bahwa ektoparasit Trichodina sp., mempunyai peranan yang sangat penting terhadap penurunan daya tahan tubuh ikan dengan rendahnya sistem kekebalan tubuh maka akan terjadinya infeksi sekunder. Kematian umumnya terjadi karena ikan memproduksi lendir secara berlebihan dan akhirnya kelelahan atau bisa juga terjadi akibat terganggunya sistem pertukaran oksigen, karena dinding lamela insang dipenuhi oleh lendir. Penularan penyakit ini bisa melalui air atau kontak langsung dengan ikan yang terinfeksi dan penularannya akan didukung oleh rendahnya kualitas air pada wadah tempat ikan dipelihara.

Menurut Noga(1995) dalam Laporan Pemantauan HPIK Stasiun Karantina Ikan Kelas II Luwuk Banggai (2007) Perlakuan yang diberikan untuk ikan yang terinfeksi Trichodiniasis adalah dengan perendaman dengan garam atau asam asetat untuk ikan air tawar sedangkan ikan air laut dengan perendaman air tawar, dapat juga menggunakan formalin dengan kosentrsi tertentu.

  1. b.      Dactylogyrus

Dari hasil penelitian salah satu parasit yang ditemukan adalah Dactylogyrus sp. Parasit ini ditemukan pada insang sampel ikan Nila (Oreochromis niloticus). Hal ini sesuai pendapat Gusrina (2008) bahwa Dactylogyrus sp sering menyerang pada bagian insang ikan air tawar, payau dan laut serta menambahkan bahwa gejala infeksi Dactylogyrus sp pada ikan antara lain: pernafasan ikan meningkat, produksi lendir berlebih. Sedangkan Kurnia (2010), mengemukakan bahwa Dactylogyrus sp menginfeksi insang semua jenis ikan air tawar, terutama ukuran benih.

Gambar 2. Dactylogyrus sp

Secara taksonomi, klasifikasi dari parasit Dactylogyrus sp  ini adalah sebagai berikut:

Filum             : Vermes

Sub Filum     : Platyhelmintes

Kelas             : Trematoda

Ordo                         : Monogenea

Family           : Dactylogyridae

Sub-family    : Dactylogyrinae

Genus            : Dactylogyrus sp.

Hewan parasit ini termasuk cacing tingkat rendah (Trematoda). Dactylogyrus sp sering menyerang pada bagian insang ikan air tawar, payau dan laut. Pada bagian tubuhnya terdapat posterior Haptor. Haptornya ini tidak memiliki struktur cuticular dan memiliki satu pasang kait dengan satu baris.

Kutikular, memiliki 16 kait utama, satu pasang kait yang sangat kecil. Dactylogyrus sp mempunyai ophistapor (posterior suvker) dengan 1 – 2 pasang kait besar dan 14 kait marginal yang terdapat pada bagian posterior. Kepala memiliki 4 lobe dengan dua pasang mata yang terletak di daerah pharynx. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar . Gejala infeksi pada ikan antara lain : pernafasan ikan meningkat, produksi lendir berlebih.

Parasit Dactylogyrus sp. mempunyai siklus hidup langsung yang melibatkan satu inang. Parasit ini merupakan ektoparasit pada insang ikan. Telur-telur yang dilepaskan akan menjadi larva cilia yang yang dinamakan penetasan oncomiracidium. Oncomiracidium mempunyai haptor dan dapat menyerang sampai menyentuh inang.

Sebagian besar parasit monogenea seperti Dactylogyrus spp bersifat ovivarus (bertelur) dimana telur yang menetas menjadi larfa yang berenang bebas yang dinamakan oncomiracidium. Insang yang terserang berubah warnanya menjadi pucat dan keputih-putihan. Penyerangan dimulai dengan cacing dewasa menempel pada insang atau bagian tubuh lainnya (Gusrina, 2008).

Beberapa gejala klinis akibat infeksi parasit yang dapat digunakan sebagai presumtif enderu antara lain ikan tampak lemah, tidak nafsu makan, pertumbuhan lambat, tingkah laku dan berenang tidak normal disertai produksi ender yang berlebihan. Ikan sering terlihat mengumpul di sekitar air masuk, karena pada daerah ini kualitas air terutama kadar oksigen lebih tinggi. Sering mengapung dipermukaan air. Insang tampak pucat dan membengkak, sehingga operculum terbuka. Kerusakan pada insang menyebabkan sulit bernafas, sehingga tampak megap-megap seperti gejala kekurangan oksigen. Insang ikan rusak, luka dan timbul perdarahan serta berlebihan ender (stadium awal). Dalam keadaan serius enderu insang akan rusak dan enderum ikan tidak tertutup dengan sempurna mengakibatkan kesulitan bernafas.

Irawan (2004) mengemukakan bahwa Dactylogyrus sp sering menyerang ikan di kolam yang kepadatannya tinggi dan ikan-ikan yang kurang makan lebih sering terserang parasit ini dibanding yang kecukupan pakan.

  1. c.       Cacing Capillaria

Cacing Capillaria adalah nama jenis cacing dari genus nematoda. Cacing ini merupakan parasit pada sistem pencernaan dan juga pada hati ikan. Capillaria diketahui kerap menyerang ikan Diskus (Symphysodon spp) dan Angelfish (Pterophyllum spp).

Pada infestasi ringan capillaria sering tidak menimbulkan gejala-gejala yang berarti. Sedangkan pada infestasi berat biasanya ditandai dengan gejala “emaciation” atau badan kurus, kehilangan nafsu makan, mengeluarkan kotoran berwarna putih dan tipis, atau kotoran dengan warna berselang-seling antara gelap (hitam) dan terang (putih).

Kehadiran Capillaria biasanya disebabkan oleh penularan dari ikan lain yang telah terinfeksi sebelumnya. Capillaria tidak memerlukan inang tertentu, sehingga infeksi hanya bisa dilakukan oleh ikan lain yang terinfeksi.

Telur Capilaria                                                  Capilaria dewasa

Gambar 3. Capillaria

  1. d.      Myxobolus sp.

Dari hasil penelitian salah satu parasit yang ditemukan adalah Myxobolus sp. Parasit ini ditemukan pada bagian operculum sampel ikan bawal ((Colosoma brachyponum). Myxobolus sp., tergolong jenis parasit sporozoa. Parasit dari golongan ini fase infektifnya berupa spora dan berada dalam tubuh ikan dengan membentuk kista (cyste) yang biasanya dilapisi dengan jaringan pengikat. Myxobolus sp., memiliki susunan taksonomi sebagai berikut :

Gambar 4.  Myxobolus sp.

Filum             : Protozoa

Kelas             : Sporozoa

Ordo             : Cnodosporidia

Famili            : Myxobolidae

Genus            : Myxobolus

Spesies          : Myxobolus sp.

                              Parasit jenis ini merupakan penyebab penyakit Myxosporeasis. Gejala infeksi pada ikan antara lain adanya benjolan pada bagian tubuh luar (bintil) yang berwarna kemerah – merahan. Pengaruh serangan myxosporea tergantung pada ketebalan serta lokasi kistanya. Serangan yang berat pada insang menyebabkan gangguan pada sirkulasi pernafasan serta penurunan fungsi organ pernafasan. Sedangkan serangan yang berat pada jaringan bawah kulit dan insang menyebabkan berkurangnya berat badan ikan, gerakan ikan menjadi lambat, warna tubuh menjadi gelap dan sistem saraf lemah.

  1. 2.      Frekuensi Kejadian dan Intensitas Parasit
    1. a.      Frekuensi Kejadian :

              Frekuensi kejadian adalah sebagai persentase perbandingan antara jumlah ikan yang terserang penyakit per total ikan yang diperiksa.

Sesuai hasil pada subbab sebelumnya yakni ;

Jumlah Ikan yang diperiksa                : 6 ekor

Jumlah Ikan yang terserang penyakit : 5 ekor

Maka :

Frekuensi kejadian dari hasil praktikum ini menggambarkan tingkat serang penyakit terhadap suatu habitat budidaya. Jika semua ikan yang diperiksa berasal dari satu habitat yang sama, maka dapat disimpulkan bahwa habitat ini rawan terhadap penyakit. Karena 83,33 persen ikan terserang penyakit. Hal ini praktikan asumsikan bahwa karena diakibatkan oleh berbagai factor, antara lain :

  1. Kondisi perairan yang tidak mendukung atau tercemar, sehingga kualitas air menurun.
  2. Manajemen pemberian pakan yang tidak efektif dari segi kualitas dan kuantitas yang menuru.
  3. System budidaya yang diterapkan (tradisional, semi intensif dan intensif), berpengaruh terhadap tingkat kepadatan ikan dalam wadah budidaya.
  1. b.      Intensitas Parasit

Intensitas merupakan jumlah rata-rata parasit per ikan yang terinfeksi. Dengan menggunakan rumus . Berdasarkan hasil praktikum maka intensitas parasit dapat dihitung sebagai berikut :

 1.      Trichodina sp

Jumlah parasit yang ditemukan             : 3 ekor

Jumlah ikan yang terserang                    : 2 ekor

 Intensitas   = 1,5 parasit per ekor ikan

Serangan Trichodina sp. ini didapat menyerang pada bagian insang dan sirip. Dari setiap ikan yang terserang penyakit ini diperoleh rata-rata 1,5 parasit jenis ini. Intensitas serangan parasit masih rendah dimungkinkan proses perkembangbiakannya belum sempurna. Jika dibiarkan maka populasi parasit ini akan semakin banyak.

Menurut Agus irawan (2004) bahwa pada dasarnya parasit ini bukan sebagai penyerang utama, tetapi ia menyerang pada ikan yang telah lebih dulu terkena parasit lain, misalnya karena luka, sakit, stress dan sebagainya, sehingga boleh dikatakan bahwa parasit ini sebagai infeksi sekunder.

  1. 2.      Dactylogyrus sp.

Jumlah parasit yang ditemukan          : 1 ekor

Jumlah ikan yang terserang     : 1 ekor

Intensitas   = 1 parasit per ekor ikan

Serangan Dactylogirus sp. ini didapat menyerang pada bagian insang ikan nila. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Gusrina (2008) bahwa Dactylogyrus sp sering menyerang pada bagian insang ikan air tawar, payau dan laut. Intensitas penyerangan parasit jenis ini terendah dibandingkan jenis lainnya yakni hanya ditemukan 1 ekor parasit pada 1 jenis ikan yang diperiksa. Namun apabila dibiarkan Dactylogirus sp. dapat berkembangbiak apabila kondisi lingkungan hidupnya menunjang.

  1. 3.      Capillaria sp.

Jumlah parasit yang ditemukan          : 23 ekor

Jumlah ikan yang terserang     : 5 ekor

Intensitas   =  4,6 parasit per ekor ikan

Serangan Capillaria sp. ini didapat menyerang pada bagian organ luar (insang, lendir dan sisik) dan organ dalam (jantung, lambung, darah, anus, dan empedu). Penyakit ini di temukan pada 5 jenis ikan dari 6 ekor ikan sempel, dan ini adalah jenis penyakit yang paling banyak ditemukan dibandingkan parasit jenis lainnya. Maka dari setiap ikan yang terserang penyakit ini diperoleh rata-rata 4,6 parasit jenis ini.

Menurut Purwakusuma (2009) untuk mengendalikan parasit jenis ini dapat dilakukan pengobatan dengan menggunakan obat-obatan antihelmintic seperti Levamisol atau Piperazine. Sedangkan pencegahan terhadap penularan dilakukan dengan mengisolasi ikan yang tertular dari ikan lainnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari penularan melalui kotoran yang dikeluarkan.  Kotoran ikan yang terinfeksi pada umumnya akan mengandung telur Capillaria dalam jumlah banyak  sehingga akan mudah menular ke ikan lainnya.

4        Myxobolus sp.

Jumlah parasit yang ditemukan             : 1 ekor

Jumlah ikan yang terserang                    : 1 ekor

Intensitas = 1 parasit per ekor ikan

Myxobolus sp. mempunyai intensitas penyerangan yang dapat dikatakan terendah, sama dengan pada jenis parasit Dactylogirus sp. yakni hanya ditemukan 1 ekor parasit pada 1 jenis ikan yang diperiksa. Parasit Myxobolus sp. ini menyerang bagian operculum ikan bawal dan dapat melakukan perkembangbiakan untuk memperbanyak diri di dalam wadah pemelihraan apabila kondisi lingkungan memungkinkan, sehingga untuk mengantisipasi jenis parasit ini dapat dilakukan dengan manajemen perbaikan kualitas air.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A.  Kesimpulan

Penyakit adalah terganggunya kesehatan ikan yang diakibatkan oleh berbagai sebab yang dapat mematikan ikan. Secara garis besar penyakit yang menyerang ikan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu penyakit infeksi (penyakit menular) dan non infeksi (penyakit tidak menular). Penyakit menular adalah penyakit yang timbul disebabkan oleh masuknya makhluk lain kedalam tubuh ikan, baik pada bagian tubuh dalam maupun bagian tubuh luar. Makhluk tersebut antara lain adalah virus, bakteri, jamur dan parasit. Penyakit tidak menular adalah penyakit yang disebabkan antar lain oleh keracunan makanan, kekurangan makanan atau kelebihan makanan dan mutu air yang buruk.

Di lingkungan alam, ikan dapat diserang berbagai macam penyakit. Demikian juga dalam pembudidayaannya, bahkan penyakit tersebut dapat menyerang ikan dalam jumlah besar dan dapat menyebabkan kematian ikan, sehingga kerugian yang ditimbulkannya pun sangat besar. Penyebaran penyakit ikan di dalam wadah budidaya sangat bergantung pada jenis sumber penyakitnya, kekuatan ikan (daya tahan tubuh ikan) dan kekebalan ikan itu sendiri  terhadap serangan penyakit. Selain itu cara penyebaran penyakit itu biasanya terjadi melalui air sebagai media tempat hidup ikan, kontak langsung antara ikan yang satu dengan ikan yang lainnya dan adanya inang perantara.

Dari hasil praktikum ini dapat praktikan simpulkan bahwa jenis parasit yang ditemukan adalah Trichodina sp. (ektoparasit), Dactylogyrus sp. (ektoparasit), Capillaria sp. (ektoparasit dan endoparasit), dan Myxobolus sp. (ektoparasit), dengan frekuensi kejadian terserangnya penyakit adalah 83,33 % dari total 6 ekor ikan yang diperiksa, serta intensitas penyerangan terbesar pada praktikum ini ditemukan pada jenis ikan nila stadia benih dengan jumlah parasit 9 ekor. Jenis penyakit yang terbanyak ditemukan adalah parasit Capillaria sp. Hal ini dikarenakan mudahnya penularan melalui kotoran yang dikeluarkan oleh ikan.  Kotoran ikan yang terinfeksi pada umumnya akan mengandung telur Capillaria sp. dalam jumlah banyak  sehingga akan mudah menular ke ikan lainnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari penularan melalui kotoran yang dikeluarkan.  Kotoran ikan yang terinfeksi pada umumnya akan mengandung telur Capillaria dalam jumlah banyak  sehingga akan mudah menular ke ikan lainnya.

 

B.  Saran

Saran yang bisa praktikan berikan adalah teman-teman dalam kelompok praktikum harus benar-benar melakukan praktikum ini sesuai prosedur yang ada, sehingga hasil yang diperoleh bisa dipertanggung jawabkan. Karena ilmu yang bisa kita peroleh dari praktikum ini sangat banyak dan bermanfaat bagi kita kedepannya. Serta waktu yang diberikan untuk praktikum diperbanyak agar pemeriksaan masing-masing jenis ikan dan objek organ yang diamati lebih efisien dan hasilnya lebih akurat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s