PENGARUH PEMBER…

PENGARUH PEMBERIAN PAKAN BUATAN

YANG DIPERKAYA PROPOLIS TERHADAP

SEX REVERSAL DAN TINGKAT KELULUSHIDUPAN

BENIH NILA MERAH (Oreochromis sp.)

 

 

TUGAS AKHIR

 

 

MUHDI SALEH

NPM 230104110005

 

 

 

 

 

 

                                                                                                          

 

 

 

UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

KERJASAMA DENGAN

VOCATIONAL EDUCATION DEVELOPMENT CENTER OF AGRICULTURE

PROGRAM ALIH JENJANG DIPLOMA IV TEKNOLOGI AKUAKULTUR

JATINANGOR

2012

PENGARUH PEMBERIAN PAKAN BUATAN

YANG DIPERKAYA PROPOLIS TERHADAP

SEX REVERSAL DAN TINGKAT KELULUSHIDUPAN

BENIH NILA MERAH (Oreochromis sp.)

 

 

TUGAS AKHIR

 

Diajukan Untuk Menempuh Ujian Sarjana Sains Terapan Perikanan

Pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

MUHDI SALEH

NPM 230104110005

 

 

 

 

 

 

                                                                                                          

 

 

 

UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

KERJASAMA DENGAN

VOCATIONAL EDUCATION DEVELOPMENT CENTER OF AGRICULTURE

PROGRAM ALIH JENJANG DIPLOMA IV TEKNOLOGI AKUAKULTUR

JATINANGOR

2012

JUDUL          

 

 

 

 

PENULIS      

NPM               

:

 

 

 

 

:

:

PENGARUH PEMBERIAN PAKAN BUATAN YANG DIPERKAYA PROPOLIS TERHADAP SEX REVERSAL DAN TINGKAT KELULUSHIDUPANBENIH NILA MERAH (Oreochromis sp.)

 

MUHDI SALEH

230104110005

           

 

 

Jatinangor,  Mei 2012

Menyetujui :

 

Komisi Pembimbing :                                               Dekan,

Ketua,

 

 

 

Drs. Walim Lili, M.Si                                                Dr. Ir. Ayi Yustiati, MSc

NIP. 19571026 198803 1 004                                    NIP. 19620413 198603 2 003

 

 

 

Anggota,

 

 

                                        

Dr. Ir. Gusrina, M.Si

NIP. 19651030 199103 2 002

 

 

 

           

ABSTRAK

Muhdi Saleh 2012 (Dibimbing oleh : Walim Lili dan Gusrina). Pengaruh Pemberian Pakan Buatan yang diperkaya Propolis Terhadap Sex Reversal dan Tingkat Kelulushidupan Benih Nila Merah (Oreochromis sp.).

 

            Penelitian sex reversal nila merah melalui pemberian pakan yang diperkaya propolis telah dilaksanakan di Hatchery Departemen Perikanan Budidaya PPPPTK Pertanian Cianjur, Kab.Cianjur Jawa Barat, dari tanggal 01 Februari 2012 sampai tanggal 17 April 2012.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pakan buatan yang diperkaya propolis terhadap tingkat kelulushidupan dan pembentukan sex reversal benih nila merah (Oreochromis sp.) serta untuk menentukan kosentrasi yang tepat dan lebih efektif dalam penerapannya untuk kegiatan budidaya perikanan sebagai salah satu upaya untuk mendapatkan bahan alternatif yang baik dari aspek kesehatan, ekonomi maupun dampak terhadap lingkungannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dan rancangan penelitian yang digunakan adalah dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, dengan perlakuan A (kontrol),  B (3 ml/kg pakan), C (6 ml/kg pakan), dan perlakuan D (9 ml/kg pakan) diberikan pada benih nila yang berumur antara 7-10 hari. Wadah yang digunakan adalah akuarium berukuran 40 x 40 x 40 cm3 denganvolume air 50 liter yang diisi masing-masing 100 ekor/wadah. Parameter utama yang diamati adalah tingkat kelulushidupan ikan nila merah dan prosentase pembentukan kelamin jantan, sedangkan data penunjang meliputi kualitas air dan biomassa ikan. Hasil penelitian memberikan nilai tertinggi untuk tingkat kelulushidupan benih nila merah adalah pada perlakuan C (72,33%). Nilai terendah terdapat pada perlakuan B (67,33%). Sedangkan jumlah kelamin jantan tertinggi terdapat pula pada perlakuan yang sama yaitu perlakuan C (83,33%), dan nilai terendah pada perlakuan A (kontrol) yaitu 44,44%. Penentuan jenis kelamin dilakukan dengan pengamatan morfologi yaitu pada alat kelamin sekunder ikan nila merah.

Kata kunci : kelulushidupan, nila merah, propolis, sex reversal.

iii

 

ABSTRACT


Muhdi Saleh 2012 (Supervised by: Walim Lili and
Gusrina). The Effect of Propolis added  with Toward Sex Reversal  and Survival Rate of  Red Tilapia fry (Oreochromis sp.).       

           

The research of sex reversal of red tilapia using propolis added in feed was done at the Hatchery of Fishery Department VEDCA Cianjur, Cianjur Regency West Java, from  February 1st , 2012 to April 17th , 2012. The aim of this research was to analyze the effects of artificial feeding added with propolis toward survival rate and forming sex reversal of red tilapia fry (Oreochromis sp.) also to determine the effective concentration to gain the best alternative substance from the aspects of health, economy or the impact toward the environment. The method used in this research was experimental and research design Complete Random Design was used which consists of 4 treatments and 3 repetitions, with A treatment (control), B (3 ml/kg feed), C (6 ml/kg feed), and D Treatment (9 ml/kg feed) given to 7-10 days old Tilapia fry. The media used was 50 L water in aquarium with sized 40 x 40 x 40 cm3,   each culture media filled with 100 seeds. The main parameter observed was survival rate of red tilapia and the percentage of male sex, formed while the supporting data were water quality and fish biomass. The research result gave the highest value for the survival rate of red tilapia was treatment C (72.33%). The lowest value was from treatment B (67.33%). The highest male sex gained was from treatment C (83.33%) and the lowest value from treatment A (control) was 44.44%. The determination of sex was done by morphology observation that was to secondary sex characteristics of red tilapia.

Keywords : survival rate, red tilapia, propolis, sex reversal.

 

 

 

 

iv

 

KATA PENGANTAR

 

Segala puji dan syukur penulis panjatkan  kehadirat  ALLAH  SWT,  atas limpahan  rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir penelitian yang berjudul ”Pengaruh Pemberian Pakan Buatan yang diperkaya Propolis Terhadap Sex Reversal dan Tingkat Kelulushidupan Benih Nila Merah (Oreochromis sp.)”

Dalam penyusunan laporan tugas akhir ini banyak pihak yang telah membantu sehingga, Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu, diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Drs. Walim Lili, M.Si, selaku  Ketua Komisi Pembimbing di kampus Utama Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung, atas segala kesabaran dan bimbingannya yang telah memberikan masukan dalam penulisan laporan tugas akhir ini,
  2. Dr. Ir. Gusrina M.Si, selaku Anggota Komisi Pembimbing di kampus lokal VEDCA Cianjur, atas segala kesabaran dalam membantu penyelesaian tugas akhir ini,
  3. Roffi Grandiosa, S.Pi., MSc, selaku dosen penelaah pada sidang Usulan Penelitian dan Sidang Penelitian Tugas Akhir, atas segala motifasi dan masukannya.
  4. Dr. Ir. Ayi. Yustiati, M.Sc. Selaku Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan  Universitas Padjadjaran.
  5.  Ir. Anton Sugiri, MP.  Selaku Kepala Devisi Kerjasama Pendidikan Tinggi Perikanan Vedca Cianjur.
  6. Dr. Ir. Gatot Hari Priowirjanto, selaku Direktur SEAMOLEC penyelenggara program kerjasama antara VEDCA – UNPAD dan penyandang dana beasiswa.

v

Keluargaku terutama Ayahanda, Ibunda, Istri dan Anakku tersayang Maqdis Nurqolbi Saleh, yang menjadi motifasi dan selalu memberikan dukungan baik secara spritual dan materi,

vi

Semua pihak terutama teman-teman seperjuangan Program Alih Jenjang D4 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang bersama-sama memberikan bantuan dan do’a.

Akhir kata, penulis mengharapkan agar penulisan tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri maupun bagi pihak lain. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan anugerah dan karunia-Nya, A m i n.

    Jatinangor,  Mei 2012

                   Muhdi Saleh


DAFTAR ISI

 

Bab                                                                                                             Halaman
      DAFTAR TABEL  ……………………………………………………………………..

      DAFTAR GAMBAR  …………………………………………………………………

      DAFTAR LAMPIRAN  ……………………………………………………………..

x

xi

xii

I.   PENDAHULUAN 
1.1.  Latar Belakang  …………………………………………………………………….

1.2.  Identifikasi masalah  ……………………………………………………………..

1.3.  Tujuan Penelitian ………………………………………………………………….

1.4.  Kegunaan Penelitian  …………………………………………………………….

1.5.  Kerangka Pemikiran  …………………………………………………………….

1.6.  Hipotesis  …………………………………………………………………………….

1

3

4

4

4

6

II.  TINJAUAN PUSTAKA 
2.1.  Biologi Nila Merah (Oreochromis sp.)  ……………………………………

2.1.1.      Pembesaran   ……………………………………………………………..

2.1.2.      Pemijahan  ………………………………………………………………..

2.1.3.      Pendederan  ………………………………………………………………

2.1.4.      Pembenihan  ………………….………….…………………

2.1.5.      Manajemen Pemberian Pakan  ………….………………..

2.2.  Perubahan Jenis Kelamin (Sex Reversal)  ………………………………..

2.3.  Propolis  ………………………………………………………………………………

7

9

10

11

12

12

14

16

III.  METODOLOGI 
3.1.  Tempat dan Waktu ……………………………………………………………….

3.2.  Alat dan Bahan  ……………………………………………………………………

3.3.  Metode Penelitian …………………………………………………………………

3.4.  Prosedur Kerja ……………………………………………………………………..

3.4.1.      Tahap Persiapan  ………………………………………………………..

3.4.2.      Pengkayaan Pakan dengan Propolis  …………………………….

3.4.3.      Pemeliharaan Larva Selama Perlakuan  ………………………..

3.5.  Parameter Pengamatan  ……………………………………………………………..

3.6.  Analisis Data  ………………………………………………………………………………

18

18

19

20

20

20

21

21

22

IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN 
4.1.  Tingkat Kelulushidupan (survival rate/SR) ……………………………..

4.2.  Nisbah Kelamin Jantan  …………………………………………………………

4.3.  Kualitas Air ………………………………………………………………………….

vii

23

25

28

IV.  KESIMPULAN DAN SARAN 

viii

5.1.  Kesimpulan ………………………………………………………………………….

5.2.  Saran  ………………………………………………………………………………….

31

31

DAFTAR ACUAN   ……………………………………………………………………

LAMPIRAN  ……………………………………………………………………………..

RIWAYAT HIDUP …………………………………………………………………….

32

34

60

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR TABEL

 

 

 Nomor                                             Judul                                              Halaman

1.

 

2.

 

3.

 

4.

5.

 

6.

 

7.

8.

Beberapa hasil aplikasi sex reversal pada ikan nila dengan

bahan dasar  propolis  ……………………………………………

Perbedaan jantan dan betina pada nila merah

(Oreochromis sp.) …………………………………………………

Ransum pakan harian menurut panjang

total ikan …………………………………….……………………

Komponen kimia propolis  ………………………………………

Rata-rata tingkat kelulushidupan (survival rate/SR)

nila merah selama penelitian …………..…………………………

Jumlah rata-rata nila jantan dan betina

hasil pengamatan …………………………………………………

Kisaran kualitas air sampling selama penelitian …………………

Hubungan antara pH air dan kehidupan

Ikan budidaya ……………………………………………………

6

8

13

17

23

26

28

29

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ix

 

DAFTAR GAMBAR

 

 

 Nomor                                             Judul                                              Halaman

1.

 

2.

3.

 

4.

5.

6.

 

 

 

 

Diagram sex reversal metode oral dengan bahan

dasar propolis  …….……………………….…………………..…

Induk nila merah  …………………………..………………………

Induk nila betina menjaga anaknya masuk keluar

dalam mulut  ………………………………………………….…

Kemasan propolis  ……………………………………………….

Kelulushidupan ikan nila merah selama penelitian ………………….

Nisbah kelamin jantan dan betina ikan

nila merah ………………………………………………………………………….

4

7

11

16

24

26

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

x

 

DAFTAR LAMPIRAN

 

 

 Nomor                                             Judul                                              Halaman

1.

2.

3.

 

4.

5.

6.

7.

8.

 

9.

10.

 

 

Media Pemeliharaan Benih Nila Merah  …….………………..…

Skema Pembuatan Pakan Perlakuan Dengan Propolis ..…………

Tingkat Kelulushidupan (Survival Rate/SR) Benih

Nila Merah Selama Penelitian  ………………………………….

DataTingkat Kelulushidupan Benih Nila Merah (%)……………

Jumlah Nila Jantan dan Betina Hasil Pengamatan  ………………….

Jumlah Nila Jantan (%)  ……………………………………………………….

Jumlah Nila Betina (%)  ………………………………………………………

Biomassa, Kualitas Air dan Mortalitas Benih Nila Merah

Selama Penelitian  ………………………………………………………………

Alat dan Bahan Penelitian  ………………………………………………….

Perbedaan Jenis Kelamin Jantan dan Betina  …………………………

35

36

37

38

41

42

46

49

57

59

 

 

 

 

 

 

xi

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1.  Latar Belakang

Budidaya ikan merupakan suatu kegiatan yang sangat penting saat ini dan masa yang akan datang. Hal ini dikarenakan ikan merupakan salah satu jenis pangan yang sangat dibutuhkan oleh manusia yang mempunyai harga jual relatif murah dan mempunyai kandungan gizi yang lengkap. Dengan mengkonsumsi ikan maka kebutuhan gizi manusia akan terpenuhi. Oleh karena itu kemampuan sumberdaya manusia untuk memproduksi ikan budidaya sangat dibutuhkan.

Pada mulanya bibit ikan nila (Oreochromis niloticus) didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh Balai Penelitian Air Tawar (sekarang : Balai Riset Perikanan Air Tawar), Bogor, pada tahun 1969 dari Taiwan. Nila adalah nama khas Indonesia yang diberikan oleh pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perikanan pada tahun 1975. Sedangkan ikan nila merah (Oreochromis sp.) didatangkan pertama kali dari Filipina pada tahun 1981. Nama tersebut diberikan bukan karena warnanya, melainkan karena mirip dengan nama latinya, yaitu Oreochromis niloticus, berasal dari sungai Nil (disesuaikan dengan bunyinya menjadi nila). Ikan nila disukai oleh berbagai bangsa karena dagingnya enak dan tebal seperti daging ikan kakap, terutama ikan nila yang berwarna merah, ikan nila dapat tumbuh sampai ukuran 1 kg hanya dalam waktu pemeliharaan 6 – 8 bulan  (Suyanto, 2011).

Seperti diketahui, ikan nila merupakan ikan yang mempunyai sifat-sifat unggul. Namun, dalam proses budidayanya, ikan nila sangat mudah kawin silang dan bertelur secara liar. Akibatnya, kepadatan kolam meningkat. Disamping itu, ikan nila yang sedang beranak (nila betina), lambat pertumbuhannya sehingga diperlukan waktu yang lebih lama untuk mencapai ukuran konsumsi yang diharapkan (Suyanto, 2011).

1

2

Menurut Iskandar, (2003) kecepatan pertumbuhan ikan nila lebih tinggi dibandingkan dengan kerabatnya, yaitu mujair. Kemudian ada hal lain yang sangat menarik perhatian para pemelihara, yaitu pertumbuhan nila jantan lebih cepat jika dibandingkan dengan pertumbuhan ikan nila betina. Sifat ini akhirnya dimanfaatkan oleh para pembudidaya untuk melakukan pemeliharaan ikan jantan saja. Dengan begitu, bisa diperoleh produksi yang tinggi dalam waktu yang singkat. Pemeliharaan dengan cara ini disebut monosekskultur atau populasi tunggal kelamin. Dijelaskan lebih lanjut bahwa sistem tersebut ternyata lebih menguntungkan dibandingkan dengan budidaya sistem campuran (mixed-sex). Perkembangan yang sangat pesat pada nila jantan  bila dilakukan dengan budidaya monosekskultur, tidak akan terjadi pada budidaya campuran (mixed-sex).

Untuk mengatasi kekurangan ikan tersebut, para ahli telah mengadakan penelitian untuk memperoleh benih ikan berkelamin jantan sebanyak mungkin. Ada empat cara untuk memproduksi benih ikan nila jantan yaitu secara sexing manual (memilih benih-benih yang beratnya 30 g atau umur 2 bulan dengan melihat alat kelaminnya), sistem hibridisasi antar jenis tertentu dapat menghasilkan keturunan pertama (F1) yang hampir 100% jantan, sex reversal atau merangsang perubahan seks dengan hormon, dan manipulasi kromosom dapat diperoleh super male (jantan super) (Suyanto, 2011).

Pada umumnya, untuk perubahan kelamin ikan menjadi jantan digunakan hormon 17α-metiltestosteron, tetapi dalam aplikasinya penggunaan hormon sintesis dapat menimbulkan stress pada ikan sehingga kelangsungan hidup ikan menjadi rendah, harganya cukup tinggi, dan dari segi kesehatan dapat bersifat karsinogenik. Oleh karena itu, dicari bahan alternatif yang memiliki bahan aktif untuk pengarahan kelamin yang bersifat lebih alami dan ramah lingkungan. Salah satu caranya adalah dengan penambahan propolis pada pakan komersil (Larasati, 2010).

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor KEP.20/MEN/2003,  hormon 17α-metiltestosteron termasuk dalam klasifikasi obat keras yang berarti bahwa peredaran dan pemanfaatannya menjadi semakin dibatasi terkait dengan dampak negatif yang dapat ditimbulkan, baik kepada ikan, manusia maupun lingkungan. Hormon 17α-metiltestosteron yang notabene merupakan hormon sintetik bersifat karsinogenik bagi manusia. Selain itu,  hormon ini juga  berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan karena sulit terdegradasi secara alami (Ariyanto, 2010).

3

Selain propolis salah satu yang dianggap aman dan ramah lingkungan antara lain adalah dengan madu lebah hutan. Madu dipilih karena mengandung kalium yang dapat merubah lemak prenegnelon, dimana prenegnelon inilah yang akan merubah estrogen menjadi progesteron. Dengan perubahan ini, maka ikan yang tadinya akan menjadi betina akan diarahkan menjadi jantan (Dedi et al., 2009).

Sesuai dengan hal diatas, maka dalam rangka menggantikan fungsi hormon 17α-metiltestosteron. Sehingga pentingnya dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menghasilkan benih nila merah (Oreochromis sp.) yang berkelamin jantan dengan penggunaan propolis sebagai bahan alternatif yang lebih aman untuk digunakan.

1.2.  Identifikasi Masalah

            Dengan semakin berkembangnya teknologi dalam budidaya perikanan untuk menghasilkan pertumbuhan dan produktivitas hasil panen yang besar, maka dilakukan berbagai cara manipulasi, baik pada lingkungan hidup, pakan, maupun manipulasi pada kromosom biota air itu sendiri. Hal ini seperti apa yang diterapkan pada teknik sex reversal ikan nila dengan berbagai metode perlakuan terutama pada tahap pembenihan dengan harapkan menghasilkan populasi ikan nila berkelamin jantan. Sejauh mana pengaruh pemberian pakan buatan yang diperkaya propolis dengan konsentrasi yang berbeda terhadap tingkat kelulushidupan serta  sex reversal benih nila merah selama perlakuan dengan metode oral.

 

4

1.3.  Tujuan Penelitian

            Tujuan dari Penilitian ini antara lain adalah :

  1. Untuk menganalisis pengaruh pakan buatan yang diperkaya propolis terhadap tingkat kelulushidupan dan pembentukan kelamin jantanbenih nila merah (Oreochromis sp.).
  2. Untuk menentukan konsentrasi propolis yang tepat dan lebih efektif dalam penerapannya untuk kegiatan budidaya perikanan.
  3. Sebagai salah satu upaya untuk mendapatkan bahan alternatif yang baik dari aspek kesehatan, ekonomi maupun dampak terhadap lingkungannya.

1.4.  Kegunaan Penelitian

            Secara umum hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pemberian pakan yang diperkaya propolis sebagai bahan alternatif yang dapat membalikkan arah kelamin betina menjadi kelamin jantan serta sebagai bahan kajian untuk mendapatkan konsentrasi propolis yang tepat dalam penerapannya terhadap sex reversal.

1.5.  Kerangka Pemikiran

Pemberian pakan tanpa propolis pada

benih nila merah sampai umur 77 hari

 

 

 

 

 

 

           

Parameter Pengamatan

Sex reversal

Derajat kelangsungan hidup

 

 

 

 

Gambar 1. Diagram sex reversal metode oral dengan bahan dasar propolis

5

            Sex reversal (monosex) adalah suatu teknologi yang membalikan arah perkembangan kelamin menjadi berlawanan. Cara ini dilakukan pada waktu menetas gonad ikan belum berdiferensiasi secara jelas menjadi jantan atau betina tanpa merubah genotipenya. Tujuan dari penerapan sex reversaladalah menghasilkan populasi monoseks (tunggal kelamin), yang sangat bermanfaat dalam mendapatkan ikan dengan pertumbuhan yang cepat, mencegah pemijahan liar, mendapatkan penampilan yang baik, menunjang genetika ikan yaitu teknik pemurnian ras ikan (Gusrina, 2008)

Dijelaskan lebih lanjut bahwa proses diferensiasi seks adalah suatu proses perkembangan gonad ikan menjadi suatu jaringan yang defenitif (pasti), yang terjadi terlebih dahulu pada betina kemudian baru pada jantan. Gonad ikan pada saat baru menetas masih berupa benang yang sangat halus dan belum berdeferensiasi menjadi jantan atau betina.

Hormon yang sering digunakan untuk jantanisasi adalah 17α-metiltestosteron, tetapi hormon tersebut bersifat karsinogenik, sehingga digunakan propolis yang bersifat lebih alami dan ramah lingkungan. Propolis memiliki komposisi yang dapat digunakan untuk pengarahan perubahan kelamin ikan menjadi jantan yaitu chrysin dan berbagai macam mineral. Chrysin merupakan salah satu bahan aktif alami yang mengandung flavonoid sebagai penghambat enzim aromatase atau yang lebih dikenal aromatase inhibitor. Aromatase merupakan enzim yang berfungsi sebagai katalis konversi testosteron (androgen) menjadi estradiol (estrogen) (Dean, 2004).

Dosis hormon yang diberikan sangat berpengaruh terhadap sex reversal ikan. Pemberian dosis yang terlalu rendah akan menyebabkan proses pengarahan perubahan kelamin berlangsung kurang sempurna. Pemberian dosis yang tinggi akan menyebabkan kecenderungan ikan menjadi steril, populasi dan limbah sisa perlakuan yang dikhawatirkan mencemari lingkungan sehingga mempengaruhi perbandingan kelamin ikan. Penggunaan dosis biasanya dikaitkan dengan lama perlakuan. Dosis yang tinggi biasanya dilakukan dalam waktu yang pendek sedangkan dosis rendah diberikan dalam jangka waktu panjang (Zairin, 2002).

6

Setelah dilakukan aplikasi sex reversalpada individu ikan, maka harus dilakukan uji progeni. Uji progeni ini dilakukan untuk menentukan apakah ikan yang telah ditreatmen tersebut sudah berubah kelamin. Menurut Gusrina (2008), terdapat dua metode yang digunakan dalam identifikasi jenis kelamin yaitu : Pertama metode histologis/asetokarmin, dimana identifikasi gonad dengan metode asetokarmin dilakukan hanya untuk keperluan penelitian, karena ikan harus dimatikan terlebih dahulu untuk diambil gonadnya. Asetokarmin adalah larutan pewarna yang digunakan untuk mewarnai jaringan gonad. Kedua metode morfologi, adalah cara terhemat karena tidak harus mematikan ikan yang akan diamati. Cara ini dapat dilakukan pada ikan-ikan yang memiliki dimorfisme seksual yang jelas antara jantan dan betina.

Beberapa data hasil aplikasi melalui pemberian pakan penilitian mengenai sex reversal pada ikan nila dengan propolis yang mengandung chrysin untuk pengarahan perubahan kelamin tertera pada Tabel 1.

Tabel 1. Beberapa hasil aplikasi sex reversal pada ikan nila dengan bahan dasar  propolis.

Tujuan

Jenis Bahan

Metode pemberian

Dosis

Lama perlakuan

Jantan %

SR %

Sumber

Jantanisasi

Propolis

Oral

5 ml/kg pakan

35 hari

76,67

74,67

Larasati, 2010

Propolis

Oral

3,0 ml/kg pakan

28 hari

69,71

68

Anwar, 2010

1.6.  Hipotesis

            Pemberian bahan propolis pada pakan buatan dengan kosentrasi 6 ml/kg pakan diperkirakan menghasilkan pengarahan jenis kelamin betina menjadi kelamin jantan tertinggi pada benih nila merah (Orechromis sp.).

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

 

2.1.  Biologi Nila Merah (Orechromis sp.)

            Menurut informasi, ada 4 jenis warna ikan nila merah, yaitu orange, pink/albino, albino dengan bercak merah dan hitam, serta orange/albino dengan bercak merah. Biasanya masyarakat lebih menyukai warna pink/albino atau orange/albino dengan bercak merah. Hal ini dikarenakan nila dengan warna tersebut sangat mirip dengan kakap merah yang banyak disukai orang.

Gambar 2. Induk nila merah (sumber, http://dialerbisnis.blogspot.com).

            Klasifikasi nila merah menurut  Iskandar (2003) adalah sebagai berikut :

Filum               : Chordata

Sub Filum        : Vertebrata

Kelas               : Ostheichthyes

Sub Kelas        : Acanthoptherigi

Ordo                : Percomorphi

Sub Ordo        : Percoidea

Family             : Cichlidae

Genus              : Oreochromis

Spesies            : Oreochromis sp.

7

8

Ciri-ciri ikan nila merah sebenarnya mudah sekali dikenali, baik dilihat dari bentuk tubuh, garis-garis pada tubuh, warna pada sekujur tubuh, dan ciri fisik lainnya. Bentuk tubuh nila merah (Oreochromis sp.) pipih, berpunggung lebih lebar dari ikan mujair (Oreochromis mosambicus). Warnanya merah-merahan atau kekuning-kuningan atau keputih-putihan (albino). Sisiknya berbentuk steroid berukuran besar dan kasar. Gurat sisinya terputus dibagian tengah badan. Jumlah sisik pada gurat sisi 34 buah. Pada badan dan sirip ekor ditemukan garis-garis lurus sedangkan garis-garis berbentuk memanjang ditemukan pada sirip punggung dan sirip dubur.

Untuk membudidayakan nila merah ada hal penting yang harus diketahui, yaitu perbedaan jenis kelaminnya. Menurut Iskandar (2003), Perbedaan jenis kelamin nila merah dapat diketahui dari ciri-cirinya tertera pada Tabel 2.

 

Tabel 2. Perbedaan jantan dan betina pada nila merah (Oreochromis sp.)

No.

Nila jantan

Nila betina

1.

Memiliki ukuran sisik lebih besar Ukuran sisik relatif lebih kecil

2.

Mempunyai alat kelamin yang berbentuk tonjolan agak meruncing pada bagian bawahnya. Alat kelamin berupa lubang genital dekat anus

3.

Warna sisik pada bagian dibawah dagu dan perut berwarna merah tajam Sedangkan nila betina berwarna merah pucat

4.

Bentuk moncong dan rahang cenderung melebar Bentuk moncong dan rahang cenderung meruncing

5.

Sirip punggung dan sirip ekor merupakan garis terputus-putus Sirip punggung dan sirip ekor merupakan garis tidak terputus-putus

6.

Bila bagian perut diurut (dipijit) akan mengelurkan cairan atau memancarkan cairan berwarna bening Bila bagian perut diurut (dipijit) tidak akan mengelurkan cairan atau memancarkan cairan berwarna bening

9

Nila merah bersifat beranak pinak dan cepat pertumbuhannya. Selain itu, ikan ini memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan kadar garam sampai 30 ppt. Kedewasaan pertama tercapai pada umur 4-6 bulan dengan bobot 100-250 g. Jenis ikan ini dapat memijah 6-7 kali/tahun. Seekor induk betina dapat menghasilkan telur sebanyak 1.000 – 1.500 butir. Saat pemijahan ikan jantan akan membuat sarang dan menjaganya. Telur yang telah dibuahi dierami oleh induk betina di dalam mulutnya. Penjagaan oleh betina masih terus dilanjutkan sampai seminggu setelah telur-telur tersebut menetas. Di dalam karamba jaring apung ikan ini dapat mencapai ukuran di atas 250 g dalam waktu 4 bulan dari bobot awal sekitar 20 g.

Sebagai ikan yang tergolong eurihalin, ikan nila merah dapat dibudidayakan di perairan tawar, payau, dan laut. Namun demikian, pada perairan dengan kadar garam tinggi (>29 ppt) ikan ini masih tumbuh baik, tetapi tidak dapat berkembang biak. Nila merah dapat tumbuh baik pada lingkungan perairan yang bersuhu antara 27-330C, kadar oksigen terlarut >3 mg/l, pH 7-8,3, alkalinitas 90-190 mg/l, kesadahan 62-79 mg CaCO3, kecepatan arus 10-20 cm/dt, kecerahan >3 m, dan kedalaman air 10-20 m (http://hobiikan.blogspot.com).

Menurut Suyanto (2011), ikan nila dikenal sebagai ikan yang sangat tahan terhadap perubahan lingkungan hidup. Nila dapat hidup dilingkungan air tawar, air payau, dan air asin di laut. Kadar garam air yang disukai antara 0-35 per mil. Ikan nila air tawar dapat dipindahkan ke air asin dengan proses adaptasi yang bertahap. Kadar garam air dinaikkan sedik demi sedikit. Pemindahan ikan nila secara mendadak kedalam air yang kadar garamnya sangat berbeda dapat mengakibatkan  stress dan kematian ikan.

2.1.1.      Pembesaran

Ikan nila yang dipelihara secara tunggal kelamin (monosex culture) jantan lebih cepat tumbuh dibandingkan dengan ikan yang dipelihara secara campuran jantan dan betina. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan ikan nila untuk melakukan perkawinan bila telah mencapai ukuran dewasa (150 g) sehingga energi untuk pertumbuhan menjadi berkurang. Selain itu, ikan nila lebih cepat tumbuh dibandingkan dengan ikan nila betina (Suyanto, 2011).

10

Pembesaran ikan nila merah, dapat dilakukan dengan beberapa metode seperti tunggal kelamin, campur kelamin, tunggal jenis dan terpadu. Pembesaran dengan “metode tunggal kelamin”, dilakukan dengan menggunakan ikan jantan atau betina saja. Metode pembesaran “campur kelamin” dengan menggunakan ikan jantan dan betina, bersamaan dalam satu wadah pemeliharaan. Sedangkan pembesaran dengan “metode tunggal kelamin” adalah, pembesaran dengan menggunakan satu jenis ikan dalam satu wadah pemeliharaan. Metode pembesaran secara “campur jenis”, dengan menggunakan lebih dari satu jenis ikan dalam satu wadah pemeliharaan. Pembesaran “secara terpadu” adalah, metode pembesaran dengan komoditas selain ikan misalnya mina padi atau ikan bersama

ternak. Pemeliharaan (pembesaran) ikan nila, di kolam memakan waktu 6 bulan dengan bobot ikan 50 gr/ekor atau 25 gr/m2 dengan bobot 50 gr/ekor (http://mitra-bisnis.tripod.com).

2.1.2.      Pemijahan

Proses perkawinan induk jantan dan betina sampai menghasilkan larva disebut pemijahan. Nila jantan akan membuat sarang pada dasar kolam kemudian mengundang betina untuk bertelur pada sarang itu, ketika telur-telur nila keluar, nila jantan akan membuahi dengan cara menyemprotkan cairan jantannya ketelur-telur itu. Setelah telur-telur itu dibuahi oleh si jantan maka betina kembali menyimpan telur-telur itu kedalam mulutnya. Dalam beberapa hari saja telur-telur itu akan menetas.

Ketika telur-telur nila menetas ini disebut dengan larva. Larva adalah anak ikan yang berumur 1-5 hari. Pada usia ini, induk nila betina akan menjaga anak-anak ikan ini dengan menyimpan dan mengamankan dalam mulutnya. Biasanya induk nila akan memasukan dalam mulutnya  jika dalam keadaan tidak aman, kemudian memuntahkan kembali jika di sekitarnya aman.

Selama beberapa hari induk nila akan terus menjaga anaknya masuk-keluar dalam mulutnya. Pada usia 4-5 hari, larva ini mulai terbentuk seperti ikan dewasa dan pada usia ini, induk akan mulai membiarkan anak-anaknya untuk mencari makan sendiri (http://ikannila.com).

11

Gambar 3. Induk nila betina menjaga anaknya masuk keluar dalam mulut

                      (sumber, http://ikannila.com).

2.1.3.      Pendederan

Pendederan adalah pemisahan larva dengan induk betina maupun jantan. Pemeliharaan larva ini dimaksudkan untuk disiapkan menjadi anak-anak ikan yang cukup besar yang dinamakan benih. Pemeliharaan pendederan awal ini berlangsung satu sampai satu setengah bulan. Pendederan ini, diharapkan dapat mencapai ukuran 3-4 cm atau berat 9-12 gr.

Pemindahan larva pada kolam pendederan ini dimulai ketika usia larva 5-7 hari. Besar ikan kecil ini sekitar panjang 3-5 mm atau berusia 5-8 hari sejak telur menetas. Pemindahan dilakukan pada penampungan khusus;  di  bak beton, jaring kelambu atau happa. Ukuran kolam semen kecil bisa panjang, lebar, tinggi: 1 m x 1 m x 50 cm3. atau bisa juga dibuat lebih besar. Penampungan sebesar 1 x 1 x 50 cm3 dapat menampung 20.000-50.000 ekor larva. Pemeliharaan pada penampungan ini tidak lebih dari sebulan karena akan terlalu sesak buat ikan yang semakin bertumbuh besar.

 

2.1.4.     

12

Pembenihan

Setelah pendederan selama 4-6 minggu anak ikan sudah berukuran 2-3 cm, anda dapat memindahkan ke kolam pembenihan. Pada pendederan dengan kolam 1 x 1 x 50 cm3 sudah tidak layak lagi untuk menampung anak ikan yang semakin besar oleh karena itu kita perlu menyediakan kolam yang lebih besar lagi agar anak ikan lebih leluasa untuk bertumbuh. Disinilah perbedaan pendederan dan pembenihan.

Sebenarnya tidak ada perbedaan yang berarti pada pendederan dan pembenihan. Seperti pada bahasan disebelumnya pendederan adalah persiapan larva untuk menjadi benih, kemudian benih siap dibesarkan pada kolam yang lebih besar untuk pembesaran. Namun, benih panjang 2-3 cm terlalu kecil untuk dilepas pada kolam pembesaran karena itu harus dibuat kolam pembenihan yang cukup besar untuk memicu pertumbuhan benih yang lebih besar lagi (http://ikannila.com).

Untuk mendapatkan benih ikan nilatunggal kelamin jantan (monosex) maka dilakukan proses jantanisasi.  Untuk keperluan ini diperlukan minimal 24 buah hapa ukuran masing-masing 2 x 2 x 2 m3 yang ditempatkan dalam kolam dengan luas kurang lebih 400 m2 dan kedalam air minimal 1,5 m.  Kedalam setiap hapa dapat diisi larva ikan sebanyak 20.000-30.000 ekor.  Larva diberi pakan berbentuk tepung yang telah dicampur dengan hormon 17 α-Methyl Testosteron sampai masa pemeliharaan selama 17 hari (http://budidaya-mania.blogspot.com).

Menurut Suyanto (2011), bahwa bak semen yang berukuran 1 x 1 m dengan kedalam 0,3-0,5 m juga dapat digunakan untuk bak pendederan dengan kepadatan yang lebih dari 200 ekor/m2. Pada tingkat kepadatan ini diperlukan aerator agar burayak tidak kekurangan oksigen.

2.1.5.      Manajemen Pemberian Pakan

Menurut Suyanto (2011), kebutuhan pakan dalam perlakuan sex reversal untuk suatu periode perlakuan biasanya dipersiapkan sekaligus. Untuk 1.000 ekor burayak, dibutuhkan 250-400 g pakan berhormon dalam satu periode perlakuan.

13

Pakan sebaiknya mempunyai kadar protein 25-30%, kadar lemak 5-8%, ditambah vitamin dan mineral yang berimbang. Ukuran butir pakan antara 100-500 µ yang dapat diayak dengan saringan yang lubangnya berukuran 0,5 mm. untuk keperluan 50.000 ekor benih diperlukan pakan sebanyak 12,5-20 kg. pakan ini dihabiskan selama 3-4 minggu selama masa perlakuan sex reversal.

Takaran ransum harian seperti direkomendasikan oleh badan Litbang Perikanan ialah 15-20% berat badan (biomassa) burayak perhari sampai benih mencapai ukuran 15 mm. seterusnya secara bertahap, ransum itu dikurangi sampai menjadi 10% berat biomassa per hari hingga selesai agar pemberian pakan terkontrol sebaiknya dibuat daftar ransum seperti tertera pada Tabel 3.

 

Table 3. Ransum pakan harian menurut panjang total ikan

Panjang ikan (mm)

Ransum harian (g/1.000 ekor)

8

2

9

3

10

4

11

5

12

6

13

7

14

8

15

10

16

11

17

13

18

15

19

17

20

19

21

21

22

24

23

27

25

30

(Sumber, Badan Litbang Perikanan dalam Suyanto, 2011)

 

 

 

 

 

14

Menurut Zairin (2002), setelah larva nila merah menetas pemberian pakan dimulai pada hari kedua berupa naupli artemia hingga berumur 5 hari setelah itu baru mulai pemberian pakan pellet hingga dewasa. Larva yang baru berumur 7 hari dipindahkan ke akuarium perlakuan sex reversal berukuran 40 x 30 x 30 cm yang telah diisi air sebanyak 15 liter. Kepadatan tiap akuarium adalah 500 ekor.

 

2.2.  Perubahan Jenis Kelamin (sex reversal)

Menurut Pandian dan Varadana (1990), dalam Amalia (2012), periode diferensiasi seks pada ikan nila sebagai berikut: Untuk Oreochromis morsombicus 11-19 hari, untuk Oreochromis aureus 18-32 hari, dan untuk Oreochromis niloticus 25-29 hari.

Menurut Gusrina (2008), proses diferensiasi seks adalah suatu proses perkembangan gonad ikan menjadi suatu jaringan yang definitif (pasti), yang terjadi terlebih dahulu pada betina dan kemudian baru terjadi pada jantan. Gonad ikan pada saat baru menetas masih berupa benang yang sangat halus dan belum berdiferensiasi menjadi jantan atau betina. Proses diferensiasi seks pada betina ditandai dengan meiosis oogonia dan/atau perbanyakan sel-sel somatik membentuk rongga ovari, sebaliknya pada diferensiasi seks pada jantan ditandai dengan muculnya spermatonia serta pembentukan sistem vaskular pada testis.

Hormon steroid secara alamiah terlibat dalam proses diferensiasi seks. Upaya pengontrolan proses diferensiasi seks dilakukan dengan pemberian steroid seks dari luar tubuh (eksogenous) pada ikan yang belum berdiferensiasi. Ikan-ikan hasil sex reversal pada umumnya mengalami perubahan kelamin yang bersifat permanen dan berfungsi normal. Pemberian steroid seks sebaiknya diberikan sebelum muncul tanda-tanda diferensiasi gonad dengan menggunakan hormon estrogen atau androgen. Jenis-jenis hormon steroid yang dapat digunakan dalam terapi hormon antara lain adalah :

15

1. Estrogen (hormon betina) :

Estradiol-17 β esteron, estriol atau ethynil estradiol. Hormon ini memberikan efek perubahan dari jantan menjadi betina (feminisasi).

2. Androgen (hormon jantan) :

Testoteron, 17 α-Metyl Testoesteron, androstendion. Hormon ini memberikan efek perubahan dari betina menjadi jantan (maskulinisasi).

Dijelaskan lebih lanjut bahwa dalam penerapan sex reversal dengan menggunakan terapi hormon dapat diberikan beberapa cara yang didasarkan pada efektifitas, efisiensi, kemungkinan polusi dan biaya. Cara pemberian hormon dalam teknologi seks reversal dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain adalah :

1.   Oral

Metode oral adalah metode pemberian hormon melalui mulut yang dapat dilakukan dengan pemberian pakan alami maupun pakan buatan. Pada pakan buatan, hormon dilarutkan dalam pelarut polar seperti alkohol. Cara yang dilakukan adalah dengan mencampur hormon 17 α-metyltestoesteron secara merata dengan pakan dengan dosis yang disesuaikan jenis ikan yang akan diaplikasikan. Pemberian hormon pada pakan alami dapat dilakukan dengan teknik bioenkapsulasi.

  1. 2.    Perendaman (dipping/bathing)

Metode perendaman (dipping) yaitu dengan cara merendamkan larva ikan ke dalam larutan air yang mengandung 17 α-metyltestoesteron dengan dosis 1,0 gram/liter air.  Metode ini dapat diaplikasikan pada embrio, dan pada larva ikan yang masih belum mengalami diferensiasi jenis kelamin (sex), dan lama perendaman tergantung dosis hormon yang diaplikasikan, dimana semakin banyak dosis hormon maka semakin singkat waktu perendaman dan demikian juga sebaliknya.

  1. 3.    Suntikan/Implantasi

Metode suntikan atau implantasi ini ini biasanya hanya dapat dilakukan pada ikan yang berukuran dewasa. Proses penyuntikan dilakukan pada bagian punggung ikan dengan dosis yang disesuaikan dengan jenis dan ukuran ikan.

16

2.3.  Propolis

Propolis atau Lem Lebah adalah suatu zat yang dihasilkan oleh lebah madu. Dikumpulkan oleh lebah dari pucuk daun-daun yang muda untuk kemudian dicampur dengan air liurnya, digunakan untuk menambal dan mensterilkan sarang. Propolis bersi­fat disinfektan (anti bakteri) yang membunuh semua kuman yang masuk ke sarang lebah. lebah meliputi sarangnya dengan propolis untuk melindungi semua yang ada di dalam sarang tersebut dari serbuan kuman, virus, atau bakteri (http://jakartacity.olx.co.id). Kemasan propolis dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Kemasan Propolis (Sumber, http://jakartacity.olx.co.id)

            Propolis merupakan nama generik dari resin lebah. Kata propolis itu sendiri berasal dari bahasa yunani, yaitu “pro” artinya sebelum atau pertahanan dan “polis” artinya kota atau sarang lebah. Jadi, propolis adalah pertahanan kota atau sebagai system pertahanan pada sarang lebah. Warna propolis yang biasa dijumpai adalah kuning, merah, coklat, coklat mudah atau hijau. Secara fisik propolis bersifat rapuh dan keras, ada pula propolis yang berbentuk pasta dan elastis. Karena sifatnya yang lengket seperti lem, propolis disebut sebagai bee-glue (Hasan, 2010).

Propolis merupakan produk lebah yang kaya akan zat-zat esensial yang sangat berguna bagi manusia. Propolis diproduksi oleh lebah dari getah yang diambil dari bagian tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan getah terutama tunas tumbuhan. Getah inilah yang menjadi bahan dasar pembentuk propolis. Getah ini dibawah ke dalam sarang lebah oleh para lebah pekerja dan dicampur dengan wax (sejenis lilin) dan serbuk sari bunga. Dengan bantuan air liur lebah, campuran ini dibuat menjadi lentur. Kemasan propolis bervariasi seperti botol plastik, kapsul, dan pasta gigi (Wikipedia, 2009). Komponen kimia propolis tertera pada Tabel 4.

17

Tabel 4. Komponen Kimia Propolis

Kelompok senyawa

Komponen kimia

Jumlah kandungan (%)

Resin (Chrysin) Flavonoid (72,7%), asam aromatic (16,5%), dan esternya (10,8%)

50

Lilin (wax) Asam lemak dan esternya

30

Minyak esensial Volatile

10

Polen Protein dan asam amino bebas

5

Senyawa organic & mineral Mineral, kalium, keton, lakton, quinon, steroid, vitamin, dan gula

5

 

(Sumber : http://probiang.net/Propolis)

BAB III

METODOLOGI

 

 

3.1.  Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan dalam jangka waktu 77 hari, mulai dari tanggal 01 Februari – 17 April 2012. Dengan tempat pelaksanaan di Hatchery Departemen Agribisnis Perikanan, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Pertanian Cianjur, Jl. Jangari KM 14, Kec. Karang Tengah Kab. Cianjur, Propinsi Jawa Barat.

Penelitian ini meliputi persiapan penelitian, perlakuan pemberian pakan, pemeliharaan selama perlakuan, penghitungan tingkat kelulushidupan (Survival Rate/SR) dan pengamatan jumlah jenis kelamin benih nila merah.

3.2  Alat dan Bahan

      3.2.1.   Alat

Alat yang diperlukan dalam penelitian ini antara lain adalah :

  1. Akuarium berukuran  80 x 40 x 40 cm3 sebanyak 6 buah yang dilengkapi dengan aliran oksigen, panjang akuarium ini disekat menjadi 2 bagian sehingga ukuran ruang sekatnya menjadi 40 x 40 x 40 cm3 sebagai tempat pemeliharaan larva sampai panen untuk pengamatan jenis kelamin nila merah.
  2. Baskom/nampan bervolume 1 L, yang dipergunakan dalam pencampuran dan pemberian pakan.
  3. Sendok kayu, digunakan untuk mengaduk dan meratakan larutan propolis.
  4. Timbangan digital untuk penimbangan pakan dan benih nila merah.
  5. Serokan yang dipergunakan dalam pemeliharan dan untuk pengambilan sempel ikan.

18

Selang siphon untuk membuang kotoran pada akuarium saat pemeliharaan ikan.

19

Mikropipet untuk mengukur propolis dan alkohol yang dipergunakan dalam perlakuan pemberian pakan.

  1. Botol semprot (sprayer) untuk mencampurkan propolis dengan pakan.
  2. Jangka sorong dan mistar untuk mengkur panjang ikan.
  3. Thermometer, DO meter, pH meter, dan Amonia-Nitrogen Test Kit untuk pengukuran kualitas air.
  4. Mikroskop kamera untuk pengamatan jenis kelamin benih nila merah.

      3.2.2.   Bahan

            Bahan yang dipergunakan dalam penelitian ini antara lain adalah :

  1. Larva nila merah umur 7-10 hari sebanyak 1.000 ekor dengan ukuran yang seragam.
  2. Propolis 1 botol @ 30 ml, yang digunakan sebanyak 18 ml untuk perlakuan pemberian pakan.
  3. Alkohol 70% sebanyak 1 L yang digunakan untuk melarutkan propolis sebelum dicampurkan ke pakan.
  4. Pakan buatan dalam bentuk tepung, memiliki kandungan protein 40%  untuk benih nila merah.

 

3.3.  Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dan rancangan penelitian yang digunakan adalah dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Pemberian propolis pada pakan buatan  untuk diberikan pada benih nila merah dengan konsentrasi yang berbeda yaitu sebagai berikut :

  • Perlakuan A  = Tanpa penambahan propolis (sebagai kontrol).
  • Perlakuan B  = Penambahan propolis 3 ml/kg pakan
  • Perlakuan C  = Penambahan propolis 6 ml/kg pakan
  • Perlakuan D  = Penambahan propolis 9 ml/kg pakan

20

3.4.   Prosedur Kerja

       3.4.1.  Tahap Persiapan

            Tahap persiapan meliputi alat dan bahan, penataan akuarium dan pembuatan stok pakan ikan. Wadah yang digunakan untuk pemeliharaan adalah berukuran 80 x 40 x 40 cm3. Panjang akuarium ini disekat menjadi 2 bagian sehingga masing-masing ukuran ruang sekat adalah 40 x 40 x 40cm3. Masing-masing ruang sekat/media pemeliharaan diisi 100 ekor benih nila merah dengan volume air dalam akuarium adalah 50 liter. Untuk menyuplai oksigen, akuarium dilengkapi dengan selang aerasi. Sebelum diberi perlakuan benih diaklimatisasi terlebih dahulu selama 2 hari.

       3.4.2.  Pengkayaan Pakan dengan Propolis

Bahan propolis yang digunakan yaitu propolis komersil yang merupakan propolis lokal yang diekstrak dengan medium madu randu berkualitas. Konsentrasi propolis ini sekitar 20%, lebih tinggi dari propolis lainnya yang hanya 15%. Pakan yang digunakan adalah pakan buatan dalam bentuk tepung dengan memiliki kandungan protein 40%.

Adapun prosedur yang dilakukan sebagai berikut :

  1. Menyiapkan propolis yang akan digunakan sesuai dengan kebutuhan konsentrasi masing-masing perlakuan.
  2. Menimbang pakan yang dibutuhkan untuk larva sebanyak 3 kg pakan yang akan digunakan selama perlakuan.
  3. Propolis yang sudah disiapkan kemudian dilarutkan kedalam alkohol 70% sebanyak 250 ml/kg pakan dimasukkan kedalam botol semprot (sprayer) dengan menggunakan pipet. Botol semprot ditutup rapat dan dikocok sampai larutan propolis dan alkohol di dalamnya homogen. Larutan tersebut lalu disemprotkan merata ke pakan yang disimpan dalam baskom/nampan sambil diaduk hingga merata.
  4. Pakan dikeringudarakan hingga alkoholnya   menguap. Pakan dipersiapkan untuk diberikan selama 40 hari.

3.4.3.   

21

Pemeliharaan Larva Selama Perlakuan

Lama  waktu  perlakuan pakan dengan propolis adalah selama 40 hari. Sedangkan pemeliharaan selanjutnya diberikan pakan tanpa pengkayaan propolis sampai pengamatan/identifikasi alat kelamin sekunder terlihat jelas. Benih nila merah diberi perlakuan metode  pakan yakni Feeding Rate (FR) dan Feeding Frequency (FF). Perlakuan FR yang diberikan adalah 40%, 30%, dan 10% per 10 hari. Perlakuan FF  yang  diberikan adalah 3 kali/hari, yaitu pagi (07.00 WIB), siang (12.00 WIB) dan sore hari (17.00 WIB). Pemberian FR dan FF dilakukan sama untuk ikan perlakuan maupun pada ikan kontrol.

Selama pemeliharaan dilakukan pengontrolan kualitas air, yaitu parameter suhu, DO, pH dan amoniak media pemeliharaan yaitu mulai pada awal penebaran benih nila merah, selanjutnya secara berkala setiap 10 hari. Selain pengontrolan suhu air, dilakukan penyiphonan pada dasar akuarium apabila terdapat kotoran/sisa pakan dan pergantian air sebanyak 30% dari volume total. Selain itu, penimbangan bobot dan ukuran panjang benih dilakukan pada awal penebaran selanjutnya sampling setiap 10 hari sekali untuk mengetahui perkembangan bobot ikan dan menentukan jumlah  pakan yang  akan diberikan di minggu pemeliharaan  selanjutnya.

3.5.  Parameter Pengamatan

Pemeliharaan lanjutan benih nila merah sampai berumur 77 hari ini agar supaya jenis kelamin dapat diidentifikasi secara jelas dengan menggunakan metode morfologi yaitu pengamatan secara visual pada jenis kelamin yang terbentuk pada ikan, tahap pertama adalah menghitung tingkat kelulushidupan (survival rate/SR), kemudian dilanjutkan dengan tahap pengamatan jenis kelamin pada benih nila merah. Dalam menentukan keberhasilan teknik sex reversal ini dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Gusrina, 2008) :

3.5.1.     

22

Tingkat kelulushidupan ikan (Survival Rate/SR)

SR =  x 100%

3.5.2.      Sex reversal

% jantan  =  x 100%

% betina  =  x 100%

Idenfikasi jenis kelamin secara morfologi dilakukan secara acak pada masing-masing wadah perlakuan dengan menggunakan sampel sebanyak 30 ekor larva/akuarium. Sehingga total benih nila merah untuk sampel pengamatan nisbah kelamin jantan atau betina adalah 360 ekor. Sebaliknya, apabila dalam identifikasi jenis kelamin secara morfologi ini belum dapat diidentifikasi secara jelas maka dilanjutkan dengan analisisa berdasarkan metode histologis/asetokarmin, yaitu pengamatan gonad ikan nila merah dengan menggunakan mikroskop.

 

3.6.  Analisis Data

            Pengaruh perlakuan terhadap parameter pengamatan dianalis dengan menggunakan analisis sidik ragam dengan uji F, apabila terdapat perbedaan nyata (signifikant) antar perlakuan, selanjutnya dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan dengan derajat kepercayaan 95% (Gaspersz, 1995).

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

4.1.  Tingkat Kelulushidupan (Survival Rate/SR)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelulushidupan pada benih nila merah yang berbeda pada setiap perlakuan. Hasil analisis sidik ragam pada taraf 95% menunjukkan bahwa pemberian pakan buatan yang diperkaya propolis dengan konsentrasi 3 ml/kg pakan, 6 ml/kg pakan, dan 9 ml/kg pakan yang diberikan pada benih nila merah memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap kelulushidupan benih nila merah (Lampiran 4).

Pengamatan tingkat kelulushidupanikan merupakan faktor yang sangat penting dalam mengukur  kemampuan dan toleransi ikan untuk hidup terhadap pakan yang diberi perlakuan dengan bahan propolis. Rata-rata tingkat kelulushidupan benih nila merah selama penelitian lebih dari 67,33% pada berbagai konsentrasi pakan perlakuan. Data hasil tingkat kelulushidupanikan dari masing-masing perlakuan nila merah tertera pada Tabel 5.

Tabel  5.  Rata-rata tingkat kelulushidupan (Survival Rate/SR) nila merah selama penelitian.

 

Perlakuan

Kelulushidupan (%)

A

69,67

B

67,33

C

72,33

D

69

 

Dari hasil tersebut maka dapat digambarkan kedalam bentuk grafik sebagaimana tertera pada Gambar 5.

23

24

Gambar 5.  Kelulushidupan ikan nila merah selama penelitian

Pada gambar 5 di atas menujukan bahwa tingkat kelulushidupan tertinggi diperoleh pada pemberian pakan diperkaya propolis dengan konsentrasi 6 ml/kg pakan yaitu 72,33%, hasil ini lebih tinggi dari peneliti pada nila merah sebelumnya sebesar 65,38% dengan konsentrasi propolis 3 ml/kg pakan (Anwar, 2009), sebaliknya lebih rendah bila dibandingkan dengan hasil yang diteliti oleh Larasati (2010), yaitu 76,67% dengan konsentrasi 5 ml/kg pakan. Dari data tingkat kelulushidupan yang tinggi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan yang diperkaya propolis tidak berpengaruh negatif maupun bersifat toksin terhadap benih nila merah di setiap konsentrasi pakan perlakuan sehingga propolis layak dan sangat efektif untuk digunakan dalam teknologi budidaya sebagai bahan alami yang ramah lingkungan dan bersifat immunstimulan.

Penyebab kematian ikan terbanyak terjadi pada 10 hari awal pemeliharaan. Hal ini diyakini karena pada bak penampungan air terdapat bibit-bibit penyakit yang disampaikan oleh teknisi hatchery serta kematian ikan yang ditandai dengan adanya pendarahan pada bagian insang, sehingga harus dilakukan pencucian dan penggantian air terlebih dahulu secara total pada bak penampungan. Selain itu, penggunaan pakan dengan kandungan protein yang tinggi yaitu 40% yang diperkaya propolis serta perlakuan feeding rate 40% dari biomassa ikan dan feeding frequency 3 kali/hari, hal ini menimbulkan kekeruhan media pemeliharaan begitu cepat yang diakibatkan oleh sisa-sisa pakan, partikel tersuspensi serta hasil akhir dari metabolisme yaitu feses sehingga memberikan warna gelap pada akuarium dan menurunkan kualitas air media terutama tingginya amoniak dan rendahnya DO maupun suhu media (Lampiran 5.). Faktor lain adalah kondisi diluar kontrol seperti aliran listrik yang sering terputus, aerator yang kurang memadai (kekuatan untuk menghasilkan udara kecil), serta kurang kehati-hatian (human error) pada saat penyiponan yang sering mengakibatkan ikan ikut terbawa air  melalui selang sipon yang mengakibatkan ikan stress bahkan merusak bagian sisik dan sirip benih nila merah.

25

4.2.  Nisbah Kelamin Jantan

Nisbah kelamin jantan ikan nila merah dilakukan dengan cara mengidentifikasi morfologi benih ikan nila merah yaitu pengamatan pada alat kelamin sekunder (Lampiran 10). Pada saat itu ikan berumur 76 hari dari perlakuan. Hal ini sedikit berbeda dengan perencanaan sebelumnya bahwa setelah 2 bulan dilakukan pengamatan nisbah kelamin, namun karena pada umur tersebut dimorfisme seksual yang belum jelas antara jantan dan betina sehingga dilakukan pemeliharaan lebih lanjut. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Gusrina (2008), Setelah dilakukan aplikasi teknologi seks reversal pada individu ikan, maka harus dilakukan uji progeny. Uji progeny ini untuk menentukan apakah ikan yang telah ditreatment tersebut sudah berubah kelamin.  Terdapat dua metode yang digunakan dalam identifikasi jenis kelamin, yaitu  metode histologist/asetokarmin dan motode morfologi.

Hasil pengamatan secara morfologi alat kelamin sekunder nilai presentasi jantan pada setiap perlakuan yaitu antara 44,44 – 83,33%. Data hasil pengamatan nisbah kelamin dari masing-masing perlakuan ikan nila merah tertera pad Table 6.

26

Tabel 6. Jumlah rata-rata nila jantan dan betina hasil pengamatan

Perlakuan

              Nisbah kelamin (%)

Jantan

Betina

A

B

C

D

44,44    a

73,33    c

83,33    d

65,56    b

55,56

26,67

16,67

34,44

Keterangan : Nilai rata-rata presentase ikan nila jantan tiap perlakuan yang diikuti huruf kecil yang tidak sama memberikan pengaruh yang berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf 95%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nisbah kelamin pada benih nila merah yang berbeda pada setiap perlakuaan. Namun, dari hasil analisis sidik ragam dan uji Duncan pada taraf 95% untuk nisbah kelamin jantan menunjukkan bahwa dengan pemberian pakan buatan yang diperkaya propolis dengan konsentrasi 3 ml/kg pakan, 6 ml/kg pakan, dan 9 ml/kg pakan yang diberikan pada benih nila merah memberikan pengaruh yang sangat berbeda nyata terhadap nisbah kelamin jantan (Lampiran 6). Sedangkan hasil analisis uji sidik ragam pada taraf 5% untuk nisbah kelamin betina menunjukkan tidak berbeda nyata antar perlakuan konsentrasi (Lampiran 7).

Dari hasil jumlah nila jantan dan betina pada Tabel 6 diatas maka dapat digambarkan kedalam bentuk grafik sebagaimana tertera pada Gambar 6.

Gambar 6.  Nisbah kelamin jantan dan betina ikan nila merah

27

Pada Gambar 6 di atas menujukan bahwa nisbah kelamin jantan tertinggi diperoleh pada pemberian pakan diperkaya propolis dengan konsentrasi 6 ml/kg pakan yaitu 83,33%, hasil ini lebih tinggi dari peneliti pada nila merah sebelumnya sebesar 65,38% dengan kosentrasi propolis 3 ml/kg pakan (Anwar, 2009), dan pada nila merah oleh Larasati (2010) yaitu 76,67% dengan dosis 5 ml/kg pakan. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi propolis akan meningkatkan nisbah kelamin jantan yang dihasilkan. Hal ini berbeda dengan perlakuan dengan kosentrasi 9 ml/kg pakan yang presentasi kelamin jantannya menurun yaitu 65,56%, hal ini dikarenakan pemberian pakan yang diperkaya propolis dengan konsentrasi yang tinggi sehingga menimbulkan feedback negatif atau umpan balik negatif.

Menurut Zairin (2002), dosis hormon yang diberikan sangat berpengaruh terhadap sex reversal ikan. Pemberian dosis yang terlalu rendah akan menyebabkan proses pengarahan perubahan kelamin berlangsung kurang sempurna. Pemberian dosis yang tinggi akan menyebabkan kecenderungan ikan menjadi steril, populasi dan limbah sisa perlakuan yang dikhawatirkan mencemari lingkungan sehingga mempengaruhi perbandingan kelamin ikan. Penggunaan dosis biasanya dikaitkan dengan lama perlakuan. Dosis yang tinggi biasanya dilakukan dalam waktu yang pendek sedangkan dosis rendah diberikan dalam jangka waktu panjang.

Kemampuan propolis dalam meningkatkan nisbah kelamin ikan nila merah jantan diduga karena berhubungan dengan bahan aktif Chrysin dalam kandungan propolis sebagai salah satu jenis flavonoid. Bahan ini diyakini sebagai penghambat aromatisasi sehingga menurunkan konsentrasi estrogen yang mengarahkan kelamin menjadi jantan. Hal ini sesuai dengan pernyataan  Dean (2004), bahwa propolis memiliki komposisi yang dapat digunakan untuk pengarahan perubahan kelamin ikan menjadi jantan yaitu chrysin dan berbagai macam mineral. Chrysin merupakan salah satu bahan aktif alami yang mengandung flavonoid sebagai penghambat enzim aromatase atau yang lebih dikenal aromatase inhibitor. Aromatase merupakan enzim yang berfungsi sebagai katalis konversi testosteron (androgen) menjadi estradiol (estrogen).

4.3.

28

  Kualitas Air

Pengukuran kualitas air pada penelitian meliputi beberapa parameter yaitu, suhu, pH, oksigen terlarut (DO), dan amonia. Kualitas air diukur sebanyak 8 kali yaitu awal perlakuan, selanjutnya secara rutin setiap 10 hari sampai akhir pemeliharaan (Lampiran 5). Kualitas air setiap wadah perlakuan bervariasi, hal ini karena dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain partikel yang tersuspensi, feses, sisa pakan, tata letak wadah, cahaya, aerasi dan kepadatan ikan dalam wadah pemeliharaan. Kisaran kualitas air selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 7.

 

Tabel 7. Kisaran kualitas air sampling selama penelitian.

Parameter

Nilai optimum

Nilai selama penelitian

Suhu (oC)

pH

DO (mg/L)

Amoniak (mg/L)

25-30*

7,0-8,0*

>3*

<1*

24,0-26,0

6,38-7,56

4,9-8,7

0,54-3

Keterangan : * Nilai Optimum (Boyd, 1990 dalam Larasati, 2010)

Tingkat kelulushidupan (SR) ikan nila merah sangat dipengaruhi oleh kualitas air. Air yang kurang baik dapat menyebabkan ikan lemah, nafsu makan menurun, dan mudah terserang penyakit sehingga dapat menyebabkan kematian.

Suhu air pada media penelitian berkisar antara 24-26oC. Suhu terendah saat penelitian yaitu 24oC karena adanya faktor dari luar yaitu turunnya hujan yang membawa angin yang dingin sehingga terjadinya difusi udara kedalam air wadah akuarium yang menyebabkan suhu air media menjadi turun. Suhu terendah ini relatif terjadi pada rak akuarium yang susunannya berada paling bawah, hal ini dikarenakan kondisi lantai yang sering basah sehingga suhu pada akuarium menjadi menurun. Akibat suhu air yang rendah ini mengakibatkan nafsu makan menurun, derajat metabolisme ikan pun rendah sehingga mengakibatkan pertumbuhan ikan menjadi lambat, serta ikan mengalami stress dapat menyebabkan kematian.

29

Derajat keasaman (pH) merupakan ukuran kosentrasi ion hydrogen yang menunjukkan suasana suatu perairan. Ukuran pH adalah 1-14 dengan angka 7 merupakan angka normal. Nilai pH yang baik untuk budidaya ikan pada siang hari berkisar antara 6,5-9. Pada pH 11, ikan dapat mati, tetapi terkadang kondisi ini masih dapat ditolerir oleh ikan nila. Derajat keasaman (pH) yang ideal untuk budidaya ikan berada pada kisaran 7-8 (Arie, 2004). Selama penelitian hasil pH yang didapat adalah 6,38-7,56. Kisaran tersebut masih layak untuk kelulushidupan ikan nila merah namun lambat untuk pertumbuhannya dan pada kisaran dibawah nilai pH 6,5.

Tabel 8Hubungan antara pH air dan kehidupan ikan budidaya

(M. Ghufran et. al, 2007).

pH air Pengaruh terhadap ikan budidaya
<4,5 Air bersifat racun bagi ikan
5-6,5 Pertumbuhan ikan menjadi terhambat dan ikan sangat sensitif terhadap bakteri dan parasit
6,5-9,0 Ikan mengalami pertumbuhan optimal
>9,0 Pertumbuhan ikan terhambat

DO (dissolved ocsigen) merupakan kadar oksigen terlarut didalam air sangat diperlukan oleh organisme akuatik. Oksigen merupakan salah satu faktor pembatas, sehingga bila ketersediaannya didalam air tidak mencukupi kehidupan biota budidaya, maka segala aktifitas biota akan terhambat (M. Ghufran et. al, 2007). Kisaran DO yang didapat pada saat penelitian adalah 4,9-8,7 mg/L, melebihi nilai optimum (>3 mg/L), hal ini karena pada media pemeliharaan diberi aerasi, kadar tersebut baik untuk pertumbuhan dan kelulushidupan ikan nila merah.

30

Amoniak dalam air dapat berasal dari proses metabolisme ikan dan proses bahan organik oleh bakteri. Menurut M. Ghufran et al, (2007), pada budidaya ikan atau udang intensif yang menerapkan padat penebaran tinggi dan pemberian pakan secara intensif, penimbunan limbah kotoran terjadi sangat cepat. Sebagian besar pakan yang dimakan oleh ikan akan dirombak menjadi daging atau organ tubuh, sedangkan sisanya dibuang berupa kotoran padat (feses) dan terlarut (amonia). Feses dikeluarkan lewat anus, sedangkan amonia lewat insang (golongan hewan ammonotelic). Kotoran padat dan sisa pakan tidak termakan adalah bahan organik dengan kandungan protein tinggi yang diuraikan menjadi polipeptida, asam-asam amino dan akhirnya amino sebagai produk akhir yang terakumulasi didalam air tambak/kolam.

Berdasarkan hasil selama penelitian, kisaran amoniak yang didapat adalah 0,54-3 mg/L ini melebihi nilai optimum (<1 mg/L). Hal ini dikarenakan penggunaan pakan dengan kandungan protein yang tinggi yaitu 40% serta perlakuan feeding rate 40% dari biomassa ikan dan feeding frequency 3 kali/hari, hal ini menimbulkan kekeruhan media pemeliharaan begitu cepat yang diakibatkan oleh sisa-sisa pakan, partikel tersuspensi serta hasil akhir dari metabolisme yaitu feses sehingga memberikan warna gelap pada akuarium. Keadaan ini yang mengakibatkan tingginya amoniak pada media pemeliharaan sehingga bersifat racun yang dapat mengakibatkan rusaknya jaringan insang, dimana terjadinya pendarahan sehingga fungsinya sebagai alat pernapasan akan terganggu. Sebagai akibat lanjut, dalam keadaan kronis ikan akan mati. Pengukuran amoniak dilakukan 2 kali yaitu, pada awal penelitian dengan nilai 3 mg/L. Hal ini dikarenakan penyiponan pada media pemeliharaan 2 hari sekali. Selanjutnya penyiponan pada media pemeliharaan dilakukan setiap hari sebelum pemberian pakan pada ikan nila merah, pengukuran pada akhir penelitian dengan nilai 0,54 mg/L,

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

 

5.1.  Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :

  1. Penggunaan propolis dalam pakan buatan sangat efektif dan dapat digunakan sebagai bahan alternatif pengganti hormon 17 α-Metyl Testoesteron untuk sex reversal ikan nila.
  2. Pemberian propolis pada pakan buatan dengan konsentrasi 6 ml/kg pakan, menghasilkan jumlah nila jantan tertinggi yaitu sebesar 83,33%.
  3. Penggunaan propolis dengan kosentrasi 3, 6, dan 9 ml/kg pakan tidak berpengaruh negatif terhadap tingkat kelulushidupan ikan nila selama 77 hari. Tingkat kelulushidupan tertinggi yaitu 72,33% pada perlakuan C.

5.2.  Saran

Saran yang dapat diajukan adalah  untuk mendapatkan hasil ikan nila jantan tertinggi, dianjurkan penggunaan propolis konsentrasi 6 ml/kg pakan. Serta perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai konsentrasi 9 ml/kg pakan yang mengakibatkan feedback negatif atau umpan balik negatif ikan menjadi betina.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

31

 

DAFTAR ACUAN

Anwar, D. 2010. Sex Reversal Pada Ikan Nila Merah Orechromis sp. Melalui Pemberian Propolis Yang Dicampur Dalam Pakan Buatan. Skipsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Bogor

Anwar D., Ahmad D., dan Edriani G. 2009. Potensi Madu Sebagai Pengganti Hormon Sintetik Untuk Sex Reversal Dalam Akuakultur. Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Institut Pertanian Bogor. Bogor

Arie. 2004. Pembenihan dan Pembesaran Nila Gift. Jakarta. Penebar Swadaya

Ariyanto, D. 2010. Diferensiasi Kelamin dan Performansi Tiga Genotipe Ikan Nila yang diberi Bahan Aromatase Inhibitor hingga tahap Pembesaran. Tesis. Program Studi Ilmu Akuakultur Institut Pertanian Bogor. Bogor

Amalia. 2012. http://fisherist.blogspot.com. (Diakses  6 Mei 2012)

Dean, W. 2004. http://www.vrp.com/hormone-support/chrysin-is-it-an-effective-aromatase-inhibitor. (Diakses  09 November 2011)

Gusrina, 2008.Budidaya Ikan Jilid 1  untuk SMK. Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional

Gaspersz, V. 1995. Teknik Analisis Dalam Penelitian Percobaan. Bandung. Tarsito

Hasan, A. E. Zainal. 2010. Sehat dan Cantik dengan Propolis. Bogor : IPB Press

Iskandar, A. 2003. Budidaya Nila Merah. Bandung : Karya Putra Darwati

32

Larasati, A. K. 2010. Pengaruh Pemberian Pakan yang Diperkaya Propolis Terhadap Sex Reversal Nila. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran, Jatinangor

33

M. Ghufran., H. Kordi K, dan A. Baso Tancung. 2007. Pengelolaan Kualitas Air : dalam Budidaya Perairan. Jakarta. PT. Rineka Cipta

Suyanto, S. Rachmatun. 2011. Pembenihan dan Pembesaran Nila. Jakarta : Penebar Swadaya

Santoso, B. 1996. Budidaya Ikan Nila. Yogyakarta : Kansius

Zairin, M. 2002. Sex Reversal : Memproduksi Benih Ikan Jantan atau Betina. Jakarta. Penebar Swadaya

INTERNET :

–          Budidaya Ikan Nila

(Diakses  06 Desember 2011)

–           Propolis                             

35

Lampiran 1. Media Pemeliharaan Benih Nila Merah

  • Akuarium Pemeliharaan benih nila merah sampai umur 77 hari

Tampak dari depan

  • Tata letak wadah pemeliharaan benih nilah merah

 

B3

D1

A3

C2

B2

A1

C3

D2

D3

C1

B1

A2

Keterangan :

A = Akuarium pemeliharaan ikan perlakuan A (Control)

B = Akuarium pemeliharaan ikan perlakuan B (3 ml/kg pakan)

C = Akuarium pemeliharaan ikan perlakuan C (6 ml/kg pakan)

D = Akuarium pemeliharaan ikan perlakuan D (9 ml/kg pakan)

1,2,3 = Ulangan

36

Lampiran 2. Skema Pembuatan Pakan Perlakuan Dengan Propolis

37

Lampiran 3. Tingkat Kelulushidupan (Survival Rate/SR) Benih Nila Merah 

                       Selama Penelitian.

 

SR =  x 100%

 

Perlakuan

Jumlah nila

Awal (Ekor)

Akhir

Rata-rata

%

Ekor

%

A1

A2

A3

100

100

100

70

72

67

70

72

67

69,67

B1

B2

B3

100

100

100

69

58

75

69

58

75

67,33

C1

C2

C3

100

100

100

66

78

73

66

78

73

72,33

D1

D2

D3

100

100

100

81

69

57

81

69

57

69

38

Lampiran 4. Data Tingkat Kelulushidupan Benih Nila Merah (%)

 

Konsentrasi propolis

Ulangan

Total (Y)

Rataan

1

2

3

0 ml/kg

70

72

67

209

69,67

3 ml/kg

69

58

75

202

67,33

6 ml/kg

66

78

73

217

72,33

9 ml/kg

81

69

57

207

69

Jumlah

286

277

272

835

278,33

Data Hasil Transformasi Arcsin

Konsentrasi propolis

Ulangan

Total (Y)

Rataan

1

2

3

0 ml/kg

56,79

58,05

54,94

169,78

56,59

3 ml/kg

56,17

49,6

60,00

165,77

55,26

6 ml/kg

53,33

62,03

58,69

174,05

58,02

9 ml/kg

64,16

56,17

49,02

169,35

56,45

Jumlah

230,45

225,85

222,65

678,95

226,32

 

Perhitungan Analisis Ragam

  1. Faktor Koreksi (FK)

=

=

=     38414,43

39

Jumlah Kuadrat Total (JKT)

=

=     {38414,43

=     38639,40 – 38414,43

=     224,97

  1. Jumlah Kuadrat Perlakuan (JKP)

=

=

=     38425,92 – 38414,43

=     11,49

  1. Jumlah Kuadrat Galat (JKG)

=     JKT – JKP

=     224,97 – 11,49

=     213,48

  1. Derajat Bebas (DB)

=     (t-1) = 4-1= 3

  1. Kuadrat Tengah Perlakuan (KTP)

=

=

=     3,83

40

Kuadrat Tengah Galat (KTG)

=

=

=     26,69

  1. F Hitung   =

=

=     0,14

Daftar  Analisis Ragam

Sumber Ragam

dB

JK

KT

F Hitung

F Tabel

5%

Perlakuan

3

11,49

3,83

0,14

4,07

Galat

8

13,48

26,69

Total

11

Keterangan :  F hitung < F table = tidak berbeda nyata (non significant) pada  taraf  kepercayaan  95%

41

Lampiran 5.  Jumlah Nila Jantan dan Betina Hasil Pengamatan

IJ = (Ij/Is) x 100%

Dimana:

IJ = Persentase kelamin betina (%)

Ij = Jumlah ikan berkelamin betina (ekor)

Is = Jumlah sampel ikan yang diamati (ekor)

Perlakuan

Total ikan

(ekor)

Ikan yang diamati (ekor)

Jantan

Betina

Ekor

%

Rataan %

Ekor

%

Rataan %

A1

A2

A3

100

100

100

30

30

30

13

11

16

43,33

36,67

53,33

44,44

17

19

14

56,67

63,33

46,67

55,56

B1

B2

B3

100

100

100

30

30

30

22

20

24

73,33

66,67

80,00

73,33

8

10

6

26,67

33,33

20,00

26,67

C1

C2

C3

100

100

100

30

30

30

26

24

25

86,6780,00

83,33

83,33

4

6

5

13,3320,00

16,67

16,67

D1

D2

D3

100

100

100

30

30

30

20

18

21

66,67

60,00

70,00

65,56

10

12

9

33,33

40,00

30,00

34,44

42

Lampiran 6.  Jumlah Nila Jantan (%)

Konsentrasi propolis

Ulangan

Total (Y)

Rataan

1

2

3

0 ml/kg

43,33

36,67

53,33

133,33

44,44

3 ml/kg

73,33

66,67

80,00

220,00

73,33

6 ml/kg

86,67

80,00

83,33

250,00

83,33

9 ml/kg

66,67

60,00

70,00

196,67

65,56

Jumlah

270,00

243,34

286,66

800,00

266,67

Data Hasil Transformasi Arcsin

Konsentrasi propolis

Ulangan

Total (Y)

Rataan

1

2

3

0 ml/kg

41,15

37,23

46,89

125,27

41,76

3 ml/kg

58,89

54,70

63,44

177,03

59,01

6 ml/kg

68,53

63,44

65,88

197,85

65,95

9 ml/kg

54,70

50,77

56,79

162,26

54,09

Jumlah

223,27

206,14

233,00

662,41

220,80

 

Perhitungan Analisis Ragam

  1. Faktor Koreksi (FK)

=

=

=     36565,58

43

Jumlah Kuadrat Total (JKT)

=

=     {

=     37618,78 – 36565,58

=     1053,2

  1. Jumlah Kuadrat Perlakuan (JKP)

=

=

=     37501,71 – 36565,58

=     936,13

  1. Jumlah Kuadrat Galat (JKG)

=     JKT – JKP

=     1053,2 – 936,13

=     117.07

  1. Derajat Bebas (DB)

=     (t-1) = 4-1= 3

  1. Kuadrat Tengah Perlakuan (KTP)

=

=

=     312,04

44

Kuadrat Tengah Galat (KTG)

=

=

=     14,63

  1. F Hitung    =

=

=     21,33

Daftar  Analisis Ragam

Sumber Ragam

dB

JK

KT

F Hitung

F Tabel

5%

Perlakuan

3

936,13

312,04

21,33

4,07

Galat

8

117.07

14,63

Total

11

Keterangan :  =  Berbeda nyata (sangat significant) pada  taraf  kepercayaan  95%

 

Uji  Beda Jarak Berganda  Duncan

Sx =    = 1,274

Nilai SSR dan LSR pada derajat bebas 8 dan p: 2,3 dan 4

LSR= SSR x Sx

            P

2

3

4

SSR 5%

3,26

3,39

3,47

LSR

4,15

4,32

4,42

45

Perbandingan Jantan Antar Perlakuan

Konsentrasi  Propolis

Rata-rata

Selisih

LSR

Notasi

A

D

B

0 ml/kg

9 ml/kg

3 ml/kg

6 ml/kg

41,76

54,09

59,01

65,95

12,33

17,25

24,19

4,92

11,86

6,94

4,15

4,32

4,42

a

b

c

d

Keterangan : Tiap perlakuan yang diikuti huruf kecil yang tidak sama memberikan pengaruh yang berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf 95%.

46

Lampiran 7.  Jumlah Nila Betina (%)

Konsentrasi propolis

Ulangan

Total (Y)

Rataan

1

2

3

0 ml/kg

56,67

63,33

46,67

166,67

55,56

3 ml/kg

26,67

33,33

20,00

80,00

26,67

6 ml/kg

13,33

20,00

16,67

50,00

16,67

9 ml/kg

33,33

40,00

30,00

103,33

34,44

Jumlah

130,00

156,66

113,34

400,00

133,33

Data Hasil Transformasi Arcsin

Konsentrasi propolis

Ulangan

Total (Y)

Rataan

1

2

3

0 ml/kg

48,79

52,71

43,05

144,55

48,18

3 ml/kg

31,05

35,24

26,56

92,85

30,95

6 ml/kg

21,39

26,56

24,04

71,99

24,00

9 ml/kg

35,24

39,23

33,21

68,45

34,23

Jumlah

136,47

114,51

126,86

377,84

137,36

 

Perhitungan Analisis Ragam

  1. Faktor Koreksi (FK)

=

=

=     11896,92

  1. Jumlah Kuadrat Total (JKT)

=

=     {

=     15548,15 – 11896,92

=     3651,23

47

Jumlah Kuadrat Perlakuan (JKP)

=

=

=     13127,93 – 11896,92

=     1231,01

  1. Jumlah Kuadrat Galat (JKG)

=     JKT – JKP

=     3651,23 – 1231,01

=     2420,22

  1. Derajat Bebas (DB)

=     (t-1) = 4-1= 3

  1. Kuadrat Tengah Perlakuan (KTP)

=

=

=     410,34

  1. Kuadrat Tengah Galat (KTG)

=

=

=     302,53

  1. F Hitung    =

=

=     1,36

48

Daftar  Analisis Ragam

Sumber Ragam

dB

JK

KT

F Hitung

F Tabel

5%

Perlakuan

3

1231,01

410,34

1,36

4,07

Galat

8

2420,22

302,53

Total

11

Keterangan :  F hitung < F tabel = tidak berbeda nyata (non significant) pada  taraf  kepercayaan  95%

49

 

Lampiran 8.  Biomassa, Kualitas Air dan Mortalitas Benih Ikan Nila Merah Selama Penelitian

Tanggal pengambilan data : 01 Februari 2012

Perlakuan

Biomassa

Kualitas Air

Mortalitas

Natalitas

Ket

Panjang Sempel

rata-rata (cm)

Bobot Sampel

Total rata-rata (g/100 ekor)

Suhu (°C)

pH

DO (mg/L)

Amoniak (mg/L)

A1

1,3

14,45

25,2

7,42

5,1

100

A2

1,3

14,45

24,7

7,56

5,2

100

A3

1,3

14,45

25,4

7,51

5,0

100

B1

1,3

14,45

24,9

7,39

5,0

100

B2

1,3

14,45

25,3

7,38

5,0

100

B3

1,3

14,45

25,5

7,41

4,9

100

C1

1,3

14,45

24,8

7,49

5,2

100

C2

1,3

14,45

25,3

7,41

5,0

100

C3

1,3

14,45

24,9

7,40

5,1

100

D1

1,3

14,45

25,5

7,40

4,9

100

D2

1,3

14,45

24,9

7,38

5,1

100

D3

1,3

14,45

24,8

7,38

5,2

100

50

Tanggal pengambilan data : 10 Februari 2012

Perlakuan

Biomassa

Kualitas Air

Mortalitas

Natalitas

Ket

Panjang Sempel

rata-rata (cm)

Bobot Sampel

Total rata-rata (g/100 ekor)

Suhu (°C)

pH

DO (mg/L)

Amoniak (mg/L)

A1

1,9

20,1

25,7

6,41

5,0

3

20

80

A2

1,9

20,1

24,8

6,53

5,0

3

17

83

A3

1,9

20,1

25,6

6,39

5,3

3

21

79

B1

1,9

20,1

24,9

6,41

5,1

3

23

77

B2

1,9

20,1

25,6

6,42

5,1

3

29

71

B3

1,9

20,1

26,1

6,51

5,2

3

17

83

C1

1,9

20,1

24,8

6,50

4,9

3

12

88

C2

1,9

20,1

26,3

6,39

5,0

3

19

81

C3

1,9

20,1

26,1

6,38

5,1

3

17

83

D1

1,9

20,1

26,3

6,42

5,1

3

14

86

D2

1,9

20,1

26,0

6,51

5,1

3

18

82

D3

1,9

20,1

24,8

6,51

5,1

3

31

69

51

Tanggal pengambilan data : 20 Februari 2012

Perlakuan

Biomassa

Kualitas Air

Mortalitas

Natalitas

Ket

Panjang Sempel

rata-rata (cm)

Bobot Sampel

Total rata-rata (g/100 ekor)

Suhu (°C)

pH

DO (mg/L)

Amoniak (mg/L)

A1

2,5

42,05

25

6,66

7,7

28

72

A2

2,5

42,05

25

7,04

7,6

22

78

A3

2,5

42,05

24

7,08

7,7

24

76

B1

2,5

42,05

24,5

6,98

7,8

29

71

B2

2,5

42,05

25,5

7,05

7,8

31

69

B3

2,5

42,05

24

7,09

7,8

22

78

C1

2,5

42,05

25

6,94

7,7

29

71

C2

2,5

42,05

24

7,07

7,6

20

80

C3

2,5

42,05

25

7,08

7,7

25

75

D1

2,5

42,05

24,5

7,01

7,7

18

82

D2

2,5

42,05

24,5

7,07

7,7

30

70

D3

2,5

42,05

24,5

7,08

7,7

41

59

52

Tanggal pengambilan data : 01 Maret 2012

Perlakuan

Biomassa

Kualitas Air

Mortalitas

Natalitas

Ket

Panjang Sempel

rata-rata (cm)

Bobot Sampel

Total rata-rata (g/100 ekor)

Suhu (°C)

pH

DO (mg/L)

Amoniak (mg/L)

A1

4,2

85,25

24,5

7,21

8,7

31

69

A2

4,2

85,25

25

7,21

8,5

27

73

A3

4,2

85,25

24,7

7,26

8,2

31

69

B1

4,2

85,25

24,5

7,24

8,4

30

70

B2

4,2

85,25

25,3

7,23

8,4

39

61

B3

4,2

85,25

24,5

7,23

8,3

24

76

C1

4,2

85,25

24

7,24

8,2

32

68

C2

4,2

85,25

24,7

7,26

8,2

22

78

C3

4,2

85,25

24,5

7,26

8,2

26

74

D1

4,2

85,25

24,5

7,27

8,2

18

82

D2

4,2

85,25

24,5

7,26

8,1

30

70

D3

4,2

85,25

25

7,28

8,1

43

57

53

Tanggal pengambilan data : 10 Maret 2012

Perlakuan

Biomassa

Kualitas Air

Mortalitas

Natalitas

Ket

Panjang Sempel

rata-rata (cm)

Bobot Sampel

Total rata-rata (g/100 ekor)

Suhu (°C)

pH

DO (mg/L)

Amoniak (mg/L)

A1

5,7

135,45

25,6

7,3

8,5

32

68

A2

5,7

135,45

24,8

7,0

8,7

28

72

A3

5,7

135,45

25,7

7,1

8,7

31

69

B1

5,7

135,45

24,9

7,1

8,7

30

70

B2

5,7

135,45

25,7

7,1

8,5

41

59

B3

5,7

135,45

25,6

7,2

8,7

25

75

C1

5,7

135,45

24,9

7,2

8,7

32

68

C2

5,7

135,45

25,5

7,0

8,6

22

78

C3

5,7

135,45

25,5

7,4

8,7

27

73

D1

5,7

135,45

25,5

7,1

8,7

19

81

D2

5,7

135,45

25

7,4

8,7

30

70

D3

5,7

135,45

24,7

7,4

8,7

43

57

54

Tanggal pengambilan data : 20 Maret 2012

Perlakuan

Biomassa

Kualitas Air

Mortalitas

Natalitas

Ket

Panjang Sempel

rata-rata (cm)

Bobot Sampel

Total rata-rata (g/100 ekor)

Suhu (°C)

pH

DO (mg/L)

Amoniak (mg/L)

A1

6,3

220,7

24,5

6,93

8,3

32

68

A2

6,3

220,7

25

6,96

8,1

28

72

A3

6,3

220,7

24,7

6,96

8,3

33

67

B1

6,3

220,7

24,5

6,96

8,4

31

69

B2

6,3

220,7

25,5

6,98

8,3

41

59

B3

6,3

220,7

24,5

6,93

8,2

25

75

C1

6,3

220,7

24

6,93

8,2

33

67

C2

6,3

220,7

24,7

6,92

8,1

22

78

C3

6,3

220,7

24,5

6,93

8,1

27

73

D1

6,3

220,7

24,5

6,94

8,1

19

81

D2

6,3

220,7

24,5

6,94

8,1

30

70

D3

6,3

220,7

24,5

6,94

8,3

43

57

55

Tanggal pengambilan data : 01 April 2012

Perlakuan

Biomassa

Kualitas Air

Mortalitas

Natalitas

Ket

Panjang Sempel

rata-rata (cm)

Bobot Sampel

Total rata-rata (g/100 ekor)

Suhu (°C)

pH

DO (mg/L)

Amoniak (mg/L)

A1

7,2

712,1

26

7,21

8,5

32

68

A2

7,2

712,1

26

7,20

8,5

28

72

A3

7,2

712,1

25,5

7,20

8,5

33

67

B1

7,2

712,1

25,5

7,20

8,6

31

69

B2

7,2

712,1

26

7,22

8,4

42

58

B3

7,2

712,1

26

7,20

8,5

25

75

C1

7,2

712,1

25,5

7,21

8,5

34

66

C2

7,2

712,1

26

7,21

8,6

22

78

C3

7,2

712,1

26

7,21

8,4

27

73

D1

7,2

712,1

26

7,21

8,4

19

81

D2

7,2

712,1

26

7,21

8,4

31

69

D3

7,2

712,1

25,5

7,21

8,5

43

57

56

Tanggal pengambilan data : 17 April 2012

Perlakuan

Biomassa

Kualitas Air

Mortalitas

Natalitas

Ket

Panjang Sempel

rata-rata (cm)

Bobot Sampel

Total rata-rata (g/100 ekor)

Suhu (°C)

pH

DO (mg/L)

Amoniak (mg/L)

A1

8,6

937,8

26

7,24

9,6

0,54

32

68

A2

8,6

937,8

25,5

7,27

9,6

0,54

28

72

A3

8,6

937,8

26

7,27

9,6

0,54

33

67

B1

8,6

937,8

26

7,25

9,5

0,54

31

69

B2

8,6

937,8

26

7,25

9,6

0,54

42

58

B3

8,6

937,8

26

7,25

9,6

0,54

25

75

C1

8,6

937,8

25,5

7,25

9,3

0,54

34

66

C2

8,6

937,8

26

7,24

9,6

0,54

22

78

C3

8,6

937,8

26

7,26

9,6

0,54

27

73

D1

8,6

937,8

26

7,26

9,4

0,54

19

81

D2

8,6

937,8

26

7,26

9,5

0,54

31

69

D3

8,6

937,8

25,5

7,26

9,3

0,54

43

57

57

Lampiran 9. Alat dan Bahan Penelitian

  • Alat dan bahan pembuatan stok pakan buatan yang dicampur dengan propolis
  • Timbangan digital untuk penimbangan pakan
  • Timbangan digital untuk penimbangan ikan
  • Mistar untuk pengukuran panjang ikan
  • DO meter
  • Alat pengukuran amoniak

58

  • pH Meter
  • Kaca loop 10x (kaca pembesar) untuk pengamatan kelamin sekunder ikan nila.

59

Lampiran 10.  Perbedaan Jenis Kelamin Jantan dan Betina

  • Ikan nila merah jantan
  • Ikan nila merah betina

RIWAYAT HIDUP

 

 

Penulis dilahirkan di Desa Loleolamo, Kec. Maba Selatan, Kab. Halmahera Timur, 09 Agustus 1984, adalah anak keenam (bungsu) dari enam bersaudara dari pasangan Bapak Saleh Malik dan Ibu Jena. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Inpres Loleolamo, Kab. Halmahera Timur pada tahun 1997. Pada tahun 2000, penulis berhasil menyelesaikan pendidikan lanjutan pertama di SLTP Negeri 3 Maba, Kab. Halmahera Timur. Pada tahun 2003, penulis berhasil menyelesaikan pendidikan di SMU Swasta Bicoli, Kab. Halmahera Timur.

Pada tahun 2004, penulis mendapat kesempatan melalui Seleksi Beasiswa di Kab. Halmahera Timur untuk Program Diploma III yang diselenggarakan kerjasama antara VEDCA Cianjur dan UNSOED Purwokerto, dengan konsentrasi studi Pengelolaan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Biologi. Penulis menyelesaikan Diploma III pada tahun 2007 dengan melakukan magang industri pada sebuah perusahan budidaya tiram mutiara CV. Duta Aru Indah, Kab. Halmahera Selatan, dan menyusun laporan yang berjudul “Pembenihan dan Pembesaran Budidaya Tiram Mutiara (Pinctada maxima)”.

Pada tahun 2011, penulis melanjutkan pendidikan Diploma IV melalui program alih jenjang Diploma III ke Diploma VI yang diselenggarakan atas kerjasama antara VEDCA Cianjur dan UNPAD Bandung pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.   Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan Perikanan (S.St.Pi) dalam bidang perikanan penulis melakukan penelitian dan menyusun Laporan Tugas Akhir yang berjudul ”Pengaruh Pemberian Pakan Buatan yang diperkaya Propolis Terhadap Sex Reversal dan Tingkat Kelulushidupan Benih Nila Merah (Oreochromis sp.)”

 

 

 

60

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s